Selasa, 22 November 2016

Tentang dialog malam itu...


Malam hari, sebelas tiga puluh
Membekam telapak tangan dalam poket sweater, terkepal
Lamat-lamat terdengar lagu lawas dari kabel telinga. Temponya melangut
Menapak tergontai, menendang kerikil pelan-pelan, menyeka kubangan sisa hujan
Kembali memutar memori,
Tentang dialog malam itu...
Menanyakan dua tiga konflik yang sudah diulang-ulang, seolah sekadar meyakinkan
Menagih konklusi yang akhirnya toh masih saja mengambang
Lalu hadir sepasang lakon berdialog dalam satu diri,
“Padahal asertif saja”
Asertif
Salah seorang lakon menyaut pertanyaan,
“Jadi sebenarnya,”―lebih dalam, “Seperti apa yang benar dibutuhkan?”
“Dengan apa seharusnya bersimpul; excuse atau retensi?”
Dialog itu mati.  Lalu mentransformasi simpul pikiran ke hati—dua arah
Menghadirkan bingung-bingung yang tidak ramah
Barangkali bingung yang lebih bertendens pada: masih mencari kemungkinan yang paling baik?
Tidak juga
Kemudian ada melankolisme di dalamnya
Merapuh kembali, mudah runtuh; kalau kamu faham
Kalau Tuhan-mu memang berkehendak demikian
Tentang dialog malam itu,
Membawa kebenaran dan kekaburan semakin terasa sumbang
Namun yang saya tahu, memurkai perasaan bukankan tak ada menanggung dosa?
Dan bukankah, ada yang lebih menarik daripada meratapi sampah dunia?


***

A’udzubillahi minasy syaithonir rojim
Bismillahirrahmanirrahim,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar