Jumat, 06 November 2015

Do you ever feel so tired of something and you just can't even leave?

Do you ever hesitate too much and all you can do is just stay?

Do you ever ask your self whether you’re happy or just comfortable?

Do you, ever, want to say many things but you’re unexpectedly dumb?



And those all spin around my mind.



Still with The Thrills,

Not For All The Love In The World 

Jumat, 24 Juli 2015

Yha Gimana...

Suatu hari di suatu café. Café lagi. Se cinta itu dengan ambiance café. Aroma kopi. Disandingi sepotong cake cantik. Cake cantik yang seharga 3 porsi nasi padang.

Kali ini gue menempatkan diri di sharing table, karna kebetulan cuma disini yang bersisa stopkontak. Bertepatan di seberang table berisi satu laki-laki bersama satu perempuan. Atau bisa dipastikan sepasang kekasih. Gerak-geriknya sedikit mengundang pandangan untuk tidak beralih. Si cowok mencoba memegang tangan cewek, dan tangan cewek terus menghindar. Wajah merengut, sembari mendumelkan semilyar duamilyar kalimat. Well then, mungkin si cowok nya gak peka, dan cewek nya lagi PMS.

Membahas pacaran jaman sekarang. Kalo di analisa, intensitas perberanteman antara si laki dan perempuan semakin meningkat seiring penurunan tingkat kepekaan si laki, yang dibarengi dengan peningkatan ke banyak mau an dan ekspektasi perempuan. Betul? Betul.

Pada dasarnya perempuan akan berharap lebih banyak pada orang terdekatnya, apalagi pacarnya. Namun, hakikat laki-laki adalah realistis dan melakukan apa yang hanya ada di pikirannya. Ya untung kalo di pikirannya ada unsur keperipekaan, nah kalo gak ada, syaraf akseptor kode dari si perempuan keluarlah bersama kentut.

Jadi itulah mengapa laki-laki lebih menyukai sesuatu yang dengan jelas disampaikan. Tapi balik lagi, beberapa perempuan memiliki kesulitan menyampaikan sesuatu secara jelas dan tepat sasaran. Termasuk saya. Bukan karena tidak bisa mengungkapkan, tapi tidak tau bagaimana caranya. Jadi disinilah diperlukannya kerjasama antara kelemahan si laki dan si perempuan untuk saling komunikasi dan melengkapi.

HAHAHA. PRETTT.

Contohnya kasus ini. Suatu hari si perempuan sedang sakit flu, dan si laki sedang ngantuk di kamar.

Di Line

L : Kamu gimana kondisinya yang? Udah baikan?
P : Beluuuuumm yaaaanggggg akuuuu masih sakitttttt kerass huhuhu (diikuti emote sad)
L : Yaampun cepet sembuh ya beb. Tp kamu udah makan kan?
P : Beluuuuuummm mbeep disiniii gak ada makanaaaan aku laperrrr tp gak bisa kemana-mana (kali ini diikuti emote nangis 1 paragraf). *Berharap si laki bergegas membawakan makanan ke rumahnya dengan berkata demikian
L : Ya udah kamu istirahat aja ya sayang, aku juga mau tidur dulu ngantuk.
P : YA UDAAH SANAA TIDUR AKU GAK MAU MAKAAN MAU MATI AJAAAAA

Dan akhirnya si perempuan betulan meninggal.

Tamat.

Mungkin salah satunya begitu. Atau mungkin kasus seperti ini.
Si laki sedang hangout bersama teman-teman cowoknya dan beberapa teman wanita. Si laki tidak mengajak si perempuan untuk ikut dan belum menghubungi kembali si perempuan tersebut, sampai akhirnya dia update foto bersama di media social Path.

"Lunchtime with the gaaaeeess B-) – With Ani, Tini, Budi, Tono at Warteg Bahari."

Fotonya asik, dengan hasil jepretan lensa menyerupai mata ikan gopro punya. Tangan si cowok menggeggam tongsis yang diperpanjang, sehingga sisa kobokan dan es teh manis masih tertangkap kamera.
Bete dengan posting si laki, si perempuan tidak mau kalah update. Kemudian ia pun post listening song, Kekasih Yang Tak Dianggap – Pinkan Mambo, dengan caption hanya emote smile. Berharap di view si laki, si perempuan dengan intens mengecek viewers postingan lagu tersebut.

Akhirnya si cowok men view postingan pacarnya. Dan beberapa saat kemudian muncul notification di layar hp si perempuan, “Si laki laughed at your moment”.

Kemudian terjadilah perang dunia ke 3.

HAHA

Maaf ya


Yhaa kira-kira demikian. Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf atas kesalahan kata dan kesamaan nama. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Senin, 08 Juni 2015

Sedikit bercerita.

Ditulis 8 Juni, 2015

Ketika itu malam hari, di pinggiran blok ruko yang sudah tutup. Seorang tua renta melonjorkan kaki sembari membenahi karung sampahnya. Kemeja kebesaran biru muda yang sudah bergradasi abu-abu, celana hitam usang dan sobek, serta bucket hat yang terlihat seperti pelindung kepala. Beliau mengangguk kecil dan tersenyum, demikian pula saya. Ketika itu saya berpikir, apa yang beliau sekiranya rasakan. Makanan apa yang hari ini telah beliau makan. Atau bagaimana perasaan sanak keluarganya yang merindukan. Bukan perihal seberapa banyak uang yang dibawa pulang, namun jiwa raga nya yang beliau pertarukan.

Sedikit tertegun, ketika uluran tangan ini menyiratkan senyum di hatinya. Terenyuh ketika sekiranya bisa menjadi salah satu jawaban atas doa-doa yang beliau panjatkan.

Selamat melanjutkan generasi bangsa kawan-kawan

Semoga kami bisa menjadi solusi untuk cerita ini.