Rabu, 14 Desember 2016

#catcalling

Yha nulis terus yha. Ketauan banget pengangguranya. Gapapa.


Sedikit ingin menyumbang opini dari apa yang sedang kerap dipermasalahkan khalayak kaum wanita. Based on my point of view—my way of living in any circumstances.

Mungkin mas dan mba sudah sering baca berita, dengar kabar, pun mendapati postingan terkait "Catcalling".

Catcalling, atau yang dimaknai sebagai: Pelecehan terhadap perempuan; melakukan hal-hal bertendensi seksual. Sebagian besar perempuan, women in general, sejatinya bakal merasa risih/kurang nyaman saat berada di kondisi tersebut. Dipanggil-panggil—yang terasa seperti digoda/diganggu—baik hanya selewat atau bahkan sampai agresif. Lalu muncul buah omongan kalo kalo yang salah ada di pihak perempuannya; yea you know, karna cara berpakaian si perempuan yang dianggap 'mengundang'. Balutan rok pendek, atau baju ketat, nyablak, armless, backless, topless, apapun. Barangkali bibit perkaranya itu? Tidak juga. Jangankan rok pendek, perempuan berhijab pun kerap diperlakukan demikian. Jadi ya, mungkin bisa dikonklusikan bibit perkara tidak lahir dari kesalahan murni pihak perempuan, betul?

Kurang lebih itu. Lalu ini sudut pandang gue pribadi.
Gue sebagai cewek yang sering kemana-mana sendiri semacam sudah cukup khatam dengan ornamen-ornamen jalanan seperti demikian:

Kiw
Neng
Neng kamana
Neng ojek? Gojek deh??
Mbak baju biru
Mbak baju putih
Aqua kak? Gorengan?? *ngejar*
Prikitiw
Bunda?
((KENAPA JADI BUNDA))
Si teteh pulang?
Teh barangkat yah?
Teh naha sorangan (teh kenapa sendirian)
Teteh Assalamualaikum.
........
Yha mas, walaikumsalam.

Dan celetukan-celetukan lain sekena nya. Entah kenapa gue sama sekali nggak merasa terdistraksi dengan hal itu. As long as bukan di tempat yang creepy, nggak ada tindak laku kejahatan, kontak fisik, atau ucapan kurang senonoh, I don’t feel abused, at all. Gue menganggap itu semua adalah bentuk atensi tiap orang—apapun bentuknya. Begini lho mbak, catcalling itu pada dasarnya karna si oknum “kepingin aja”, toh mereka memang bukan intended to insist any good responses. Tinggal jalan melengos, lupakan, selesai. Kecuali kalo memang merasa dikurang ajari, ya terserah mbak nya mau gimana.

Most of times, ketika celetukan si amang-amang tersebut terdengar seperti sapaan lumrah, justru gue balik sapa, atau gue senyumin. Gue adalah orang yang sangat merasakan benefit daripada kenal dengan banyak amang-amang. Untuk gue yang sering berkelana sendiri, yang padahal kurang tau medan, yang pula suka nggak tau mau kemana, seketika diberi pencerahan arah dan dimudahkan sampai ke tujuan; berkat pertolongan amang-amang tersebut. Misalnya pernah begini, Bapak supir angkot yang awalnya godain, malah gue samperin karna kebetulan gue nggak tau harus naik jurusan mana (waktu itu belum ada gojek dll). Awalnya gue nanya buat ke tempat tujuan gue saat itu harus naik angkot trayek apa, ternyata bisa naik angkot si Bapak supir penggoda ((penggoda)), Bapak supir tadi. Dan dalam perjalanan, gue justru diarahkan dengan detail, bahkan, ditungguin sampe dapet angkot selanjutnya, bahkan…. tadinya disuruh nggak usah bayar. Atau yang paling sering, ketika gue nggak bisa parkirin mobil/motor, “Mba tunggu luar aja”, pun sebaliknya ketika gue nggak bisa ngeluarin mobil/motor, “Mba sini kuncinya”. Berasa valet parking sob. Padahal di parkiran stasiun.

Ketika banyak perempuan yang mengeluhkan catcalling tersebut, lalu solusi yang muncul terdengar terlalu instan. Ditegur, lalu sudah? Ditimpuk payung, lalu menyelesaikan masalah? Diluar kondisi bahwasanya benar pelaku catcalling yang salah, gue pribadi bukan orang yang bisa intervensi terhadap hidup orang lain—who is unrelated so close to me. Bukan kapasitas gue untuk merubah orang; membuat orang jadi seperti yang hanya kita harapkan. Kapasitas gue sebagai makhluk sosial adalah mengevaluasi diri dan berubah menjadi lebih baik, lebih diharapkan orang lain. Toh seindah-indahnya menjadi sosok manusia, adalah sosok yang bermanfaat bagi manusia lain. Pun doanya akan lebih mengalir.

Jadi intinya begini mbak, kita sebagai perempuan, pada dasarnya memang ingin dihargai oleh siapapun, dan menolak dilecehkan, dengan bagaimanapun. Tapi bukankah perempuan bisa melindungi dirinya sendiri, dengan menempatkan dirinya secara bijaksana? Kita nggak mesti mendemokan emansipasi secara fisik, atau perang komunikasi verbal, pun non verbal. Implementasi dari emansipasi sederhana, ada kalanya perempuan dituntut untuk keluar dari comfort zone perihal semakin mengasah daya resiliensi dan adversitas. Nggak ada salahnya untuk mengevaluasi diri terlebih dulu sebelum menyalahkan keadaan. Experience is not always the best teacher of life, but evaluated experience is. Nggak selalu perempuan adalah kaum yang selalu dilindungi pria hanya karna garis batas notabene “lebih lemah”. Perempuan kuat, adalah perempuan yang mampu meninggikan martabatnya dari positifitas cara pandang, hati, pikiran, perbuatan, atas dasar keteguhan ilmu agama dan pendidikan. Insha Allah, hidup mbak nya akan dimudahkan.


Mungkin kiranya cukup sekian. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau ucapan. Semoga emanispasi wanita lebih mampu disuarakan, daripada dikeluhkan segamblang itu.


Salam sejahtera untuk kita semua.
Astrid Astari





Kamis, 08 Desember 2016

....Tentang rasa syukur.


Manifestasi dari realita perjalanan; ibarat melewati sebuah jembatan, kita lalu tersadar masih ada sejumlah orang yang bekerja sebaik-baiknya hingga kita mampu melintasi jurang dengan jurang.


Prolog dari sebuah cerita, memulai tulisan saya tentang rasa syukur.


Selasa siang di kota Hujan. Hari itu jadwal saya berangkat ke Kota Kembang perihal tes pencarian kerja. Satu hari sebelum hari-H, supaya bisa bermalam dahulu setidak-tidaknya. Perjalanan Bogor – Bandung selalu saya tempuh dengan transportasi bus, yang berhenti dan berangkat dari terminal Baranangsiang Bogor, persis seberang keluar tol. Semuanya berlabel bus AC, namun bermacam: bus cukup mewah full AC, pun bus agak kumuh full AC alam. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih empat jam jika jalanan normal—tidak mandek di Cikarang atau Padalarang. Duduk di bus selalu saya selingi dengan menyumpal earphone di telinga, sesekali membaca buku, lalu ketiduran memandangi macet di Bekasi, membuka bekal makan siang di pintu tol Cikarang. Seolah sudah sangat hafal dengan rute perjalanan—saking berulang-ulang.

Ada yang menarik dari perjalanan dengan bus. Setiap kali saya sampai di terminal, melongok mencari palang trayek bus, suara yang familiar serontak menyaut: “Teteh ini Bandung barangkat Bandung”. Suara nyaring kenek bus terminal Baranangsiang yang sudah cukup akrab. Rautnya penuh brewok tidak bermodel, badannya kuyu, menyelempangkan handuk penuh peluh di pundak kanan, kadang di kiri. Beliau mengantarkan saya sampai dapat bangku kosong, lalu berpesan: teteh hati-hati di jalan. Saya membalas senyum, berterimaksih. Kali pertama saya menumpangi bus trayek Bogor – Bandung, saya memang sempat bercakap cukup lama dengan beliau, sebab takut salah naik. Yang kedua kalinya, beliau ternyata masih hafal. Si teteh jaket jeans nu kamari, katanya. Beberapa menit sebelum keberangkatan, sekelompok pengamen yang sama selalu unjuk kebolehan lagunya di dalam bus. Usai berkeliling menyodorkan kantong permen kosong ke semua penumpang, pengamen itu kemudian menghampiri bangku saya, seolah kami teman lama. Berbeda dengan Bapak kenek, si teteh nu rajin ka Bandung, kalau kata mereka. Namun dengan imbuhan pesan yang sama: teteh hat-hati di jalan. Saya membalas senyum, melafalkan aamiin dalam hati.

Ada yang menarik dari perjalanan dengan bus: bermacam penumpang, kenek, pengamen, Pak sopir, tukang cangcimen, tukang aqua-mijon, tukang gorengan, sampai tukang koran. Ada yang menarik dari membeli bukan untuk menukar uang dengan barang dagangan, tapi untuk sekadar meringankan.

Ketika itu saya merasakan takjub yang membatin, kemudian membidik. Berbagai peluh, keluh akan pencarian kerja dan harta, sementara baru saja menyaksikan elemen lingkungan yang seolah mengajarkan untuk menapaki hidup dengan rasa syukur, bukan pragmatisme yang kabur. Pragmatisme yang terasa seperti semboyan: “asalkan hasilnya baik”, baik yang tidak mempersoalkan untuk siapa dan bagaimana pula?

Saya memutar playlist berikutnya, kembali tertidur.

Pukul 16.00 bus keluar Tol Pasir Koja, sebentar lagi berhenti di Terminal Lewipanjang, kota Bandung. Setiap kali ke kota ini, saya selalu menumpang tidur di kostan teman—bahkan sudah seperti saudara—yang memang kuliah dan bekerja di kota Kembang. Teman pemilik kosan belum pulang kerja, lalu saya memutuskan untuk berjalan-jalan menghabisi petang. Mana tahu dapat teman bercakap, pun setidak-tidaknya subjek tegur sapa akrab.

Saya berjalan kaki menyusuri Jalan Braga. Kali pertama menjejaki langkah di jalan ini, membuat saya jatuh hati. Sore itu hangat, toko-toko mulai dari indomaret, rumah makan, hingga warung kopi berjajar klasik, hiruk pikuk kendaraan tidak memekik. Dua tiga pedagang jalanan menggelar dagangannya di pinggir trotoar; semakin hidup. Pelukis yang merangkap pedagang lukisan memajang masterpiece-nya bak pameran, pedagang kue tradisional yang menyimpan dagangannya di dalam bakul tertutup plastik tipis transparan. Langkah saya terhenti pada salah satu bangku jalanan yang memajang bunga-bunga dalam ember. Adalah milik Bapak penjual bunga mawar merah, pink, dan biru. Tiap tangkai dililitkan plastik transparan bermotif, menyisakan batang hijaunya yang dibiarkan terkulai panjang. Basa-basi menanyakan ‘satunya berapa’, sebagai media memasuki basa-basi berikutnya.

Namanya Pak Dirman, saya sempat berkenalan. Wajahnya tenang, tidak banyak ekspresi; hanya saja seringkali membenarkan posisi topinya yang toh tak banyak merubah. Dengan dialek sunda kental, beliau bercerita seputar jenis bunga dagangannya. Bukannya hanya mawar dan mawar?

Ketenangan yang dialektis, seolah mengamalkan hidup adalah untuk tenang, toh hidup setelah mati pun tak lepas dari doa: semoga beristirahat dengan tenang. Ketenangan yang dialektis, seolah luput akan kemelut dunia fana. Ketika orang-orang di luar sana sibuk berteriak menyerukan Republik untuk ganjal Presiden kontroversial itu pajaki perusahaan negara Adikuasa, atau pemilih millenial yang sibuk menagih calon Gubernur DKI perihal macet Ibukota, atau bahkan cerita Bapak tua yang membelikan Android untuk anaknya dengan pecahan dua ribu rupiah, supaya mau bersekolah. Ketenangan yang dialektis, sehingga tak mesti ada kesadaran palsu—mistifikasi, sebagai cara si tertindas mempersamakan diri dengan sang penindas, melarikan diri dari kepedihan dengan menggabungkan diri pada pihak yang kuat.

Ketenangan yang dialektis, seolah mengajarkan bahwa parameter bahagia tidak lah terukur, sampai mereka benar-benar bisa bersyukur…

Pada Pak Dirman saya pamit undur diri, melanjutkan langkah kaki. Menunggu waktu magrib, saya menempatkan diri di patio seating sebuah kedai kopi. Tak lama hadir konversasi dengan pelanggan sebelah; seorang perempuan berumur 29 tahun. Bermula dari meminjamkan powerbank hingga berkisah tentang bisnis kami masing-masing. Karna begini yang saya tahu: masing-masing manusia adalah sebuah sosok tubuh konkret—berpijak pada sebuah tempat dan terkait akar di suatu sterotype makhluk sosial yang selalu menarik. Kembali pada sore yang hangat, seolah menuntun saya menuju alam bawah sadar, menelungkupkan kedua telapak tangan, kembali mengucap syukur di sore itu.



Astrid Astari
Bandung, 2016






Selasa, 22 November 2016

Tentang dialog malam itu...


Malam hari, sebelas tiga puluh
Membekam telapak tangan dalam poket sweater, terkepal
Lamat-lamat terdengar lagu lawas dari kabel telinga. Temponya melangut
Menapak tergontai, menendang kerikil pelan-pelan, menyeka kubangan sisa hujan
Kembali memutar memori,
Tentang dialog malam itu...
Menanyakan dua tiga konflik yang sudah diulang-ulang, seolah sekadar meyakinkan
Menagih konklusi yang akhirnya toh masih saja mengambang
Lalu hadir sepasang lakon berdialog dalam satu diri,
“Padahal asertif saja”
Asertif
Salah seorang lakon menyaut pertanyaan,
“Jadi sebenarnya,”―lebih dalam, “Seperti apa yang benar dibutuhkan?”
“Dengan apa seharusnya bersimpul; excuse atau retensi?”
Dialog itu mati.  Lalu mentransformasi simpul pikiran ke hati—dua arah
Menghadirkan bingung-bingung yang tidak ramah
Barangkali bingung yang lebih bertendens pada: masih mencari kemungkinan yang paling baik?
Tidak juga
Kemudian ada melankolisme di dalamnya
Merapuh kembali, mudah runtuh; kalau kamu faham
Kalau Tuhan-mu memang berkehendak demikian
Tentang dialog malam itu,
Membawa kebenaran dan kekaburan semakin terasa sumbang
Namun yang saya tahu, memurkai perasaan bukankan tak ada menanggung dosa?
Dan bukankah, ada yang lebih menarik daripada meratapi sampah dunia?


***

A’udzubillahi minasy syaithonir rojim
Bismillahirrahmanirrahim,



Kamis, 17 November 2016

Semoga generasi Indonesia lebih utuh daripada sekadar itu,


Sedikit anotasi terhadap sosial masyarakat Indonesia, dengan sudut pandang campuran.

The Eloquency of Silence―Kefasihan dalam diam; barangkali pernah membaca kutipan dari Ivan Illich dalam bukunya Celebration of Awareness: “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi.” Kata-katanya orakel, ketika diam dapat dimaknai menjadi suatu dialog. Atau sebaliknya: dialog dengan bunyi yang bersahutan, namun kadang-kadang justru terdengar tidak berisi.

Indonesia hari ini. Sebuah kutipan dari Tan Malaka, dalam Aksi Massa (1926), ”Dalam masa revolusi lah tercapai puncak kekuatan moril, terjadi kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk pendirian masyarakat baru.” Lalu terasa seperti ada yang hilang: tendensi perilaku generasi muda dengan aksen nasionalis.

Suatu pratinjau terhadap laku generasi muda negeri Pancasilais, ketika eksistensi menjadi suatu yang penuh hipokrasi. Globalisasi teknokratis menghadirkan kita pada dunia dengan bermacam media, dengan yang paling gamblangnya sosial media. Adalah satu set baru komunikasi; alat kolaborasi yang memungkinkan banyak jenis interaksi. Lalu perlahan kita justru menyaksikan interaksi yang seringkali dipergoki salah. Bentuk sosial yang diwadahi dengan kepraktisan teknologi sedikit banyak menjauhkan “sosial” yang sebenarnya dekat, walaupun benar mendekatkan yang jauh pula. Lalu hadir rekayasa yang terasa di dalamnya―pencitraan sosial―seolah menjadikan eksemplar dari kaum yang tidak natural. Perlahan-lahan mematikan sosial yang lebih nyata, dan masing-masing terlihat hidup sendirian.

Kemudian muncul tendensi kompetitif untuk suatu predikat eksistensi paling tinggi; dengan menjadikan kata “modern” untuk melumrahkan pelbagai cara. Mungkin pikirnya: semakin kontroversial semakin menarik, semakin dilihat. Menyalurkan konsekuensi negatif pada yang melihat, lalu biasanya terprovokasi. Begitu yang memang terjadi, depresiasi moral oleh pengertian “modernisasi” yang cenderung bobrok. Kaum eksemplar dari sebagian besar generasi Y itu mungkin lupa, sejarawan bangsa saat seusianya sedang mati-matian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Atau tetap merasa bangga, sedang kerabat segenerasinya sibuk mengejar ilmu, untuk eksistensi yang lebih bermartabat. Barangkali suatu generasi perlu mengadakan rekonsiliasi dengan masa silam dan masa depan. Rekonsiliasi untuk melihat komparasi moral sebagai sesuatu yang fluktuatif. Namun mestinya tidak memalukan.

Aksentuasi revolusi Indonesia menjadikan ada yang harus diaktualisasikan di dalamnya: kultur sosial bermasyarakat. Interaksi sosial yang lebih hangat kerap dijumpai di daerah tanpa intervensi tinggi daripada “media” itu. Suatu ketika di desa Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, menghabisi waktu makan siang di pekarangan rumah salah seorang warga setempat. Basa-basi yang natural, menghidupkan percakapan yang penuh isi. Kami bercerita, pemilik rumah menggelar tikar, seketika membawa bakul nasi diikuti lauk-pauk yang baru matang. Selang tak lama, sang tuan rumah membawakan kopi dan ketan bakar, menutup siang itu. Selesai kumandang adzan Zuhur, ada diam yang menggantung. Seolah mengisi spasi antara melantunkan ulang lafal adzan dan mempersiapkan diri untuk sembhayang. Diam yang dimaknai suatu dialog, bahwa pada dasarnya manusia dianugerahi bahasa tubuh: saling mempersilakan.

Pada akhirnya manusia memang dituntut untuk bisa membagi proporsi antara yang nyata dan maya. Menghidupkan sosial dengan lebih sederhana, tanpa komplemen yang tak praktis. Menghidupkan sosial yang tak mesti mengenal batas, tanpa perlu merekognisi takaran eksistensi yang jelas. Bukankah manusia diberi bakat untuk tahu mana yang baik dan buruk? Semoga generasi Indonesia lebih utuh daripada sekadar itu.



17/11





Jumat, 11 November 2016

Cerita Sopir Bus

Yogyakarta, 2013. Pukul 14:30 hari itu lebih gelap berawan. Suatu perjalanan menuju Kabupaten Kulonprogo menumpangi bus tujuan Yogya – Wates. Bus nya reot, agaknya tidak untuk ditancap gas terlalu dalam, jelas knalpot nya berkerotak. Cat luar bus hijau lumut pudar, semakin memudar dengan motif kelupas: dibakar matahari. Bus itu tetap ramai penumpang, kebanyakan pedagang yang memborong sayuran, kletikan losinan. Dagangannya bercecer, memakan dua sampai tiga bangku penumpang. Si pemborong merangkul dagangan, takut semakin bercecer. Sedang di depan pasar berjejer truk sayur siap angkut. Barangkali bus reot itu akses transportasi termurah: jauh dekat empat ribu rupiah.

Saya duduk tepat di belakang bangku sopir bus. Jok nya coklat susu pudar, kainnya tidak utuh, memungkinkan busa mold kuning jok timbul keluar. Penumpang bus semakin bermacam. Kini saya duduk bersama salah seorang ibu pemborong; ada pun di pojok belakang seorang bapak tua menenteng karung pisang, lalu pemuda yang berlagak fasih menghirup puntung asap bergelantung di pintu―merangkap kenek. Seolah kehidupan yang nyata: ada bau minyak wangi, tapi ada juga bau petai. Bahkan jengkol. Ada bau kretek, peluh, dan bensin. Tak cuma parfum impor.

Perjalanan dinuansai dialog dan guyon dalam Jawa kromo. Si sopir turut menimpali: semakin luwes. Penumpang lain turun, bahu-mebahu memikul borongan yang dibalut rafia. Hanya bersisa saya dan sopir bus yang kembali menggeser persneling, gigi satu. Sopir bus memulai bercakap dalam bahasa, tanpa mampu menghilangkan dialek inggil. Saya menjawab asal Bogor, tapi masih darah Jawa. Perihal ingin mlaku-mlaku ke salah satu wisata kota Wates, mumpung masih di Yogya. Bapak sopir itu kemudian bercerita, “Saya belum sempat mengajak anak saya main ke Bogor, ke Puncak. Waktu itu masih banyak kebutuhan sekolah jadi belum mampu. Sekarang putri sudah terlanjur pindah jauh, ikut suaminya.” Suaranya tidak nyentrik, tuturnya adem. “Apik toh Puncak. Saya tidak ada libur narik bus, ke Bogor kan jauh. Sekarang putra putri sudah terlanjur besar, paling-paling ajak cucu.”  Keinginan yang begitu sederhana dalam kejujuran yang segar. Seolah meredupkan desakkan suatu pola umum, dimana semua orang tak mesti hidup dalam arus kelayakan yang pragmatis.

Bapak sopir kembali menceritakan sanak keluarganya, lebih intim. Bahwa hidup adalah sesuatu yang tenang tapi pada dasarnya riang, ibarat rumput hijau yang tidak mahal: namun bersih. Bahwa seorang bisa merasa kaya tanpa takaran harta benda, sehingga terbebas dari nota bene berada, bebas atas rasa congkak pun sewenang-wenang, mampu memberi tanpa merasa kehilangan.

Saya seolah terbangun di sore itu.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Life is surrounded by good people, indeed.


Tulisan saya kali ini sedikit membahas mengenai perspektif saya terhadap instrumen lingkungan sosial: orang-orang dan segala komplemen yang meliputinya, lalu koheransi dalam ekspresi ‘bersosialisasi’ di lingkungan kita berada. Ya, semoga tidak dipersepsikan unsur pencitraan di dalamnya.

Waking up with plans. Bangun tidur (untuk muslim) lalu beranjak ambil wudhu, sholat shubuh. Di akhir memanjatkan doa, kemudian memanfaatkan spasi waktu antara doa dan menguap untuk menyusun rencana: Akan memberikan manfaat apa saja saya hari ini?


Salah satu cerita―pengalaman diri―yang sebermula menarasikan persepsi saya tersebut, dengan saya sebagai orang pertama, pelaku utama.


Pagi itu di Rumah Sakit bilangan Jakarta Pusat. Beberapa malam merumahkan diri di kamar pasien perihal merawat kakak yang sakit,  sekaligus menemani ibu saya, berganti-gantian menjaga. Sholat shubuh yang terasa dingin. AC bersuhu rendah tiap kamar memang di set bukan untuk penunggu pasien yang tidak difasilitasi selimut tebal hijau susu layaknya pasien. Ibu masih tidur, dan saya memutuskan turun ke bawah, menolak kedinginan. Saat itu pukul 5:15. Menunggu waktu sarapan, saya menempatkan diri di patio seating suatu convenience store RS setelah menekan Coffee Vending Machine: Toraja Coffee (yang rasanya lebih menyerupai Robusta coffee milk dengan extra shot). Dari patio seating terlihat beberapa warung makan tenda yang masih menggelar-gelar gorengan di atas container dialasi koran bekas. Jauh dari higienis, tapi entah kenapa terasa lebih ‘joss’.

Pukul 6.20, nasi uduk langganan—3 hari berturut-turut beli di ibu yg sama—sudah ramai pembeli. Saya duduk, memesan dua bungkus, satu untuk ibu saya. Ceriwis, tapi ramah. Tipikal penjual yang ketika calon pembeli nya baru melongok, sudah melipat kertas dan menyentong nasi—supaya pasti beli. Begitupun pada saya, dan kebetulan beliau sudah terlanjur mulai hafal. Mungkin karna baju saya belum diganti dua hari.

“Enak bu nasi nya, pulen. Besok pagi saya beli lagi ya.” Lalu beliau tersenyum ceriwis, dahinya mengkerut. Suatu kesenangan tersendiri ketika basa-basi itu dapat menghidupkan ‘sosial’ yang sederhana, lebih elementer.

Kembali ke kamar; membawakan makanan, mandi, dan mengerjakan apa yang dapat membantu. Setelahnya, saya memutuskan pergi keluar, mencari hal yang dapat diproduktifkan. Kalau menurut saya: sebaik-baiknya waktu adalah waktu yang produktif, produktif untuk pelbagai hal positif. Sesederhana mencari kopi, browsing lowongan kerja dengan selingan buku bacaan, bertemu orang, membangun percakapan yang ringan, namun penuh atensi. Atau mana tahu menjadi barang satu dua pengabulan atas doa-doa orang yang memanjatkan, pun sebaliknya. Toh kita memang dikehendakan demikian.

Jakarta padat merayap, memastikan saya untuk memilih aplikasi transportasi online untuk berpergian. “Mbak Astrid ya?”. Bapak nya ramah, senyumnya ketarik, terbatas oleh helm. Seketika beliau menyodorkan helm penumpang, mempersilakan naik.

“Ini mau lewat mana mbak?”
“Lewat yang menurut Bapak enak aja. Saya nggak buru-buru.” ―Padahal karna nggak tau jalan.
“Lewat jalan yang nggak panas aja Pak kalo ada. Hehe.” ―Entah permintaan macam apa.
“Haha. Mbak nya darimana toh?” ―Ketawa kecil sebagai respon atensi; lalu muncul percakapan basic yang mesti diulang-ulang, karna terbentrok knalpot dan polusi.

Manfaat sampingan yang acapkali tidak diindahkan: sampai tujuan dengan isi di dalamnya akan lebih terasa ‘selamat’, bukan?

Kopi Arabica, buku, laptop, dan sepotong kue. Mengerjakan hal-hal yang dapat diproduktifkan, rekonsiliasi antara implementasi dan yang tadi direncanakan. Sesekali mengalihkan fokus ke lingkungan sekitar. Memerhatikan kegiatan tiap orang dengan gerak tubuhnya masing-masing. Sesekali pula melepaskan earphone, mengalihfungsikan telinga untuk merespon tegur sapa peminum kopi sebelah. Adpertensi obrolan yang lumrah dari mengangkat objek di atas meja sebagai buah obrolan. “Hobi buku juga, mbak?” Basa-basi ringan yang membuka obrolan lebih intim atas pemikiran masing-masing, lalu biasanya terasa kontra.  Saya menikmati seni daripada cukup mendengarkan dan mengangguk pelan, mencoba menyelami pemikiran dan karakter setiap orang. Toh tidak semua percakapan menagih konklusi, dan begini yang saya tahu: Kita semua terdiri dari bermacam aliran pikiran, latar belakang sosial-kultural, dan berbagai kepentingan, yang—jika didengarkan semua secara saksama dan bebas—akan memperkaya batin kita sendiri.” – Mas GM.
Memperkaya batin dengan tidak menyinggung batin orang lain―bertukar pikiran dengan rendah hati. Karna kesalahan dan kebenaran masih terdengar relatif.

Sore yang hangat, mengangguk halus meminta izin pergi duluan pada si peminum kopi sebelah tadi. Saya selalu menikmati berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Melawai. Lalu lalang nya hangat, hiruk pikuk jalanan yang dipenuhi jejeran ranah bisnis tidak terasa kasar. Lalu pandangan saya teralihkan ke sebuah warung nasi kecil, di dalam suatu jendela setinggi paha orang dewasa. Jadi pembeli nya harus jongkok dan melongokkan diri ke dalam jendela penuh bermacam lauk tersebut. Penjual nya ibu-ibu, mungkin kisaran 60 tahun. Beliau duduk lesehan sejajar dengan lauk-lauk dagangannya. Saya mengikuti gerakan fasih bapak-bapak yg terlihat sudah sering makan disana, jongkok dan menunjuk beberapa lauk. Saya ikut pesan, kemudian duduk di satu dingklik kayu panjang bersama bapak-bapak tadi, diikuti beberapa pembeli lainnya. Namanya Ibu Sunarti, saya berkenalan. Bapak-bapak sebelah tadi ikut nimbrung. Kiranya heran melihat saya makan disana, jelas di seberang sedikit ada rumah makan cukup besar. Bapak-bapak di sebelah lagi masih menyenderkan karung sampah dengan hati-hati, diletakkan jauh dari dingklik kayu, supaya tidak mengganggu. Rupanya beliau seorang ‘Bapak yang mencintai kota ini, dengan bekerja memunguti sampah’. Saya tidak banyak bicara, sampai saya mengembalikan piring ke Ibu Sunarti dan kembali duduk di dingklik kayu itu. Berniat pulang ke RS, saya meraih handphone, kembali mengandalkan kepraktisan transportasi online.

“Melawai VI mbak.” – celetuk si Bapak, mendengar saya gelagapan ketika menjelaskan posisi di telfon.
“Mbak mau pulang kemana, toh?
“Mbak tunggu disini saja, sampai supirnya datang”
“Ngopi mbak, mari.”

Beliau menaikkan gelas plastik keruh berisi kopi hitam Kapal Api punya, tanda menawarkan. “Monggo Pak, mari”. Penolakan yang terasa seperti sekadar mempersilakan. Saya menghabisi beberapa menit menunggu dijemput sembari bercakap. Tidak intens, namun terasa aman: seperti ditemani.

Lalu saya pulang, bersalaman dengan si Bapak, melambaikan tangan pada Ibu di balik jendela penuh lauk. Keduanya—Bapak dan Ibu Sunarti—menyerukan terimakasih dengan senyum lepas. Saya melepaskan senyum tak kalah lebar, berterimakasih kembali. Menarik ketika berbagai instrument masyarakat dapat kita selami, dengan kebermanfaatan diri yang sekiranya tersalurkan: apapun itu. Bukankah bahagia yg utuh, adalah bahagia yang turut membahagiakan orang lain?

Sampai di RS; mulai hafal dengan wajah Bapak satpam yang bergantian shift dan beberapa petugas lift. Menegur pasien baru di tempat tidur sebelah, nenek kelahiran '32. Agaknya penyakit pernapasan akibat umur. Nama beliau nenek Sasthi, masih sangat pintar dan cekatan di umur sekian. Belum ada yang datang menunggui, lalu saya menawarkan menyuapi makan malam. Katanya: kamu mirip cucuku. Mungkin benar, atau lebih mungkin menurutnya wajah remaja memang mirip semua. Saya dan ibu tidur di kasur lipat, berdoa menutup hari itu. Hari yang baik; dikelilingi orang-orang baik.

---

Kesederhanaan dengan tidak menjadi pengertian penuh hipokrasi dan dipersoalkan. Semua orang adalah baik, karna ditakdirkan menjadi baik, hanya kadang terpatok batasan yang tidak dikehendaki. Sungai pun ada batasnya, tebing-tebingnya, tapi apakah sebuah sungai berarti hanya tebing-tebingnya?


Selamat menebar kebermanfaatan, kawan.
Semoga tulisan ini bisa menjadi impresi daripada itu.




Salam sejahtera selalu,
Astrid Astari.



Jumat, 30 September 2016

Si mas di pelataran Masjid

Idealis.

Bagaimana jika diksinya dialihposisikan sebagai,

Menempatkan diri pada posisi yang sepantasnya—setelah memantaskan diri—sebagai formasi penghargaan terhadap doa dan ikhtiar—yang terbaik.

Toh kalau memang gawang yang ‘idealis’ katamu itu tidak ditembus bola nya, berarti memang tidak yang terbaik, simple. Lalu kembali berikhtiar, untuk pelbagai hal yang tersebut lagi-lagi: idealis.

“Lalu beritahu hingga kerikil sebongkah apa kakimu itu tak lagi menang dari sandungan?” – kerabat si mas, menagih.

Bagaimana kalau kusebut, selamanya waktu sehingga Sang Pengatur menaruh kuasa memutar-balikkan hati—tinggal menunggu. Satu baris terbawah di daftar takdirku, memang Ia kosongkan untuk barang sepenggal doa dan ikhtiar, bukan?

…fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallahi innallaha yuhibbul mutawakkilin (QS 3:159)

Dan mungkin kusebut: hingga hati—batin—tidak mampu mendefinsikan runtutan perasaan di dalamnya. Seperti terjerembab, ketakutan akan lubang yang sama. 
Sekarang kau jawab: adakah yang lebih menjanjikan, daripada pasrah dan tidak peduli?


Mari ambil wudhu.




***

Rabu, 07 September 2016

Alegori #02

Zawalus samsyi, menghabisi petang
Kopi hitam ufuk barat itu, mengisi ambang perempat cangkir
Sekiranya mampu menanggung percakapan,
Mengiringi cerita

Kamu tahu dunia?
Mereka: konversionalis itu, menjelma pujangga tanpa arah
Menanggung alih manusia-manusia selayak remah
Tidak pun ada menapaki keseluruh ranah

Ah, berat. Kintamani mu tak sepadat tanah

Kamu tahu rindu?
Memburui waktu untuk kembali bertemu
Membawa sebuku percakapan, atau setidaknya, berjabat tangan
Hai, bagaimana kabar
Dengan sederhana meringkuk saling bersandar
Tenggelam bersama kopi malam, kudapan
Menyelami kerinduan yang tak menagih masa depan
Hingga kala meringsut kembali dalam perpisahan
Sampai jumpa lagi,
Di lain kesempatan.

Satu teguk lagi, menutup ba’da ashar
Kintamani mu semakin masam

Lalu,
Kamu tahu cinta?
Selain saya, pada ibu saya?




08/09





Rabu, 17 Agustus 2016

Astrid Astari, 2012 – 2016

Memulai tulisan…. Yg sekiranya mungkin akan lumayan, sedikit banyak, cukup panjang. Blog saya kali ini perihal masa perkuliahan; dari awal sampai dengan saya memulai tulisan ini. Yha, monggo..

*stel playlist*

Koes Plus;
Koes Plus;
Koes Plus lagi deh.


SNMPTN/Tes masuk kuliah/Dan segala proses nya

Astrid Astari, XII IPA F, SMAN 5 Bogor –

“Anak perempuan kok berantakan banget kamu Trid!”
“Mau kemana? Dispen lagi?”
“Itu pojok belakang deket jendela jangan tidur!”
“Siapa itu yg makan di belakang?”

Gue. Makan kuaci. Dialasin buku LKS kimia. Ngumpetin kuaci yg belum ketelen di bawah lidah. “Nggak ada, Bu.”

Kemudian saat penjurusan universitas, seonggok guru wali kelas bertanya kepada Astrid Astari perihal pilihan perguruan tinggi, dengan antusiasnya, saya menjawab, UI. Saat itu pula gue dihadapkan dengan refleks mimik guru wali kelas tersebut yg mengerenyit seolah berkata “Ghimana..”

Singkat cerita, gue mati-matian bimbel sana sini, mborong buku detik-detik, dikerjain sampe ngelotok, berdoa, sholat pagi malam, cium tangan ibu. Kebetulan gue jadi agak pinteran dikit. Jam main basket gue alihkan di meja belajar. Dan man jadda wa jadda, kalimat paling sakral muncul di login SNMPTN tulis saya –  “Selamat Astrid Astari”.

“Ketika anggapan remeh orang lain menjadikan motivasi terbesar, dan apa yg diperoleh adalah seberapa usaha untuk memperolehnya.  Sesungguhnya akan selalu ada tempat untuk mereka yg berjuang.” – Astrid Astari, calon mahasiswa UI.


MABA (Mahasiswa Baru)

Selanjutnya, gue berprofesi sebagai maba, mahasiswa baru, di prodi Teknik Lingkungan, Departemen Teknik Sipil, kampus biru, UI. Yg mana harus merasakan yg namanya ospek-ospek drama. Banyak rangkaiannya; conditioning, OKK, dan gue lupa, sampai pada intinya, kegiatan MADK. MADK ini dilakukan di masing-masing departemen. Dan ternyata departemen gue isinya singa muda dalam bentuk denotasi semua. Galak banget edyan.. Walaupun gue tau sistem tren dan drama sinetron, tetep aja gue takut. Dan jadi maba nunduk, cari aman, gak gerak-gerak, biar gak ditunjuk.  Pokoknya MADK MADK gemes ini diisi dengan baris, dipanas-panasin, dimarahin, digiring-giring, seragam, cem anak panti, makan nasi bungkus, item, dekil, keringetan, gak tidur, gak mandi, gak gosok gigi. Yha tapi tanpa proses ini apalah momen yg mengindahkan masa awal perkuliahan. Betul? Betul.

Selama menjadi mahasiswa baru—selama belum punya junior—udah cukup banyak kegiatan yg including maba, atau memang diperuntukkan untuk maba. Berkesan, semuanya buat gue adalah hal baru. Sibuk-sibuk sok seru yg memang seru. Rutinitas yg dilakukan maba seru ini kurang lebih berkenalan lebih jauh dengan senior. Salah satu pertanyaan template yg selalu gue dan rata-rata maba lain tanyakan adalah; “kak, kalo lagi banyak tugas dan lagi banyak kegiatan lain juga gimana?” “ya, gak tidur”. Ketika itu gue cuma mengucapkan lafal “ooh” yg sedikit dipanjangkan dalam konteks cari aman, yg padahal dalam hati bergumam “masa sih gak tidur..”

((masa sih gak tidur))

Kemudian gumaman gue tersebut, terjawab di bagian berikutnya.


Mahasiswa Aktif Teknik Lingkungan Universitas Indonesia

Kosan – Warkop – Warteg – dan Astrid

Selama perkuliahan gue ngekos di Kutek (Kukusan Teknik), gang nya tepat di seberang Fakultas Teknik. Sepanjang gang isinya memang full dengan kosan, warteg, fotokopi, cilor, maklor, dan mecin mecin lainnya. Gue ngekos di salah satu kosan wanita, cukup jauh dari gerbang Kutek, namanya kosan Azelia. Lokasinya berada di hook, depan belakang kiri kanan tempat makan, laundry, fotokopi, warung, (bahkan) salon. Sehingga gue gak berniat pindah cari kosan lain walaupun jaraknya lebih deket dari kampus. Kosan gue kebetulan ditunggui oleh satu keluarga yg sekaligus dipekerjakan disana. Mas Piar punya istri Mba Sofi, punya anak Tina, balita 2 tahunan.  Tipikal kosan yg sangat aman, walaupun gak ada jam malam. Ya jadi masing-masing kamar dikasih kunci pintu gembok biar bisa pulang sewaktu-waktu, tengah malam sekalipun.

Lanjut 

Rutinitas Astrid Astari setiap bangun pagi adalah ‘medang’ teh panas, atau kopi. Kebetulan gue anaknya selalu bangun pagi, jam 5.00 untuk sholat Shubuh dan gak tidur lagi. Kalopun tidur lagi, maksimal jam  6.20 udah pusing kalo ditidurin lagi. Karna gue gak melihara pemanas air di kamar, jadilah gue setiap pagi selalu berkunjung ke warkop for the sake of ‘medang’ tersebut. Warkop Bogajaya, letaknya kurang lebih 200 meter dari kosan. Kalo sewaktu-waktu gue gak kesana, berarti gue lagi puasa, atau lagi pulang ke Bogor. Oleh karna se rutin itu, maka jadilah seluruh mas-mas dan beberapa pegunjungnya akrab dengan saya… Sampai pada tahap gue gak perlu menyebutkan minuman apa yg mau gue pesen saking itu-itu-aja-gak-ganti-ganti: “Teh panas gulanya dikit banget”. Gak hanya pagi-pagi, setiap malem kalo gue butuh begadang, atau gue sahur, pasti gue kesana. Nescafe atau kopi kapal api hitam. Duduk, kadang sambil bawa bacaan atau belajar, ngobrol-ngobrol ringan.

“Mba Astrid lagi UAS ya?” – akrab
“Mba, masih ngekos di ajelia kan?” – ajelia, pake j
“Mba Astrid datang ya saya Maret mau menikah”
“Mba Astrid, ini ada yg kirim surat, katanya buat cewek yg minum teh pagi-pagi..”
“……..”

Se kangen itu. Mas-mas nya super baik, pengunjung yg lain juga dengan santainya ikut nimbrung, ngobrol. Lalu nyaman. Lalu baper. Oh salah.


Makan, sarapan

Gue juga kebetulan anaknya sarapan banget. Range jam 7 sampai jam 8, pasti gue udah harus sarapan. Jadi di depan warkop kesayangan tersebut, berdirilah sebuah warteg kesayangan gue juga. Warteg Salero. Gue selalu take away lauk-lauk, gak pake nasi. Sama halnya kayak warkop Bogajaya, tinggal gue bilang “biasa mba”, kemudian langsung dibungkuslah makanan gue. Telor, sayur, tempe. Enam ribu. Lalu gue makan dikosan, ee, mandi, dan berangkat ke kampus. Selesailah semua urusan pagi hari Astrid Astari.


Kampus – Tugas – Tugas – Tugas – Sampe – Gila

Semester 1, semester 2 masih aman sejahtera. Isinya MPKT. 6 SKS. Nilai A. IP menjulang. Dipuji ibu. Masuk semester 3, mulai masuk mata kuliah Teknik Lingkungan, IP juntai, dimarahin ibu.

Kalo gue ceritakan disini perihal mata kuliah, gak akan dimenegrti juga. Intinya semester 3,  4, 5, 6 gue dipenuhi dengan kenistaan tugas kuliah. Kenistaan yg menjawab pernyataan senior di atas, gak tidur. Emang. Gak tidur. Bahkan kalo gue bisa beli waktu 25 jam untuk 1 hari, sumpah gue beli.

Kebetulan gue anaknya terbilang cukup perfectionist, atau ribet yg gak perlu, beda tipis. Se simple ruller dan margin word beda 0,00001 mikrometer, gue benerin dulu, sampe rata, baru dilanjutin. Sempat beberapa mata kuliah bener-bener mengharuskan gue gak tidur 3 hari 3 malem, sampe mual minum kopi, melayang-layang. Karna emang bukan karna tugas aja, tapi kegiatan dari kepanitiaan, organisasi, basket, dan sebagainya yg turut memenuhi waktu-waktu kuliah gue. *Kegilaan kegiatan kuliah gue pernah ditulis di post sebelumnya.

Puncaknya, suatu mata kuliah, sebut saja PALDOM, yg mana saat UAS diharuskan membawa tugas besar indvidu mata kuliah tersebut, berisikan belasan gambar CAD sebagai lampiran dari ratusan halaman laporan. Jadilah saat UAS gue sama sekali gak tidur, gak mandi, bahkan gak gosok gigi, langsung ke kampus, UAS, ngantuk, gembel, ngefly. Astagfirullah.

Dan berakhirlah masa kenistaan tersebut. Semester 7 dan semester 8 berjalan berangsur membaik. Mengejar Indeks Prestasi Kumulatif.


Kisah asmara??

Oke skip.


SKRIPSI

Dan ini diaaa!
Bagian hidup perkuliahan paling… I’m lost beyond words.

Baiklah, ini kisah skripsi saya.

Dimulai dari… memilih judul. Bahkan, se-paling awal memilih judul pun susah nya minta ampun, kek milih jodoh. Asli. Ketika lo udah menyiapkan judul skripsi sedemikian mantapnya, kemudian digoyahkan oleh seonggok calon dosen pembimbing yg tanpa dosa berkata “kamu yakin?” “judul skripsimu itu…. Dibawah standar mahasiswa”. Ambyar. Jadilah milih alternative judul lain, survey sana-sini, sampai ahirnya mendapatkan judul yg setidaknya cukup mumpuni, di H-1 deadline ok nice.

Kebetulan untuk skripsi, gue mengambil peminatan air bersih. Kenapa air bersih? Karna seyogyanya gue parno dengan makhluk hidup bernama belatung yg mana akan gue temui kalo-kalo ambil tema limbah padat atau cair. Studi lokasi yg gue ambil yaitu PDAM Kota Bogor, dengan judul…

“Evaluation of Uprating System in WTP Dekeng I PDAM Tirta Kota Bogor”

Jadi sistem uprating adalah suatu sistem inovasi baru dalam menambah kapasitas air dengan oh cukup. Ya, begitu awalnya. Dan Alhamdulillah di PDAM ini gue sangat dimudahkan dan dibantu oleh orang-orang yg sangat berperan di dalamnya. Dari mulai pegawai, operator, satpam, semuanya super baik sampai terharu biru.


Astrid Astari, Prof Djoko,  dan Revisi

Pada saat penentuan dosen, gue kedapetan dosbing (dosen pembimbing) Prof Dr. Ir. Djoko Mulyo Hartono S.E., M.Eng. Iya emang namanya panjang, bagus buat di undangan. Beliau ini sangat baik hati, jenius, dan solutif. Tapi sayangnya, tulisannya menyerupai sandi rumput. Sehingga revisi yg diberikan ialah semata-mata untuk direvisi lagi.

Singkat cerita, perjalanan skripsi gue sampai dengan seminar (sidang skripsi bab I II III) berjalan Alhamdulillah lancar. Kemudian berlanjutlah ke bab berikutnya di semester 8, yaitu bab IV sampai bab IX. Yha.. 9 bab. Oleh karna cakupan skripsi gue sebanyak itu, jadilah gue men-break down hingga 9 bab, dengan total 267 halaman. Berasa bikin kitab.

Ketika semangat menjuntai, niat setara tanah, lalu mendadak berapi-api kembali atas seuntai lantun:

“Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yg selesai”

Waini. Jadi siklus perskripsian gue adalah observasi langsung – komparasi data – ngelab - input data – asistensi ke dosen – “ini kayaknya kamu ada yg kurang” – revisi – observasi lagi – gitu terus sampe lebaran. Se banyak itu halangannya karna lo bener-bener ngelakuin semuanya sendirian. Se jiper itu ketika temen-temen lo dengan ciamik nya bersabda bahwasanya skripsinya-hampir-kelar dan lo masih menggila dengan penelitian.

Metode pengerjaan skripsi gue adalah kejar target sampai tercapai. Gue (hampir) selalu menempatkan diri di café (paling sering Starbucks) (apalagi Starbucks GI), buat merampungkan skripsi ini, dan selalu di kursi favorit, gak pernah pindah. Kira-kira dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam, dan berlangsung  cukup sering sampai dengan satpam nya kenal, akrab, lalu shalat berjamaah. Mantap.

Panjang cerita, dengan separuh waktu hidup saya yg dihabiskan untuk mengerjakan skripsi, tibalah saya pada pembagian jadwal sidang skripsi :’) dan kebetulan lagi, gue mahasiswa pertama yg sidang di Teknik Lingkungan 2012. Ketika lo gak punya referensi tentang dosen penguji, dan lo yg dijadikan cemilan dosen pertama kali. Tapi alhamdulillahirobbilalamin, sidang skripsi pun berjalan lancarrrr selancar dosen nyoret-nyoret buat revisian. Gapapa.

Keluar ruangan, dipelukin orang-orang, dikasih bunga, foto-foto, bahagia :))

01/06/2016 - Astrid A. Dirgawijaya S.T.


#blessed


Ucapan terimakasih yg dalam kepada:
  • Kedua orang tua serta kakak saya
  • Bapak Prof. Dr. Ir. Djoko Mulyo Hartono S.E., M.Eng. selaku dosen pembimbing;  Bapak Dr. Ir. Firdaus Ali M.Sc. dan Ibu Ir. Irma Gusniani Danumihardja M.Sc selaku dosen penguji
  • Seluruh karyawan laboratorium Cipaku PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor
  • Teman-teman dan semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu saya dalam penyelesaian skripsi
  • Mas Aziz dan Mas Ahmad selaku pemilik Warung Kopi Boga Jaya Kukusan Teknik yang selama masa perkuliahan saya selalu menjadi tempat berbagi cerita, mengerjakan tugas, mendoakan serta memberikan semangat;
  • Seluruh karyawan dan satpam Starbucks Botani Square Bogor serta Starbucks Grand Indonesia yang selama pengerjaan skripsi telah menjadi tempat sehari-hari menyelesaikan penulisan skripsi ini;
  • Dan seseorang yang tanpa sadar telah menjadi inspirasi.

****


Astrid Astari, Calon Wisudawan 2016..

Selantun kalimat yg akan acapkali tergumam, “Kayaknya baru kemarin..”
Kemarin yg seolah berjalan dengan teori detik, menit, yg sebenarnya.
Empat tahun yg tidak terasa
Empat tahun yg entah apa kontribusi saya sebagai seorang mahasiswa
Setidaknya saya pernah mengisi sepenggal paragraf pada cerita hidup orang-orang di sekitar saya
Setidaknya ada barang satu dua orang yg menceritakan kembali pembinaan saya
Setidaknya ada inspirasi diri yg sekiranya tersampaikan
Setidaknya…
Saya sangat, teramat, bersyukur, atas pencapaian cita-cita saya
Mahasiswa Teknik Universitas Indonesia





Salam hangat, calon alumni UI
Astrid Astari











Jumat, 10 Juni 2016

Alegori

Tentang sebuah kapal
Berlayar memetaskan tali
Meninggali labuhan
Jauh
Menjauh
Awan hitam, kilatan yang berdentum
Mereka tak berhenti
Hanya memutar kemudi
Menunggu basah
Yg akan kering lagi
Semakin jauh
Tenang, namun menjenuh
Tak untuk kembali
Tak untuk berhenti
Hanya saja menggurat lirih
Menantikan basah
Yg tak akan kering lagi.


10/06

Selasa, 12 Januari 2016

2016 first post

Dimulai dengan… menyamakan persepsi.

Seperti ini.
Have you ever been asked something like, “Lo kok suka kemana-mana sendirian sih?”

Yang kemudian pertanyaan tersebut diikuti dengan alis penanya yang perlahan mengerenyit, dan diikuti imbuhan semacam “Kayak jomblo aja”

((Kayak jomblo aja))

Kebetulan gue tipe orang yg cukup sering ditimpa pertanyaan demikian. Emang karna gue suka, hobby, dan sering jalan-jalan sendiri. Entah itu sekedar ke mall, ke alam-alam, dan paling sering ke café. Beli baju, headset, liat-liat sepatu, keliling Ranch Market lanjut nyicipin taster Francis Artisan Bakery, nyobain perfume bodyshop trus keluar lagi. Kemudian ke café for the sake of sepotong raisin scone dan hot cappuccino. Puter playlist The Smiths, shuffled to Stan Getz & Joao Gilberto.

Gue menikmati momen-momen dimana gue gak perlu melibatkan orang lain untuk membuat plan secara detail. Mungkin karna gue orangnya selalu punya plan sendiri dan gak bisa diganggu orang lain. Misalnya, hari ini mau ke A, trus beli ini di B, kemudian liat-liat ini di C, lanjut survey barang di D, ahirnya muter-muter sampe Z. Kesian temen jalan gue juga kalo harus ngikutin plan yang gue bikin. Dan gue orangnya gak enakan dan takut ngerepotin orang. Bahkan minta temenin ke toilet aja gak enakan. Padahal yang di gak enakin enak enak aja. Ketika semua plan dan keperluan, ke bm-an, ke ribetan, ke petakilan gue tertangani, di saat itu baru gue mengiyakan dan mengajak temen gue buat jalan bareng. Mungkin karna itu gue terlihat mandiri, semua-muanya sendiri, berasa gak butuh orang lain. Padahal gue anaknya drama Ftv. Makan red velvet union aja langsung sayang sama chef nya.

Lanjut. Once you become more comfortable of the idea of being alone, having time alone will be such a quality time. Quality alone time. Or what path girls call Me time. Padahal cuma potong rambut sendirian trus pulang. Well then, do you ever feel so done with uninterrupted whatsoever conversation padahal lagi sariawan atau ada cabe di gigi. And yaz! Dengan gue sendirian, gue gak perlu terus-terusan nanggapin omongan orang dan berusaha mencari topic pembicaraan. Bukan karna gue gak suka berkomunikasi dengan orang, tapi justru gue takut gak bisa bikin lawan bicara gue tersinggung dan gak nyaman. Anjaz. Pake z. Yes, I’m the type of talkless and basa-basi-less but thinkmore person, somehow.

Terkadang jalan-jalan sendirian bisa bikin lo kenal orang baru. Beberapa kali gue duduk manis di café sembari ngetik-ngetik anggun di laptop. Ya ada aja ya oknum-oknum curi-curi pandang ngelongok laptop gue dan... “mba nya lagi skripsian ya”. Basa-basi singkat yang menunjukan sedikit atensi… ya bole laa. “Ya mas, hehe”. Atau sesimple yg selalu gue lakukan ketika udah jam sholat, SKSD mode on ke mba-mba sebelah perihal nitip laptop dan tas yang gue tinggal di meja. Dari situ kemudian muncul a little talk which you unconsciously needed.