Sabtu, 15 Oktober 2016

Life is surrounded by good people, indeed.


Tulisan saya kali ini sedikit membahas mengenai perspektif saya terhadap instrumen lingkungan sosial: orang-orang dan segala komplemen yang meliputinya, lalu koheransi dalam ekspresi ‘bersosialisasi’ di lingkungan kita berada. Ya, semoga tidak dipersepsikan unsur pencitraan di dalamnya.

Waking up with plans. Bangun tidur (untuk muslim) lalu beranjak ambil wudhu, sholat shubuh. Di akhir memanjatkan doa, kemudian memanfaatkan spasi waktu antara doa dan menguap untuk menyusun rencana: Akan memberikan manfaat apa saja saya hari ini?


Salah satu cerita―pengalaman diri―yang sebermula menarasikan persepsi saya tersebut, dengan saya sebagai orang pertama, pelaku utama.


Pagi itu di Rumah Sakit bilangan Jakarta Pusat. Beberapa malam merumahkan diri di kamar pasien perihal merawat kakak yang sakit,  sekaligus menemani ibu saya, berganti-gantian menjaga. Sholat shubuh yang terasa dingin. AC bersuhu rendah tiap kamar memang di set bukan untuk penunggu pasien yang tidak difasilitasi selimut tebal hijau susu layaknya pasien. Ibu masih tidur, dan saya memutuskan turun ke bawah, menolak kedinginan. Saat itu pukul 5:15. Menunggu waktu sarapan, saya menempatkan diri di patio seating suatu convenience store RS setelah menekan Coffee Vending Machine: Toraja Coffee (yang rasanya lebih menyerupai Robusta coffee milk dengan extra shot). Dari patio seating terlihat beberapa warung makan tenda yang masih menggelar-gelar gorengan di atas container dialasi koran bekas. Jauh dari higienis, tapi entah kenapa terasa lebih ‘joss’.

Pukul 6.20, nasi uduk langganan—3 hari berturut-turut beli di ibu yg sama—sudah ramai pembeli. Saya duduk, memesan dua bungkus, satu untuk ibu saya. Ceriwis, tapi ramah. Tipikal penjual yang ketika calon pembeli nya baru melongok, sudah melipat kertas dan menyentong nasi—supaya pasti beli. Begitupun pada saya, dan kebetulan beliau sudah terlanjur mulai hafal. Mungkin karna baju saya belum diganti dua hari.

“Enak bu nasi nya, pulen. Besok pagi saya beli lagi ya.” Lalu beliau tersenyum ceriwis, dahinya mengkerut. Suatu kesenangan tersendiri ketika basa-basi itu dapat menghidupkan ‘sosial’ yang sederhana, lebih elementer.

Kembali ke kamar; membawakan makanan, mandi, dan mengerjakan apa yang dapat membantu. Setelahnya, saya memutuskan pergi keluar, mencari hal yang dapat diproduktifkan. Kalau menurut saya: sebaik-baiknya waktu adalah waktu yang produktif, produktif untuk pelbagai hal positif. Sesederhana mencari kopi, browsing lowongan kerja dengan selingan buku bacaan, bertemu orang, membangun percakapan yang ringan, namun penuh atensi. Atau mana tahu menjadi barang satu dua pengabulan atas doa-doa orang yang memanjatkan, pun sebaliknya. Toh kita memang dikehendakan demikian.

Jakarta padat merayap, memastikan saya untuk memilih aplikasi transportasi online untuk berpergian. “Mbak Astrid ya?”. Bapak nya ramah, senyumnya ketarik, terbatas oleh helm. Seketika beliau menyodorkan helm penumpang, mempersilakan naik.

“Ini mau lewat mana mbak?”
“Lewat yang menurut Bapak enak aja. Saya nggak buru-buru.” ―Padahal karna nggak tau jalan.
“Lewat jalan yang nggak panas aja Pak kalo ada. Hehe.” ―Entah permintaan macam apa.
“Haha. Mbak nya darimana toh?” ―Ketawa kecil sebagai respon atensi; lalu muncul percakapan basic yang mesti diulang-ulang, karna terbentrok knalpot dan polusi.

Manfaat sampingan yang acapkali tidak diindahkan: sampai tujuan dengan isi di dalamnya akan lebih terasa ‘selamat’, bukan?

Kopi Arabica, buku, laptop, dan sepotong kue. Mengerjakan hal-hal yang dapat diproduktifkan, rekonsiliasi antara implementasi dan yang tadi direncanakan. Sesekali mengalihkan fokus ke lingkungan sekitar. Memerhatikan kegiatan tiap orang dengan gerak tubuhnya masing-masing. Sesekali pula melepaskan earphone, mengalihfungsikan telinga untuk merespon tegur sapa peminum kopi sebelah. Adpertensi obrolan yang lumrah dari mengangkat objek di atas meja sebagai buah obrolan. “Hobi buku juga, mbak?” Basa-basi ringan yang membuka obrolan lebih intim atas pemikiran masing-masing, lalu biasanya terasa kontra.  Saya menikmati seni daripada cukup mendengarkan dan mengangguk pelan, mencoba menyelami pemikiran dan karakter setiap orang. Toh tidak semua percakapan menagih konklusi, dan begini yang saya tahu: Kita semua terdiri dari bermacam aliran pikiran, latar belakang sosial-kultural, dan berbagai kepentingan, yang—jika didengarkan semua secara saksama dan bebas—akan memperkaya batin kita sendiri.” – Mas GM.
Memperkaya batin dengan tidak menyinggung batin orang lain―bertukar pikiran dengan rendah hati. Karna kesalahan dan kebenaran masih terdengar relatif.

Sore yang hangat, mengangguk halus meminta izin pergi duluan pada si peminum kopi sebelah tadi. Saya selalu menikmati berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Melawai. Lalu lalang nya hangat, hiruk pikuk jalanan yang dipenuhi jejeran ranah bisnis tidak terasa kasar. Lalu pandangan saya teralihkan ke sebuah warung nasi kecil, di dalam suatu jendela setinggi paha orang dewasa. Jadi pembeli nya harus jongkok dan melongokkan diri ke dalam jendela penuh bermacam lauk tersebut. Penjual nya ibu-ibu, mungkin kisaran 60 tahun. Beliau duduk lesehan sejajar dengan lauk-lauk dagangannya. Saya mengikuti gerakan fasih bapak-bapak yg terlihat sudah sering makan disana, jongkok dan menunjuk beberapa lauk. Saya ikut pesan, kemudian duduk di satu dingklik kayu panjang bersama bapak-bapak tadi, diikuti beberapa pembeli lainnya. Namanya Ibu Sunarti, saya berkenalan. Bapak-bapak sebelah tadi ikut nimbrung. Kiranya heran melihat saya makan disana, jelas di seberang sedikit ada rumah makan cukup besar. Bapak-bapak di sebelah lagi masih menyenderkan karung sampah dengan hati-hati, diletakkan jauh dari dingklik kayu, supaya tidak mengganggu. Rupanya beliau seorang ‘Bapak yang mencintai kota ini, dengan bekerja memunguti sampah’. Saya tidak banyak bicara, sampai saya mengembalikan piring ke Ibu Sunarti dan kembali duduk di dingklik kayu itu. Berniat pulang ke RS, saya meraih handphone, kembali mengandalkan kepraktisan transportasi online.

“Melawai VI mbak.” – celetuk si Bapak, mendengar saya gelagapan ketika menjelaskan posisi di telfon.
“Mbak mau pulang kemana, toh?
“Mbak tunggu disini saja, sampai supirnya datang”
“Ngopi mbak, mari.”

Beliau menaikkan gelas plastik keruh berisi kopi hitam Kapal Api punya, tanda menawarkan. “Monggo Pak, mari”. Penolakan yang terasa seperti sekadar mempersilakan. Saya menghabisi beberapa menit menunggu dijemput sembari bercakap. Tidak intens, namun terasa aman: seperti ditemani.

Lalu saya pulang, bersalaman dengan si Bapak, melambaikan tangan pada Ibu di balik jendela penuh lauk. Keduanya—Bapak dan Ibu Sunarti—menyerukan terimakasih dengan senyum lepas. Saya melepaskan senyum tak kalah lebar, berterimakasih kembali. Menarik ketika berbagai instrument masyarakat dapat kita selami, dengan kebermanfaatan diri yang sekiranya tersalurkan: apapun itu. Bukankah bahagia yg utuh, adalah bahagia yang turut membahagiakan orang lain?

Sampai di RS; mulai hafal dengan wajah Bapak satpam yang bergantian shift dan beberapa petugas lift. Menegur pasien baru di tempat tidur sebelah, nenek kelahiran '32. Agaknya penyakit pernapasan akibat umur. Nama beliau nenek Sasthi, masih sangat pintar dan cekatan di umur sekian. Belum ada yang datang menunggui, lalu saya menawarkan menyuapi makan malam. Katanya: kamu mirip cucuku. Mungkin benar, atau lebih mungkin menurutnya wajah remaja memang mirip semua. Saya dan ibu tidur di kasur lipat, berdoa menutup hari itu. Hari yang baik; dikelilingi orang-orang baik.

---

Kesederhanaan dengan tidak menjadi pengertian penuh hipokrasi dan dipersoalkan. Semua orang adalah baik, karna ditakdirkan menjadi baik, hanya kadang terpatok batasan yang tidak dikehendaki. Sungai pun ada batasnya, tebing-tebingnya, tapi apakah sebuah sungai berarti hanya tebing-tebingnya?


Selamat menebar kebermanfaatan, kawan.
Semoga tulisan ini bisa menjadi impresi daripada itu.




Salam sejahtera selalu,
Astrid Astari.