Selasa, 22 November 2016

Tentang dialog malam itu...


Malam hari, sebelas tiga puluh
Membekam telapak tangan dalam poket sweater, terkepal
Lamat-lamat terdengar lagu lawas dari kabel telinga. Temponya melangut
Menapak tergontai, menendang kerikil pelan-pelan, menyeka kubangan sisa hujan
Kembali memutar memori,
Tentang dialog malam itu...
Menanyakan dua tiga konflik yang sudah diulang-ulang, seolah sekadar meyakinkan
Menagih konklusi yang akhirnya toh masih saja mengambang
Lalu hadir sepasang lakon berdialog dalam satu diri,
“Padahal asertif saja”
Asertif
Salah seorang lakon menyaut pertanyaan,
“Jadi sebenarnya,”―lebih dalam, “Seperti apa yang benar dibutuhkan?”
“Dengan apa seharusnya bersimpul; excuse atau retensi?”
Dialog itu mati.  Lalu mentransformasi simpul pikiran ke hati—dua arah
Menghadirkan bingung-bingung yang tidak ramah
Barangkali bingung yang lebih bertendens pada: masih mencari kemungkinan yang paling baik?
Tidak juga
Kemudian ada melankolisme di dalamnya
Merapuh kembali, mudah runtuh; kalau kamu faham
Kalau Tuhan-mu memang berkehendak demikian
Tentang dialog malam itu,
Membawa kebenaran dan kekaburan semakin terasa sumbang
Namun yang saya tahu, memurkai perasaan bukankan tak ada menanggung dosa?
Dan bukankah, ada yang lebih menarik daripada meratapi sampah dunia?


***

A’udzubillahi minasy syaithonir rojim
Bismillahirrahmanirrahim,



Kamis, 17 November 2016

Semoga generasi Indonesia lebih utuh daripada sekadar itu,


Sedikit anotasi terhadap sosial masyarakat Indonesia, dengan sudut pandang campuran.

The Eloquency of Silence―Kefasihan dalam diam; barangkali pernah membaca kutipan dari Ivan Illich dalam bukunya Celebration of Awareness: “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi.” Kata-katanya orakel, ketika diam dapat dimaknai menjadi suatu dialog. Atau sebaliknya: dialog dengan bunyi yang bersahutan, namun kadang-kadang justru terdengar tidak berisi.

Indonesia hari ini. Sebuah kutipan dari Tan Malaka, dalam Aksi Massa (1926), ”Dalam masa revolusi lah tercapai puncak kekuatan moril, terjadi kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk pendirian masyarakat baru.” Lalu terasa seperti ada yang hilang: tendensi perilaku generasi muda dengan aksen nasionalis.

Suatu pratinjau terhadap laku generasi muda negeri Pancasilais, ketika eksistensi menjadi suatu yang penuh hipokrasi. Globalisasi teknokratis menghadirkan kita pada dunia dengan bermacam media, dengan yang paling gamblangnya sosial media. Adalah satu set baru komunikasi; alat kolaborasi yang memungkinkan banyak jenis interaksi. Lalu perlahan kita justru menyaksikan interaksi yang seringkali dipergoki salah. Bentuk sosial yang diwadahi dengan kepraktisan teknologi sedikit banyak menjauhkan “sosial” yang sebenarnya dekat, walaupun benar mendekatkan yang jauh pula. Lalu hadir rekayasa yang terasa di dalamnya―pencitraan sosial―seolah menjadikan eksemplar dari kaum yang tidak natural. Perlahan-lahan mematikan sosial yang lebih nyata, dan masing-masing terlihat hidup sendirian.

Kemudian muncul tendensi kompetitif untuk suatu predikat eksistensi paling tinggi; dengan menjadikan kata “modern” untuk melumrahkan pelbagai cara. Mungkin pikirnya: semakin kontroversial semakin menarik, semakin dilihat. Menyalurkan konsekuensi negatif pada yang melihat, lalu biasanya terprovokasi. Begitu yang memang terjadi, depresiasi moral oleh pengertian “modernisasi” yang cenderung bobrok. Kaum eksemplar dari sebagian besar generasi Y itu mungkin lupa, sejarawan bangsa saat seusianya sedang mati-matian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Atau tetap merasa bangga, sedang kerabat segenerasinya sibuk mengejar ilmu, untuk eksistensi yang lebih bermartabat. Barangkali suatu generasi perlu mengadakan rekonsiliasi dengan masa silam dan masa depan. Rekonsiliasi untuk melihat komparasi moral sebagai sesuatu yang fluktuatif. Namun mestinya tidak memalukan.

Aksentuasi revolusi Indonesia menjadikan ada yang harus diaktualisasikan di dalamnya: kultur sosial bermasyarakat. Interaksi sosial yang lebih hangat kerap dijumpai di daerah tanpa intervensi tinggi daripada “media” itu. Suatu ketika di desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, menghabisi waktu makan siang di pekarangan rumah salah seorang warga setempat. Basa-basi yang natural, menghidupkan percakapan yang penuh isi. Kami bercerita, pemilik rumah menggelar tikar, seketika membawa bakul nasi diikuti lauk-pauk yang baru matang. Selang tak lama, sang tuan rumah membawakan kopi dan ketan bakar, menutup siang itu. Selesai kumandang adzan Zuhur, ada diam yang menggantung. Seolah mengisi spasi antara melantunkan ulang lafal adzan dan mempersiapkan diri untuk sembhayang. Diam yang dimaknai suatu dialog, bahwa pada dasarnya manusia dianugerahi bahasa tubuh: saling mempersilakan.

Pada akhirnya manusia memang dituntut untuk bisa membagi proporsi antara yang nyata dan maya. Menghidupkan sosial dengan lebih sederhana, tanpa komplemen yang tak praktis. Menghidupkan sosial yang tak mesti mengenal batas, tanpa perlu merekognisi takaran eksistensi yang jelas. Bukankah manusia diberi bakat untuk tahu mana yang baik dan buruk? Semoga generasi Indonesia lebih utuh daripada sekadar itu.



17/11





Jumat, 11 November 2016

Cerita Sopir Bus

Yogyakarta, 2013. Pukul 14:30 hari itu lebih gelap berawan. Suatu perjalanan menuju Kabupaten Kulonprogo menumpangi bus tujuan Yogya – Wates. Bus nya reot, agaknya tidak untuk ditancap gas terlalu dalam, jelas knalpot nya berkerotak. Cat luar bus hijau lumut pudar, semakin memudar dengan motif kelupas: dibakar matahari. Bus itu tetap ramai penumpang, kebanyakan pedagang yang memborong sayuran, kletikan losinan. Dagangannya bercecer, memakan dua sampai tiga bangku penumpang. Si pemborong merangkul dagangan, takut semakin bercecer. Sedang di depan pasar berjejer truk sayur siap angkut. Barangkali bus reot itu akses transportasi termurah: jauh dekat empat ribu rupiah.

Saya duduk tepat di belakang bangku sopir bus. Jok nya coklat susu pudar, kainnya tidak utuh, memungkinkan busa mold kuning jok timbul keluar. Penumpang bus semakin bermacam. Kini saya duduk bersama salah seorang ibu pemborong; ada pun di pojok belakang seorang bapak tua menenteng karung pisang, lalu pemuda yang berlagak fasih menghirup puntung asap bergelantung di pintu―merangkap kenek. Seolah kehidupan yang nyata: ada bau minyak wangi, tapi ada juga bau petai. Bahkan jengkol. Ada bau kretek, peluh, dan bensin. Tak cuma parfum impor.

Perjalanan dinuansai dialog dan guyon dalam Jawa kromo. Si sopir turut menimpali: semakin luwes. Penumpang lain turun, bahu-mebahu memikul borongan yang dibalut rafia. Hanya bersisa saya dan sopir bus yang kembali menggeser persneling, gigi satu. Sopir bus memulai bercakap dalam bahasa, tanpa mampu menghilangkan dialek inggil. Saya menjawab asal Bogor, tapi masih darah Jawa. Perihal ingin mlaku-mlaku ke salah satu wisata kota Wates, mumpung masih di Yogya. Bapak sopir itu kemudian bercerita, “Saya belum sempat mengajak anak saya main ke Bogor, ke Puncak. Waktu itu masih banyak kebutuhan sekolah jadi belum mampu. Sekarang putri sudah terlanjur pindah jauh, ikut suaminya.” Suaranya tidak nyentrik, tuturnya adem. “Apik toh Puncak. Saya tidak ada libur narik bus, ke Bogor kan jauh. Sekarang putra putri sudah terlanjur besar, paling-paling ajak cucu.”  Keinginan yang begitu sederhana dalam kejujuran yang segar. Seolah meredupkan desakkan suatu pola umum, dimana semua orang tak mesti hidup dalam arus kelayakan yang pragmatis.

Bapak sopir kembali menceritakan sanak keluarganya, lebih intim. Bahwa hidup adalah sesuatu yang tenang tapi pada dasarnya riang, ibarat rumput hijau yang tidak mahal: namun bersih. Bahwa seorang bisa merasa kaya tanpa takaran harta benda, sehingga terbebas dari nota bene berada, bebas atas rasa congkak pun sewenang-wenang, mampu memberi tanpa merasa kehilangan.

Saya seolah terbangun di sore itu.