Kamis, 20 Juli 2017

Solo Backpacker Solo - Yogya, 2017

Sebuah tulisan tentang perjalanan backpacker kemarin, Solo – Yogyakarta. Yha jadi isi dm instagram saya cukup diramaikan dengan message pertanyaan: “Kak sendiri?” “Kak kok sendirian?” “Kak backpacker kemana?” “Kak ikut…”. Kira-kira intinya seputar itu. Ya betul, backpacker sendiri. Kok sendiri? Karna lagi kepingin sendiri. Yea explain a lot. Mungkin berbagai filosofi yang sekiranya bisa menjawab pertanyaan tersebut perihal alasan solo backpacker bisa ditemukan di alinea-alinea berikutnya.

22:35 WIB, Kereta Ekonomi Mantab Premium, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Solo Jebres.
07/07/2017

Jum’at malam, sepulang dari kumpul dengan organisasi semasa kuliah di daerah Benhill, saya langsung berangkat lagi ke stasiun Pasar Senen via ojek online. Alhasil cukup agak diliatin dengan nanar malem-malem masuk cafe sembari mbopong-mbopong carrier. Memang sengaja ambil jadwal kereta paling malam karna pertimbangan jam pulang ngantor, dan supaya nyampe tujuan di pagi hari juga. Kebetulan waktu booking cuma tersisa kereta ini untuk tujuan Solo, dan tinggal tersisa 3 seat. Langsung sprint lah saya ke Indomaret.

Sampai di stasiun Pasar Senen, langsung tuker tiket di mesin cetak tiket mandiri, lanjut baris di antrian Kereta Mantab Premium. Dalam hati nyinyir, namanya harus Mantab banget?! Lalu baru tau, kepanjangan dari Madiun-Tambahan Premium. Hahaha kesel gila ternyata akronim.

Masuk di dalam kereta, saya duduk dengan mba-mba muda. Tujuannya sama, stasiun Solo Jebres. Bukan seperti kereta Ekonomi yang saya tumpangi seperti backpackeran biasanya. Yang ini lebih bagus, seatnya nggak vertical 90 derajat, toiletnya lebih luas dan “mendingan”, restorasinya juga nggak kayak moving bar selayaknya Ekonomi biasa. Hampir sepanjang malam saya menghabiskan waktu di restorasi. Pesan satu kopi hitam, duduk bersama petugas keliling dan petugas restorasi. Jadi sejujurnya, salah satu alasan saya membetahkan diri duduk disana tidak lain dan tidak bukan, karena kedinginan. Dan jaket ketinggalan…

Sampai di stasiun Solo Jebres sekitar pukul 8.00 WIB. Toilet stasiun penuh seketika dengan penumpang yang baru turun, berebut air untuk cuci muka. Saya ikut mengantri di belakang ibu-ibu yang goyang-goyang kaki—menahan pipis. Boro-boro kepikiran mandi, cuci muka pun mesti nyempil-nyempil di antara becekan westafel. Cukup merasa sedikit bersihan, saya segera memulai perjalanan saya.

Selamat datang di Solo Kota Budaya.

Pasar Gede Hardjonagoro Surakarta

Pasar Gede Hardjonagoro menjadi destinasi pertama saya. Jaraknya tdak jauh dari stasiun Solo Jebres, akhirnya saya memutuskan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit sampai tiba di depan pangkalan becak sekitar pasar. Berniat mencari sarapan, saya bertanya-tanya pada salah satu Bapak pengemudi becak perihal tempat sarapan sekitar sini. Beliau mengarahkan untuk masuk ke dalam pasar, “Iku akeh ing pasar” katanya. “Matursuwun Pak”. Kondisi dalam pasar yang ramai dan umpel-umpelan, mau tidak mau saya berjalan di antara sela-sela jalan antar dagangan yang sempit, beraroma khas pasar pada umumya: semrawut. Saya bertemu lagi dengan tiga orang ibu-ibu yang mengenakan kaos hijau muda cerah seragam bertuliskan “Soto Senggon”. Beliau menyapa saya duluan, menanyakan mbak e iki arep ngendi. Ya mungkin mereka bingung gelagat saya sepanjang jalan celingak-celinguk mencari tempat “yang katanya banyak tukang makanan” kata bapak Becak tadi. Sedang sepanjang jalan saya hanya mendapati ayam mentah dipotong fillet, sayur mentah diikat-ikat, beras ditimbang. Paling-paling beberapa kedai makanan di pojok-pojok pasar. Akhirnya ketiga ibu Soto Senggon memberi pencerahan “Kae lho sing.. iku, kui..”. “Saya cari pecel Bu”. “Pecel?” Ketiganya berdiskusi, seakan merumuskan settingan waze secara komunikata. Saya ditunjukkan sebuah tempat makan pojokan setelah beberapa lama ngobrol di sela-sela perut keroncongan. Namanya bu Lastri, bu Suminem, dan bu Muji. Perangainya lugu, dibalut dalam wajah berseri-seri dan tutur dialeknya yang ayu. Saya mengeluarkan kamera dari tas kamera saya, ketiganya serontak saling mendekat, mengarahkan pandangan ke lensa kamera, siap dijepret. Hahaha nyenengi banget. Saya tertawa, langsung mengarahkan kamera saya, mengabadikan pose ketiganya dalam beberapa kali jepretan. “Cuantik tenan Ibu, kaya umur 30 taun”. Mereka senyum-senyum gemas seketika saya perlihatkan hasil jepretan di layar kecil kamera. Perut keroncongan saya hilang seketika, barangkali jadi kenyang menelan keakraban hangat yang bisa muncul dalam waktu singkat. Saya berpamitan, berterimakasih sudah menunjukan jalan.

Bu Lastri, Bu Suminem, Bu Muji

“Bu foto sama saya juga yuk”

"Ini sih lihatnya kemana, mbakyu?"

Pecel sambel Tumpang bu Hari, Pasar Gede. Seporsi dihargai enam ribu rupiah, plus teh tawar panas 1500 rupiah, jadi 7500 rupiah… Ketika di Jakarta paling-paling hanya dapat nasi dan kobokan. Selesai mengisi perut, saya berjalan keluar pasar. Mata saya beralih ke sebuah dagangan kecil samping pintu pasar, agaknya makanan unik. Kompyang!! Makanan yang selama ini ibu saya cari di seluruh belahan dunia dan belum nemu-nemu juga. Saya beli beberapa, sembari bertanya-tanya akses ke Keraton dari sini naik apa. “Becakan wae” ujarnya. Seketika jari-jari tukang becak di sekitar saya langsung menunjuk-nunjuk angka satu yang diacung-acungkan, tanda menawarkan. Saya memilih salah satu dari mereka, Bapak pengemudi becak yang terlihat paling tua. Yha lantaran saya memang hobby dan sangat tertarik berkomunikasi dengan orang-orang  “wis umur”.

Perjalanan dari Pasar Gede menuju Keraton Surakarta ditempuh selama 10 menit bersama becak Pak Darman. Di atas becak Pak Darman saya pertama kali merasakan ayemnya kota Solo. Terpal becak sengaja saya buka untuk meluaskan pandangan. Hiruk pikuknya lembut, terbalut dalam aksentuasi tata dan laku penduduk yang apik. Ini adalah kali pertama saya ke kota Solo. Lalu lalang jalanan terasa ramah, seolah diperbatasi oleh pagar-pagar beton putih kuno Keraton punya. Saya mengedarkan pandangan, beberapa kali ngobrol dengan Pak Darman. Mungkin beliau bingung, lha iki panas-panas cewek sendirian minta nggak pake terpal, senyam-senyum lihat jalanan.

Pukul 10.45 saya tiba di Keraton Surakarta. Sebelumnya saya sudah janjian terlebih dulu dengan salah satu abdi dalem kenalan teman saya (yang kemudian dikenalkan ke saya), Pak Toto namanya. Saya menunggu beliau di pelataran Keraton, duduk di sebelah seorang nenek yang menyuapi dua orang cucunya. Saya mulai membuka percakapan. “Putrane nggih, Bu?”, “Ora, putu ku”. “Oalah, sopo jenenge?” Dua bocah laki-laki meraih tangan saya, bersalaman di tengah kesibukkan mulut menelan makanan. Saya berbincang seputar kota Solo yang panas jebret di siang itu. Delman Keraton berlalu lalang ditumpangi penumpang lokal hingga mancanegara, bolak-balik melewati gerobak es cendol khas Solo yang berjajar rapi menunggu penumpang delman turun dan segera kehausan. “Mbak nya sendirian po?” Baiklah, pertanyaan ke seribu hari ini. Kali ini saya punya jawaban lain, “Nunggu abdi dalem kenalan saya, Bu”. Fyuh, aman.. Dan siap menyiapkan jawaban template lagi untuk pertanyaan yang sama kemudian.

Okay, ini sedikit tips untuk teman-teman (terutama perempuan) yang ingin solo backpacker. Ada kalanya kita mesti pintar-pintar bohong saat menjawab pertanyaan seperti “sendirian?”. Lihat kondisi si penanya dan lokasi kita ditanya. Kalo memang terkesan creepy, jawab saja dengan tegas kalo kita bareng teman. Atau orang tua, atau siapapun yang dirasa bisa jadi perlindungan. Pintar-pintar baca kondisi, karna nggak semua lokasi untuk berpergian sendiri itu bisa dikategorikan tidak berbahaya, aman-aman saja.

Akhirnya saya bertemu Pak Toto, beliau sekalian mengajak istrinya. Kami bertiga berjalan-jalan masuk ke dalam Keraton. Mengisi tapak demi tapak dengan obrolan hangat dan ringan. Pak Toto bercerita seputar budaya Solo, sejarah Keraton, tradisi orang sini, hingga rantai silsilah keluarga kecilnya. Tanpa mesti melapor atau apapun, saya boleh langsung masuk saja ke dalam. Oh jelas, sebelah saya abdi dalem Keraton sini.

Masuk ke dalam Keraton, saya berkeliling sebentar, lalu duduk di bangku pelataran berjajar dengan Pak Toto dan Bu Istri. Dua tiga wejangan beliau sampaikan, sepaket dengan berpenggal alinea cerita hidup yang terkorelasi dengan tuntunan Jawa kental. Saya mengiyakan tiap titik ceritanya, kadang menimpali, berpendapat. Tutur katanya cakap, berpengetahuan tinggi, namun terkemas dengan rendah hati. Beliau bercerita tentang buku-buku yang sudah ditulisnya. Pantesan! Jelas saja beliau penulis. Tak beberapa lama beliau memanggil seorang abdi dalem Keraton lainnya, Pak Narso, kakak dari istri Pak Toto. Saya diajak berkeliling Keraton oleh Pak Narso, dijelaskan pelbagai macam sejarah, filosofi tiap bangunan, siapa raja, siapa ratu, Kusno kecil dan bung Karno dewasa, hingga Ibu Megawati, dan masih banyak lagi. Suaranya berat, tatapannya begitu mantap, aksentuasi gerakannya seolah menggambarkan apa yang disebut-sebut ningrat. Di akhir perbincangan, beliau memberi pesan pada saya: Kesuksesanmu akan tercapai, dengan kamu banyak mendoakan kedua orang tua. Saya tertegun, tatapannya seperti menusuk, penuh doa. Saya mengucapkan terimakasih banyak sebelum beliau mesti buru-buru menemani tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan, ingin berkeliling.

Pak Narso dan Bu Istri

Seusai berkeliling, saya diajak mampir ke rumah Pak Toto yang masih berlokasi di komplek Keraton. Rumahnya persis di belakang Keraton, sederhana namun hangat. Saya melepas sepatu, melungguh di ruang tamu. Ibu Istri keluar dengan membawa dua piring Mie Toprak untuk saya dan Pak Toto santap siang, sengaja dimasakki katanya. Wah iki mantap iki. Dengan basa-basi gombal dicampur malu-malu elegant, saya ahirnya melahap juga. Dan langsung habis. Hahaha. Jadi gitu memang, di adat tanah Jawa, ketika disuguhi makan, suatu kehormatan untuk tuan rumah jika makanannya dihabiskan. Ya kebetulan jadi enak kan..

Siang itu kami kembali bercerita, mengerucut pada politisasi Indonesia. Masing-masing dari kita memiliki pandangan, persepsi untuk berpendapat, namun tetap terbatas pada hakikat kebenaran dan ketidakbenaran adalah relatif, kadang subversif. Pernyataan-pernyataan argumentatif Pak Toto diselingi dengan kutipan dari buku-buku tebal lama yang tertata rapi di sebelahnya. Saya mendelik ke arah koleksi-koleksi buku di raknya yang berseling dengan figura foto-foto keluarga. Siang itu membuahkan sangat banyak pengalaman hidup yang ditularkan, positifitas hidup terhadap agama, negara, tanpa lupa untuk selalu melihat ke bawah. Tak lama saya pamit undur diri, bersalaman dengan Pak Toto, Bu Istri, dan anak sulungnya, mengucap banyak terimakasih. “Masih ada destinasi yang lain”. Betapa pengalaman yang sangat berharga menerima jamuan warga Keraton yang begitu menyentuh, pun bermakna.


Mie Toprak

Bersama Bu Istri dan Pak Toto

Lihat langit di atas selepas hujan reda, dan kau lihat pelangi. Seperti kau disini, hadirkan Sriwedari…

Yapp, Taman Sriwedari. Berawal dari rasa penasaran kenapa tempat ini sampai dilagukan (?) Semakin tertarik setelah tau ada pula jejeran toko buku bekas disana. Ya jadi saya memang sangat gemas dan teramat terobsesi untuk mengoleksi berbagai macam buku bekas. Ada sensasi tersendiri ketika baca buku dengan lembar kertas menguning, kadang sudah kecokelatan, atau ditulisi kotretan oleh pemiliknya yang lama. Yea just because most of times, I’m just way too… lawas. Perjalanan dari rumah Pak Toto menuju Taman Sriwedari ditempuh dengan ojek online atas referensi Pak Toto. Mau cari akses Batik Solo Trans (BST) atau Bus Tingkat Werkudara, tapi waktu saya tidak cukup banyak untuk memenuhi itinerary yang direncanakan. Saya berjalan dari gapura besar nan apik Taman Sriwedari, masuk ke dalam halaman gapura, menengok kanan kiri berharap mendapati sebidang rumput yang disebut “Taman”. Hanya ada Gedung Wayang Orang (GWO) di ujung jalanan  aspal. Barangkali sepanjang jalan ini yang dilagukan, Setapak Sriwedari.

Taman Sriwedari

Langkah saya terhenti di suatu angkringan minuman masih di dalam komplek Taman Sriwedari. Penjualnya nenek-nenek dan seorang ibu-ibu, bisa dipastikan putrinya. Seorang Bapak-bapak sudah duduk menyilangkan kaki menikmati es kopi hitam bersanding puntung rokok. Saya mendekat, duduk di sampingnya. Panas yang semakin jebret di siang itu memang terasa pas dikancani es kopi, ditambah sensasi es batu dari air mentah. “Es Good day Vanilla 1 nggih Bu”. “Gud dei.. Gud dei..”. Gumam beliau sembari terus mencari sasetan kopi instan yang saya maksud, seolah akan menyaut. Nenek Rip’ah (kalau saya tidak salah dengar), masih terlihat sehat dan tatak di umurnya. Saya mengajaknya berbincang, paralel dengan sautan Bapak penikmat kopi sebelah. Perbincangan yang tidak terlampu berkonten, namun mampu membuat siang hari saya lebih “adem”. Saya memang selalu memperkenalkan diri kepada beberapa orang yang saya temui, hingga mereka berbalik memperkenalkan diri. Biasanya orang-orang yang berinteraksi cukup larut dengan saya, atau yang baru saja saya minta bantuan, atau sebaliknya. Mungkin ini perbedaan Ibukota dan kota berjiwa desa. Warga dari keduanya pada dasarnya sama, sama-sama rakyat Indonesia yang hakikatnya ramah, sama-sama manusia yang hakikatnya adalah baik. Perbedaan hanya terletak di titik bagaimana kita membawakan diri terhadap warga di daerah tertentu. Kultur budaya, dialek bahasa, tata dan laku. Ibukota keras, lahan-lahan kosong yang semakin terkikis dengan gedung-gedung beringas, harga sandang pangan papan yang tak dirasa ramah untuk sebagian besar penghuninya, dan akhirnya termarginalkan. Jumlah penduduk semakin membludak, warga desa berurban mencari iba Ibukota. Masing-masing dari mereka tak perlu perduli nyinyiran Bu A, sikutan Pak B, sikut balik Pak T, yang penting perut saya kenyang! Tapi mungkin ada yang terlupakan, tertimbun stereotype Jakarta yang begitu kental. Di balik itu semua mereka akan tetap menjadi lakon manusia dan warga Indonesia; santun, ramah, dan berbudaya. Yang saya senangi dari kota di Jawa, tanpa perlu membawakan diri sedemikian rupa, dengan satu kali bertegur sapa mampu meruntuhkan benteng antara si tamu dan si warga.

Kepada Bapak peminum kopi sebelah dan Nenek pemilik angkringan saya undur diri. Langkah saya berlanjut menuju jejeran toko buku bekas Sriwedari. Aaaa how I love toko buku bekas!! Saya berjalan sepanjang trotoar, sesekali mengubek-ngubek buku bekas yang tertata berantakan di rak paling depan. Penjualnya beragam, dari mulai anak muda, ibu-ibu, sampai bapak-bapak tua. Sayangnya buku yang saya cari tidak ada, Catatan Pinggir tulisan Goenawan Mohammad edisi ke empat. Kalau mau lebih lengkap mesti ke Gladak katanya. Tak perlu pikirku. Berjalan di sepanjang trotoar dengan pemandangan beribu buku saja sudah menyegarkan mata.

Kios Buku Mbak Yuli, Jual/Beli Buku Baru dan Bekas

Tak hanya toko buku bekas, ada pula terapit toko komputer bekas, Tik Komputer, toko percetakan, jasa pengetikan skripsi. Menarik sekali. Toko-toko kecil yang terkesan antik dalam aksen kontemporer. Saya berhenti di salah satu toko buku dengan penjual ibu-ibu bersama tiga orang anaknya, yang pula bersebelahan dengan penjual bapak-bapak dengan tiga orang anaknya—ramai! Ke-enam anak itu memandangi saya, barangkali excited lantaran saya mengalungi si Nikon sahabat perjalanan. Saya berbalik badan, menengok ke arah mereka. Tangan saya bergerak meninggikan posisi kamera, lalu mereka serontak berpose dan saling tertawa. Pemandangan seperti ini, selalu menjadi titik saya menikmati dan mensyukuri hidup. Dalam beberapa kali jepretan, anak-anak lugu itu sudah merasa puas. Tak lama, sang ibu ikut berkumpul—menagih diabadikan pula. Haha baiklah! Saya tak mau kalah, momen mahal bersama mereka tak boleh dilewatkan dari koleksi memoar saya. “Semuanya liat kamera ya, selfie!”. Hasil jepretan lensa mata ikan saya pertontonkan ke mereka, membuat satu persatu senyum mengembang begitu sumringah. Kami duduk bersama sebentar, memperbincangkan apapun yang ingin dipertanyakan. Saya bertanya seputar akses ke Kampoeng Batik Laweyan, destinasi saya selanjutnya. Bisa jalan kaki ujarnya, tapi dua kilo… tiga kilo lah. Ah sepertinya bukan pilihan yang tepat. Di akhir perbincangan saya pamit undur diri. Mereka kembali mengembangkan senyum disertai ucapan terimakasih yang begitu hangat. Saya mencium tangan sang ibu, dilanjutkan dengan anak-anak yang balik mencium tangan saya. “Sampai ketemu lagi”. Saya tersenyum, tak kalah sumringah


Karna bahagia itu sederhana :)

Panas jebret hari itu mulai menjinak. Cahaya tipis matahari sore berpendar memantulkan bayangan tubuh perempuan yang menggendong carrier 35L dan tas kamera di pundak kanan. Destinasi selanjutnya yaitu Kampoeng Batik Laweyan. Solo memang sangat terkenal dengan batiknya. Tak heran kalau kampung batik menjadi salah satu wisata yang selalu muncul ketika kamu mengetik keyword di google “Wisata Kota Solo yang Wajib Dikunjungi”.  Kampung ini ditandai dengan palang di depan gang pinggir jalan besar. Jalan kecil sepanjang gang diperbatasi dengan tembok putih usang menuju rumah-rumah warga dan pabrik batik itu sendiri. Di sebelah kanan jalan langsung terlihat salah satu Toko Batik terkenal berikut dengan ruangan produksi yang memang diperutukkan untuk ditonton oleh pengunjung. Saya hanya masuk sebentar, melihat ibu-ibu berkain sedang membatik begitu telaten. Saya pernah belajar membatik semasa SMA, tapi kalau tidak salah cantingnya malah beleber ke baju saya sendiri.

Di sepanjang gang perkampungan berjejer rumah warga berukuran rata-rata hampir sama. Tipikal rumah dengan teras ubin sepetak, tak berpagar, namun aman-aman saja. Sore itu cerah, bocah-bocah penghuni setempat kesana kemari, ceriwis dan petakilan. Beberapa main pistol-pistolan air, lempar-lemparan batu, yang kena batu jadi si pengejar. Haha permainan macam apa! Saya menghampiri tiga orang anak bersandar di sepedanya. Agaknya sedang beristirahat mengontel. Kami berkenalan, mereka kompak menyebutkan nama bergantian. Zahra, Caca, Ardi. “Aku Astrid”. *suara melengking sok imut, pasang muka baik, biar nggak kabur*. Ya jadi teman-teman backpacker, harus pintar-pintar mengondisikan pembawaan diri, dengan siapa dan dimana kalian berbicara. Kami jadi jalan bersama, menelusuri gang pelan-pelan. Mereka menyesuaikan ontelan sepedanya supaya sepadan dengan langkah kaki saya. Bermacam cerita terlontarkan dalam bahasa Indonesia campur aduk Jawa. Bahkan anak kecilpun bertanya, “Kakak pacarnya mana?” Semacam tingkat lanjut dari pertanyaan, “Kakak sendirian?”. Lah dek, ini lagi nanyain pacar. Akhirnya saya bercerita, seputar kehidupan di Jakarta. Saya bercerita, batik buatan ibu kalian laris manis di pasar ibukota. Mereka tertawa, lalu balik menceritakan kisah membatik ibunya masing-masing. Saya bercerita, anak-anak kecil seperti mereka harus terus belajar dan berkembang, pun turut membantu ibu melestarikan budaya kota tercinta. Barangkali anak-anak di kampung ini memiliki keuntungan lebih dibanding anak-anak kota metropolitan, megapolitan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan sentuhan langsung sang ibu, dan sirkumstansi yang begitu hangat, tak terpetakkan pagar tinggi atau lift rumah susun mewah. Zahra, anak paling tua diantara ketiganya masuk ke salah satu rumah. Mengambil kertas dan alat tulis. Sedang saya beralih mengobrol dengan salah satu petugas toko batik, menanyakan kembali akses untuk kesana-kesini. Sore itu pukul 4.00, saya bergegas pergi ke destinasi selanjutnya. Zahra, Caca, dan Ardi sudah berdiri di samping saya, ketiganya saling lihat-lihatan, malu-malu. Caca, anak berusia tengah-tengah diantara ketiganya memberikan sebuah lipatan kertas menyerupai surat. Saya bergegas membuka dan serontak dihadang oleh ketiganya. Rahasia!! Haha baiklah. Khawatir mereka semakin malu-malu, secarik lipatan kertas itu segera saya masukkan ke dalam kantong jeans saya. Kami berpamitan setelah saya meminta foto bersama. Anak-anak kecil yang selalu antusias ketika saya keluarkan kamera dan mengiming-iming foto bersama, lalu biasanya ketagihan. Zahra, Caca, dan Ardi, membuat sore itu begitu berkesan. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan :)

Sepeda Sore

Ardi, Caca, Astrid, dan Zahra

Singkat, namun mengharukan… :”)

:")

Destinasi terakhir perjalanan saya di kota Solo yaitu desa Sukoharjo. Desa, seperti tempat untuk saya merasakan pulang, melepas penat sejenak dari hiruk pikuk metropolitan yang begitu sesak. Saya kembali memanfaatkan kepraktisan ojek online untuk mencapai lokasi. Jaraknya kurang lebih 7 kilo dari kampung Laweyan. Tidak sedikitpun terasa jauh ketika kanan kiri jalan disuguhi pemandangan sawah hijau berhias petani yang sedang mengurus bajakan. Desa Sukoharjo mayoritas dibentangi oleh persawahan, perkebunan, dan rumah-rumah warga melipir di sepanjang jalan kecil bertanah yang membelah sawah-sawah.

Tidak banyak  tempat yang saya kunjungi di desa ini, menimbang ketika itu kaki saya sudah cukup pegal untuk terus berjalan. Sebagian besar waktu saya habiskan duduk-duduk di pembatas pinggir sawah, cukup dekat dengan lahan yang sedang dibajak. Saya menyapa bapak petani dari jauh, lantaran mesti copot sepatu kalau mau mendekat. Bapak petani balik menyapa, melambaikan tangan, supaya manuvernya lebih terlihat. Sore itu cerah, seolah mentransfer tenaga surya ke tiap-tiap sumsum tulang petani yang berpeluh mengendarai kerbau pembajak. Saya meraih buku bacaan sepekan terakhir, kumpulan esai karya Cak Nun. Bacaan bagus yang penuh konsiderasi cerdas. Terbitan lama, namun masih relevan hingga kini. “Indonesia Bagian dari Desa Saya”. Terasa sedemikian pas dengan patio seating alami tempat saya duduk dan membaca.

Senja, alam, buku, berlatar Scott McKenzie. Semoga hari yang baik juga selalu menyertaimu dirimu.

Pukul lima petang saya bergegas pulang. Pulang dalam arti kembali ke tempat saya akan bermalam, kota Yogyakarta. Rencana backpacker kali ini memang mencakup dua kota, dan kebetulan dapat tiket pulang dari Stasiun Lempuyangan, tidak ada lagi. Saya menuju stasiun Purwosari, mengejar kereta Prameks tujuan Solo – Yogya yang sialnya sudah kehabisan. Hanya tersisa kereta Jaka Tingkir untuk tujuan Yogyakarta, lima kali lipat harganya. Apa boleh buat. Daripada saya mesti ngeteng di malam hari. Sore itu begitu cerah, memberikan nuansa lebih menarik pada jalanan depan stasiun Purwosari. Becak-becak terparkir, ditunggui oleh masing-masing pengemudinya yang tertidur di jok terlapis kain merah, kuning, atau bersarung spanduk partai. Sirkumstansi syahdu yang membuat saya meluangkan waktu sejenak untuk bersender di tembok pagar stasiun, sembari menyapa Bapak Tukang Becak yang tidak sedang tidur. Gaung nada dering bel stasiun berbunyi, Kereta Jaka Tingkir yang saya tumpangi telah terparkir di jalur 3, siap dimuati.

Stasiun Purwosari, Solo

Sugeng Rawuh Ing Ngayogyakarta.

Pukul 19.00 saya tiba di stasiun Lempuyangan. Perjalanan Solo – Yogya via kereta ditempuh kurang lebih satu jam. Satu jam yang saya manfaatkan untuk tidur dan selonjoran. Sebetulnya nggak ada destinasi khusus di Yogya, hanya ingin bersantai menikmati malam hari bersama kopi malam di keramaian. Yapp, Kopi Joss! Kali kedua saya nangkring disini dan memesan Kopi Joss panas. Kopi hitam yang dimasukkan arang. Boleh juga ditambah es, jadi Es Kopi Joss. Cita rasa khas kopi angkringan Yogyakarta, tanpa perduli efek samping daripada menelan kandungan arang yang entah apa saja.

Saya duduk di bangku tepat depan sang penjual, menimbang saya hanya sendirian. Asik sekali kalau banyakan, tersedia tempat duduk lesehan dengan tiker-tiker yang membentang. Sebelah saya duduk seorang Ibu dengan anak perempuannya. Gemuk, putih, berambut lurus tebal. Gerakannya hanya seputar menggigit sate, sesekali minta difoto seketika saya sedang membenarkan kuncir rambut dengan kamera depan. Rasanya saya hendak mencari kantong kresek besar, ingin mbungkus bawa pulang

Tak afdol rasanya kalau tidak menyempatkan malam minggu di Malioboro. Ramai sesak dengan pelancong dari berbagai kota, bahkan negara. Saya berjalan menelusuri sepanjang trotoar, kadang terhenti saking penuhnya. Malam itu saya menyeringai, Yogyakarta, mengapa rupamu menyerupai Jakarta? Sangat disayangkan!

Puas sudah seharian berjalan, saya memutuskan segera menuju tempat penginapan. Kalau di internet si pemilik menklaim jaraknya hanya 400 meter dari pusat keramaian Malioboro. Hotel Grand Inna?! Bukan. Sebuah rumah backpacker yang memang diperuntukkan untuk para backpacker yang tidak berbudget besar. Permalam hanya 57ribu. Hahaha bayangkan! Satu kamar berisi empat orang, dengan kasur model susun sehingga tidak membutuhkan lahan besar. Kamar mandi terpisah dari kamar, satu untuk bersama. Kamarnya bersih, banyak stopkontak, cukup semriwing dari silir semilir kipas angin yang diset berputar. Satu orang penginap disediakan satu selimut dan handuk, gratis isi ulang aqua dan cemilan kuping gajah yang sengaja dipajang didepan kamar. Lokasi penginapan berada di pinggir sungai perkampungan samping Malioboro. Jadi ini yang di claim “hanya berjarak 400 m dari pusat keramaian”. Ya memang Malioboro, hanya saja turun sedikit. Pemilik penginapan seorang Bapak-bapak warga setempat, tinggal persis di depan rumah backpacker tersebut. Bapaknya ramah, menyambut kedatangan saya dengan hangat dan segera menjelaskan letak kamar, kamar mandi, hingga “SOP” menginap disini. Saya kebagian di kasur tingkat dua. Hanya ada nama saya yang tercatat di daftar penginap depan pintu. Saya meluruskan kaki, memijat kaki kanan berkali-kali. Sakit banget!! Khawatir ditempeli “sesuatu” sepeninggal dari Keraton, saya langsung buru-buru mandi, berdoa, dan tidur. Suatu benefit besar dalam hidup saya, bisa tidur dimanapun, dengan nyenyak, hanya dalam hitungan detik. Hahahaha the perks of being pelor lebih tepatnya.

Rumah Backpacker Yogyakarta

Pagi hari di Yogyakarta yang selalu dirindukan. 
Bangun di pagi itu dan mendapati kamar saya sudah penuh dengan tiga cewek backpacker lainnya. Bagaimana mereka bisa masuk pikirku. Sedang semalam kamar sudah terkunci dengan posisi kunci tergantung di grendel pintu. Barangkali saking pingsannya semalam, suara berisikpun tidak ada pengaruhnya. Saya segera mandi, menata ulang bawaan dalam carrier, lalu berangkat. Belum sempat berpamitan dengan teman sekamar lainnya, lantaran ketiganya masih terlelap semua. Saya duduk di undakan teras rumah yang berhadapan dengan rumah warga sembari memakai sepatu. Di hadapan saya duduk seorang Ibu paruh baya sedang menanak nasi di atas tungku, berjejer dengan suaminya yang sedari tadi mengipasi arang. Selamat pagi, Bu, Pak. Saya menyapa. Membuka obrolan sedikit perihal sarapan dekat sini, berlanjut pada tujuan destinasi saya selanjutnya. Tidak lama saya segera berpamitan, hendak mencari sarapan, dan mengejar kereta pulang.

Sugeng Enjang, Bu.

Kereta Ekonomi Mataram Premium, Stasiun Lempuyangan – Stasiun Pasar Senen, mengantarkan saya kembali di pagi itu.

Perjalanan dekat dan singkat yang memberi kesan dan makna tersendiri untuk saya. Tak ada tujuan khusus selain ingin berjalan dan bertemu banyak orang. Bukan perihal solo backpacker atau beramai-ramai, namun value dari perjalanan itu sendiri. Impresi yang ditinggalkan di setiap langkah dan momen dengan orang-orang yang dilewati. Sesenang itu ketika eksistensimu mampu memberikan semburat senyum bagi orang lain dengan cara sederhana, tanpa perlu waktu lama. Ketika eksistensimu mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain, pun sebaliknya. Melewati garis batas zona nyaman diri yang ternyata mampu menciptakan zona nyaman lainnya, bahkan lebih substansial. Bukankah pengalaman hidup, tak perlu perduli darimana mereka berasal?

Jumpa lagi di perjalanan selanjutnya.



Happiest traveler,
Astrid A. Dirgawijaya.

Minggu, 02 Juli 2017

Kopi & Kontemplasi


14:05. Silaturahmi dengan kopi pasca Hari Raya.

Tanpa beralih dari spot seating di balik jendela besar, muka lalu lalang jalanan. Lalu lalang yang ramai oleh pejalan kaki berembel-embel masih libur pasca lebaran. Kakek dengan Cucu, Cucu dengan Nenek, Suami menggandeng Istri, Istri menggendong Anak, gerombolan Mahasiswa dengan konversasi normatif, Tukang Parkir yang menstandar dua seluruh motor—meminimalisir tempat. Hanya satu dua Pedagang yang unjuk gerobak, barangkali yang lain masih di kampung halaman. Saya memulai ritme pelan antara mengedar pandangan dan meneguk kopi, masam pahit ringan yang sudah lama tidak dijumpai. Menulis kata demi kata tulisan ini.

Udah lama, nggak nulis..

Beberapa pekan disibukkan dengan rutinitas urban Ibukota. Mengalihfungsikan tendensi atas waktu dan tenaga berdasar urgensi dan objek konsentrasi. Bentuk memperjuangkan sebuah priotitas, ada puncak gunung-gunung lain dulu yang harus dicapai, baru kembali ke objek destinasi yang lain.

Kembali, mengaduk latte art kopi signature barista langganan. Menyumpal telinga dengan kabel berlagu lawas kontemporer. Selayaknya moment mahal untuk berkontemplasi, mengimaji perjalanan ala backpacker menelusuri gunung, laut, sawah, bukit, danau, perahu nelayan, becak, kopaja ringsut, truk ketengan, gudeg, tempe bacem, telur dadar rasa minyak, gado-gado siram, wedang ronde, es bandrek, teh tawar panas, yang selalu mengakhiri langkah mengunjungi desa-desa, menyatu dengan warga dan kopi hitam nusantara.

Ya boleh jadi dibilang, selalu menjadi suatu ketertarikan tersendiri untuk saya berjalan ke desa-desa. Nggak hanya jalan sembari mengabadikan pemandangan di balik lensa;  ada komplemen-komplemen lain yang seolah  menghadirkan perjalanan lain—lebih elementer—menyelami kehidupan warga desa lewat dialek berbahasa dan laku budaya. Bermula dari yang paling sederhana, sambutan hangat warga di balik raut wajahnya yang naif, megembangkan tutur senyum lunak berbalik sapa. Kedua matanya menyipit, terkikis pahatan garis tua di ujung pelipis. Sembari berdiri, kadang melungguh di pelataran rumah, biasanya bersingkap kain batik (atau sebenarnya sarung?), bersemangat mengangkat cangkir kopi hitam yang baru setengah diaduk, tanda menawarkan. Saya ikut duduk, turut diseduhkan kopi, sudah siap membena(kan) berparagfraf cerita. Tentang musim padi menguning, kebun kopi dekat sini, tradisi tiap bulan, atau tahun, atau kebijakan fiskal lumbung sebelah, persepsi kinerja Pak Menteri, hingga sentuhan Pak Presiden yang tidak terasa lagi. Ah, kangen.

Sedikit prolog dari sebuah memoar, melanjutkan kilas balik tentang perjalanan manusia yang berdoa..

Mimpi dan harapan. Tiap-tiap manusia memiliki keduanya, plottingan diri untuk tahun-tahun ke depan. Bermacam latar belakang berkomplot referensi, mengemas cerminan masa depan yang mampu membangunkan tiap-tiap mereka dari tidurnya, untuk bangkit menghidupkan mimpi secara nyata. Tanpa sadar memunculkan energi substansial untuk terus berjalan sampai puncak, melawan medan sedemikian terjal, bahkan kadang tak terlihat titik terang. Berliku-liku, ditambah pula terpaan bongkahan batu. Lalu kamu meraih tongkat untuk menguatkan pijakkan, yang pula tak cukup kuat. Kamu melempar temali, mengaitkan ke bongkahan batu sekian meter di atas pandangan, yang kelak akan menggelinding pula. Tersiar suara-suara yang tak lain teriakkan provokatif untuk kembali ke bawah, melupakkan bendera di atas puncak. Lalu kamu membangun tenda, meleperkan matras, berlindung menunggu pagi—menagih cahaya matari. Sepanjang malam yang tak hanya untuk pejam dan tertidur, namun menumatkan seribu doa agar selalu terlindung. Waktu fajar yang lebih terang dari tengah malam lalu, membuka pelan matari di ufuk timur. Terlihat puncak yang kini tak berkabut, teraih tongkat yang kiranya lebih kuat untuk menopang, teraba tebing yang tepat untuk kau kaitkan temali. Tapak demi tapak tetap menanjak berlika-liku, namun itulah jalan. Selang sekian waktu kamu tiba di puncak, menggapai bendera yang tertancap di sela-sela tanah berkapur perlambang puncak. Menengok kembali jalan yang telah dilewati, tersenyum menyeringai di balik peluh yang tumpah. Mengingat kau berjalan sendiri, alih-alih menuntunmu mengenal jati diri lebih jauh. Mengingat tenda malam tadi, tempat berlabuh menahan ego diri manusia, mengalihkan usaha pencapaian dunia menjadi penyerahan atas dunia sepenuhnya—terus berdoa. Bahwa insha Allah akan selalu ada jalan, untuk mereka yang benar berjuang…

Sedikit alegori pragmatis atas sebuah pencapaian, yang sejatinya menarasikan pengalaman diri saya. Menjadi seorang ambisius yang idealis, seorang yang “kalo udah mau, ya nggak akan berhenti”, kemudian menaruh plottingan pencapaian pada masing-masing “stage of life”. Toh mungkin terdengar klise, bahwasanya memperjuangkan mimpi yang semata-mata tidak hanya untuk duniawi dan diri saya sendiri. Atau terkesan diplomatis, ketika memperjuangkan cita-cita yang pula mampu menebarkan manfaat bagi orang lain. Lalu hadir respon skeptis yang seolah meremehkan, mengernyitkan pelipis perlahan seraya memandang sebelah mata. Dan ketika anggapan remeh orang lain menjadi kekuatan substansial untuk saya terus berjalan lebih cepat, meninggalkan bukti konkret bahwa tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang terus berusaha dan berdoa, dan tahu harus berjalan kemana.

And when the trivial assumption of others becomes a substantial force for me to keep struggling harder, leaving a concrete proof that nothing is in vain for those who keep going, and never stop believing.

Lalu begini yang saya tahu; Harapan, mimpi, bukanlah hanya perihal jejak langkah yang dilewati, parameter visual pencapaian duniawi, namun titik-titik parsial untuk mampu disyukuri.


Kembali, siang yang kini berganti petang, masih dari balik jendela besar. Terang sore berpendar, menembus partisi jendela, menyoroti cangkir kopi yang bersisa perempat bagian—semakin masam. Kembali berkontemplasi, mengikuti gerakan impulsif manusia berlalu-lalang di ujung hiruk pikuk jalanan. Pensil raut tumpul, Notebook berlabel kantor, dan kopi sedari tadi siang, semoga mampu mengimpresikan tiap bagian dari tulisan ini.





Jumpa lagi,

02/07.