Jumat, 30 September 2016

Si mas di pelataran Masjid

Idealis.

Bagaimana jika diksinya dialihposisikan sebagai,

Menempatkan diri pada posisi yang sepantasnya—setelah memantaskan diri—sebagai formasi penghargaan terhadap doa dan ikhtiar—yang terbaik.

Toh kalau memang gawang yang ‘idealis’ katamu itu tidak ditembus bola nya, berarti memang tidak yang terbaik, simple. Lalu kembali berikhtiar, untuk pelbagai hal yang tersebut lagi-lagi: idealis.

“Lalu beritahu hingga kerikil sebongkah apa kakimu itu tak lagi menang dari sandungan?” – kerabat si mas, menagih.

Bagaimana kalau kusebut, selamanya waktu sehingga Sang Pengatur menaruh kuasa memutar-balikkan hati—tinggal menunggu. Satu baris terbawah di daftar takdirku, memang Ia kosongkan untuk barang sepenggal doa dan ikhtiar, bukan?

…fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallahi innallaha yuhibbul mutawakkilin (QS 3:159)

Dan mungkin kusebut: hingga hati—batin—tidak mampu mendefinsikan runtutan perasaan di dalamnya. Seperti terjerembab, ketakutan akan lubang yang sama. 
Sekarang kau jawab: adakah yang lebih menjanjikan, daripada pasrah dan tidak peduli?


Mari ambil wudhu.




***

Rabu, 07 September 2016

Alegori #02

Zawalus samsyi, menghabisi petang
Kopi hitam ufuk barat itu, mengisi ambang perempat cangkir
Sekiranya mampu menanggung percakapan,
Mengiringi cerita

Kamu tahu dunia?
Mereka: konversionalis itu, menjelma pujangga tanpa arah
Menanggung alih manusia-manusia selayak remah
Tidak pun ada menapaki keseluruh ranah

Ah, berat. Kintamani mu tak sepadat tanah

Kamu tahu rindu?
Memburui waktu untuk kembali bertemu
Membawa sebuku percakapan, atau setidaknya, berjabat tangan
Hai, bagaimana kabar
Dengan sederhana meringkuk saling bersandar
Tenggelam bersama kopi malam, kudapan
Menyelami kerinduan yang tak menagih masa depan
Hingga kala meringsut kembali dalam perpisahan
Sampai jumpa lagi,
Di lain kesempatan.

Satu teguk lagi, menutup ba’da ashar
Kintamani mu semakin masam

Lalu,
Kamu tahu cinta?
Selain saya, pada ibu saya?




08/09