Rabu, 14 Desember 2016

#catcalling

Yha nulis terus yha. Ketauan banget pengangguranya. Gapapa.


Sedikit ingin menyumbang opini dari apa yang sedang kerap dipermasalahkan khalayak kaum wanita. Based on my point of view—my way of living in any circumstances.

Mungkin mas dan mba sudah sering baca berita, dengar kabar, pun mendapati postingan terkait "Catcalling".

Catcalling, atau yang dimaknai sebagai: Pelecehan terhadap perempuan; melakukan hal-hal bertendensi seksual. Sebagian besar perempuan, women in general, sejatinya bakal merasa risih/kurang nyaman saat berada di kondisi tersebut. Dipanggil-panggil—yang terasa seperti digoda/diganggu—baik hanya selewat atau bahkan sampai agresif. Lalu muncul buah omongan kalo kalo yang salah ada di pihak perempuannya; yea you know, karna cara berpakaian si perempuan yang dianggap 'mengundang'. Balutan rok pendek, atau baju ketat, nyablak, armless, backless, topless, apapun. Barangkali bibit perkaranya itu? Tidak juga. Jangankan rok pendek, perempuan berhijab pun kerap diperlakukan demikian. Jadi ya, mungkin bisa dikonklusikan bibit perkara tidak lahir dari kesalahan murni pihak perempuan, betul?

Kurang lebih itu. Lalu ini sudut pandang gue pribadi.
Gue sebagai cewek yang sering kemana-mana sendiri semacam sudah cukup khatam dengan ornamen-ornamen jalanan seperti demikian:

Kiw
Neng
Neng kamana
Neng ojek? Gojek deh??
Mbak baju biru
Mbak baju putih
Aqua kak? Gorengan?? *ngejar*
Prikitiw
Bunda?
((KENAPA JADI BUNDA))
Si teteh pulang?
Teh barangkat yah?
Teh naha sorangan (teh kenapa sendirian)
Teteh Assalamualaikum.
........
Yha mas, walaikumsalam.

Dan celetukan-celetukan lain sekena nya. Entah kenapa gue sama sekali nggak merasa terdistraksi dengan hal itu. As long as bukan di tempat yang creepy, nggak ada tindak laku kejahatan, kontak fisik, atau ucapan kurang senonoh, I don’t feel abused, at all. Gue menganggap itu semua adalah bentuk atensi tiap orang—apapun bentuknya. Begini lho mbak, catcalling itu pada dasarnya karna si oknum “kepingin aja”, toh mereka memang bukan intended to insist any good responses. Tinggal jalan melengos, lupakan, selesai. Kecuali kalo memang merasa dikurang ajari, ya terserah mbak nya mau gimana.

Most of times, ketika celetukan si amang-amang tersebut terdengar seperti sapaan lumrah, justru gue balik sapa, atau gue senyumin. Gue adalah orang yang sangat merasakan benefit daripada kenal dengan banyak amang-amang. Untuk gue yang sering berkelana sendiri, yang padahal kurang tau medan, yang pula suka nggak tau mau kemana, seketika diberi pencerahan arah dan dimudahkan sampai ke tujuan; berkat pertolongan amang-amang tersebut. Misalnya pernah begini, Bapak supir angkot yang awalnya godain, malah gue samperin karna kebetulan gue nggak tau harus naik jurusan mana (waktu itu belum ada gojek dll). Awalnya gue nanya buat ke tempat tujuan gue saat itu harus naik angkot trayek apa, ternyata bisa naik angkot si Bapak supir penggoda ((penggoda)), Bapak supir tadi. Dan dalam perjalanan, gue justru diarahkan dengan detail, bahkan, ditungguin sampe dapet angkot selanjutnya, bahkan…. tadinya disuruh nggak usah bayar. Atau yang paling sering, ketika gue nggak bisa parkirin mobil/motor, “Mba tunggu luar aja”, pun sebaliknya ketika gue nggak bisa ngeluarin mobil/motor, “Mba sini kuncinya”. Berasa valet parking sob. Padahal di parkiran stasiun.

Ketika banyak perempuan yang mengeluhkan catcalling tersebut, lalu solusi yang muncul terdengar terlalu instan. Ditegur, lalu sudah? Ditimpuk payung, lalu menyelesaikan masalah? Diluar kondisi bahwasanya benar pelaku catcalling yang salah, gue pribadi bukan orang yang bisa intervensi terhadap hidup orang lain—who is unrelated so close to me. Bukan kapasitas gue untuk merubah orang; membuat orang jadi seperti yang hanya kita harapkan. Kapasitas gue sebagai makhluk sosial adalah mengevaluasi diri dan berubah menjadi lebih baik, lebih diharapkan orang lain. Toh seindah-indahnya menjadi sosok manusia, adalah sosok yang bermanfaat bagi manusia lain. Pun doanya akan lebih mengalir.

Jadi intinya begini mbak, kita sebagai perempuan, pada dasarnya memang ingin dihargai oleh siapapun, dan menolak dilecehkan, dengan bagaimanapun. Tapi bukankah perempuan bisa melindungi dirinya sendiri, dengan menempatkan dirinya secara bijaksana? Kita nggak mesti mendemokan emansipasi secara fisik, atau perang komunikasi verbal, pun non verbal. Implementasi dari emansipasi sederhana, ada kalanya perempuan dituntut untuk keluar dari comfort zone perihal semakin mengasah daya resiliensi dan adversitas. Nggak ada salahnya untuk mengevaluasi diri terlebih dulu sebelum menyalahkan keadaan. Experience is not always the best teacher of life, but evaluated experience is. Nggak selalu perempuan adalah kaum yang selalu dilindungi pria hanya karna garis batas notabene “lebih lemah”. Perempuan kuat, adalah perempuan yang mampu meninggikan martabatnya dari positifitas cara pandang, hati, pikiran, perbuatan, atas dasar keteguhan ilmu agama dan pendidikan. Insha Allah, hidup mbak nya akan dimudahkan.


Mungkin kiranya cukup sekian. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau ucapan. Semoga emanispasi wanita lebih mampu disuarakan, daripada dikeluhkan segamblang itu.


Salam sejahtera untuk kita semua.
Astrid Astari





Kamis, 08 Desember 2016

....Tentang rasa syukur.


Manifestasi dari realita perjalanan; ibarat melewati sebuah jembatan, kita lalu tersadar masih ada sejumlah orang yang bekerja sebaik-baiknya hingga kita mampu melintasi jurang dengan jurang.


Prolog dari sebuah cerita, memulai tulisan saya tentang rasa syukur.


Selasa siang di kota Hujan. Hari itu jadwal saya berangkat ke Kota Kembang perihal tes pencarian kerja. Satu hari sebelum hari-H, supaya bisa bermalam dahulu setidak-tidaknya. Perjalanan Bogor – Bandung selalu saya tempuh dengan transportasi bus, yang berhenti dan berangkat dari terminal Baranangsiang Bogor, persis seberang keluar tol. Semuanya berlabel bus AC, namun bermacam: bus cukup mewah full AC, pun bus agak kumuh full AC alam. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih empat jam jika jalanan normal—tidak mandek di Cikarang atau Padalarang. Duduk di bus selalu saya selingi dengan menyumpal earphone di telinga, sesekali membaca buku, lalu ketiduran memandangi macet di Bekasi, membuka bekal makan siang di pintu tol Cikarang. Seolah sudah sangat hafal dengan rute perjalanan—saking berulang-ulang.

Ada yang menarik dari perjalanan dengan bus. Setiap kali saya sampai di terminal, melongok mencari palang trayek bus, suara yang familiar serontak menyaut: “Teteh ini Bandung barangkat Bandung”. Suara nyaring kenek bus terminal Baranangsiang yang sudah cukup akrab. Rautnya penuh brewok tidak bermodel, badannya kuyu, menyelempangkan handuk penuh peluh di pundak kanan, kadang di kiri. Beliau mengantarkan saya sampai dapat bangku kosong, lalu berpesan: teteh hati-hati di jalan. Saya membalas senyum, berterimaksih. Kali pertama saya menumpangi bus trayek Bogor – Bandung, saya memang sempat bercakap cukup lama dengan beliau, sebab takut salah naik. Yang kedua kalinya, beliau ternyata masih hafal. Si teteh jaket jeans nu kamari, katanya. Beberapa menit sebelum keberangkatan, sekelompok pengamen yang sama selalu unjuk kebolehan lagunya di dalam bus. Usai berkeliling menyodorkan kantong permen kosong ke semua penumpang, pengamen itu kemudian menghampiri bangku saya, seolah kami teman lama. Berbeda dengan Bapak kenek, si teteh nu rajin ka Bandung, kalau kata mereka. Namun dengan imbuhan pesan yang sama: teteh hat-hati di jalan. Saya membalas senyum, melafalkan aamiin dalam hati.

Ada yang menarik dari perjalanan dengan bus: bermacam penumpang, kenek, pengamen, Pak sopir, tukang cangcimen, tukang aqua-mijon, tukang gorengan, sampai tukang koran. Ada yang menarik dari membeli bukan untuk menukar uang dengan barang dagangan, tapi untuk sekadar meringankan.

Ketika itu saya merasakan takjub yang membatin, kemudian membidik. Berbagai peluh, keluh akan pencarian kerja dan harta, sementara baru saja menyaksikan elemen lingkungan yang seolah mengajarkan untuk menapaki hidup dengan rasa syukur, bukan pragmatisme yang kabur. Pragmatisme yang terasa seperti semboyan: “asalkan hasilnya baik”, baik yang tidak mempersoalkan untuk siapa dan bagaimana pula?

Saya memutar playlist berikutnya, kembali tertidur.

Pukul 16.00 bus keluar Tol Pasir Koja, sebentar lagi berhenti di Terminal Lewipanjang, kota Bandung. Setiap kali ke kota ini, saya selalu menumpang tidur di kostan teman—bahkan sudah seperti saudara—yang memang kuliah dan bekerja di kota Kembang. Teman pemilik kosan belum pulang kerja, lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan menghabisi petang. Mana tahu dapat teman bercakap, pun setidak-tidaknya subjek tegur sapa akrab.

Saya berjalan kaki menyusuri Jalan Braga. Kali pertama menjejaki langkah di jalan ini, membuat saya jatuh hati. Sore itu hangat, toko-toko mulai dari indomaret, rumah makan, hingga warung kopi berjajar klasik, hiruk pikuk kendaraan tidak memekik. Dua tiga pedagang jalanan menggelar dagangannya di pinggir trotoar; semakin hidup. Pelukis yang merangkap pedagang lukisan memajang masterpiece-nya bak pameran, pedagang kue tradisional yang menyimpan dagangannya di dalam bakul tertutup plastik tipis transparan. Langkah saya terhenti pada salah satu bangku jalanan yang memajang bunga-bunga dalam ember. Adalah milik Bapak penjual bunga mawar merah, pink, dan biru. Tiap tangkai dililitkan plastik transparan bermotif, menyisakan batang hijaunya yang dibiarkan terkulai panjang. Basa-basi menanyakan ‘satunya berapa’, sebagai media memasuki basa-basi berikutnya.

Namanya Pak Dirman, saya sempat berkenalan. Wajahnya tenang, tidak banyak ekspresi; hanya saja seringkali membenarkan posisi topinya yang toh tak banyak merubah. Dengan dialek sunda kental, beliau bercerita seputar jenis bunga dagangannya. Bukannya hanya mawar dan mawar?

Ketenangan yang dialektis, seolah mengamalkan hidup adalah untuk tenang, toh hidup setelah mati pun tak lepas dari doa: semoga beristirahat dengan tenang. Ketenangan yang dialektis, seolah luput akan kemelut dunia fana. Ketika orang-orang di luar sana sibuk berteriak menyerukan Republik untuk ganjal Presiden kontroversial itu pajaki perusahaan negara Adikuasa, atau pemilih millenial yang sibuk menagih calon Gubernur DKI perihal macet Ibukota, atau bahkan cerita Bapak tua yang membelikan Android untuk anaknya dengan pecahan dua ribu rupiah, supaya mau bersekolah. Ketenangan yang dialektis, sehingga tak mesti ada kesadaran palsu—mistifikasi, sebagai cara si tertindas mempersamakan diri dengan sang penindas, melarikan diri dari kepedihan dengan menggabungkan diri pada pihak yang kuat.

Ketenangan yang dialektis, seolah mengajarkan bahwa parameter bahagia tidak lah terukur, sampai mereka benar-benar bisa bersyukur…

Pada Pak Dirman saya pamit undur diri, melanjutkan langkah kaki. Menunggu waktu magrib, saya menempatkan diri di patio seating sebuah kedai kopi. Tak lama hadir konversasi dengan pelanggan sebelah; seorang perempuan berumur 29 tahun. Bermula dari meminjamkan powerbank hingga berkisah tentang bisnis kami masing-masing. Karna begini yang saya tahu: masing-masing manusia adalah sebuah sosok tubuh konkret—berpijak pada sebuah tempat dan terkait akar di suatu sterotype makhluk sosial yang selalu menarik. Kembali pada sore yang hangat, seolah menuntun saya menuju alam bawah sadar, menelungkupkan kedua telapak tangan, kembali mengucap syukur di sore itu.



Astrid Astari
Bandung, 2016