Minggu, 28 Desember 2014

Sedikit saja.

(Ditulis 2 Desember dilanjutkan 20 Desember, 4:34 PM)

Selamat sore, tired people.

Selasa sore, hari kedua di bulan Desember. Melintir sejenak di suatu coffeeshop bilangan Jakarta Pusat, menempati diri saya di patio seating dekat jendela, mengaduk pelan hiasan leaf latte art di atasnya, lalu saya memulai menulis tulisan ini.

Seperti biasa, mengisi waktu sore senggang di café, scroll up & down playlist song sambil sesekali mengalihkan pandangan ke table sekitar. Kebetulan gak ada tugas yang harus dikerjain hari ini. Semacam janggal. Tp ibarat rejeki anak soleh.

Sekedar ingin bercerita sedikit tentang manuver hidup gue belakangan ini—tepatnya semester 5 ini.

Itu monologue.

Berawal dari oprec (open recruitment) 2 kepanitiaan besar di kampus sewaktu semester 4; CENS UI dan COARSE. CENS UI yaitu seminar nasional yang diadakan Departemen Teknik Sipil UI. Sementara COARSE berupa rangkaian acara yg sipil banget. Boleh di bold, sipil banget. Rangkaian nya ada CIPA, semacam kerja social di desa-desa perkampungan; CCUC, kompetisi futsal se Jabodetabek-ba, dan ragkaian terahir yaitu Civil Nite, malam dimana semua warga sipil ajojing-ajojing. Posisi gw di kala itu adalah anggota aktif Kresma IMS, yg mana SOP nya gak boleh ikut 2 kepanitiaan itu sekaligus.  Singkat cerita (sebetulnya panjang banget), gw jadi both of these committee, dengan jabatan staff Media Partner di CENS, dan BPH Kabid Civil Nite, dan masih sebagai anggota aktif Kresma 2014, dan mahasiswa-tingkat-tiga-teknik-lingkungan.

Awalnya gampang. Kesananya mau meninggal. That’s all.

Semester 5 dimulai dengan nyentang 6 mata kuliah di IRS; Isu Global, Mikrobiologi, Limbah Padat, Amdal, Hidran, dan Anstroke (Analisa stroke-tur). Perkuliahan dimulai, pergerakan kepanitiaan juga dimulai. CENS, Coarse, Kresma, dan basket teknik. Awalnya terbilang cukup santai. Ketika tas cangklong masih sanggup men cover weekdays di kampus, dan ketika sabtu minggu masih ngelonin remote TV di rumah.

Memasuki hari pertama di bulan Oktober, timeline kepanitiaan semakin ketat, latihan basket semakin padat, tugas semakin bikin sekarat. Waktu-waktu dimana sehari-hari ke kampus dengan tas ransel yang isinya kitab Limbah Padat dan Mikrobiologi (asli ini gede banget), nenteng tas laptop plus tas sepatu. Kawatir gw keropos dan memendek, sampe suatu waktu gw pernah mikir untuk beralih ke bawa carrier gunung sekalian. Atau tas koper-koperan jaman SD. Se beban itu.

Minggu kedua Oktober, dengan notaben Kabid Civil Nite otomatis memproyeksikan sebagian waktu istirahat gw di kosan beralih ke kantek. Jadi gitu, kantek bukan sekedar tempat makan. Tp tempat dimana jadi parameter keberadaan warga sipil. Berhubung tahun ini bertepatan dengan 50 tahun Teknik Sipil, warga menuntut Civil Nite yg lebih petjah dari tahun-tahun sebelumnya, kehadiran IAS (ikatan alumni sipil) yang jauh lebih banyak dari biasanya. Keliatannya gampang bikin acara, tinggal mengkonsep, list perlap, minta pendanaan, selesai. So far from it. Berkali-kali revisi rundown, berkali-kali ganti konsep buat klimaks acara, berusaha sebijak mungkin approaching dan backing up staff, follow up staff dan performers, berusaha se nggak-ngegas itu ketika selalu disalahin, buat selalu tenang ketika sama sekali belum siap dan mepet deadline, dan membagi porsi sebagai mahasiswa akademis, anak basket, staff CENS, dan anggota Kresma.  *senyum tegar*

Nowplaying: Gun N Roses – November Rain

Jadi siklus hidup nya ya gitu. Kuliah, rapat CENS, rapat Coarse, rakor Civil Nite, rapat Kresma, latihan basket. Ketika lagi rapat, izin pergi duluan buat latihan. Pas latihan, di sweeping buat proker Kresma. Pas rapat pleno CENS barengan sama rapat BPH Coarse dan latihan basket, ahirnya astrid di mutilasi jadi 3. Ahirnya yg mana yg paling prioritas dan mendesak yg didahulukan. Perasaannya ketika sesibuk itu dan masih ada prioritas pertama, tugas kuliah. Laporan Mikrob, laporan Mektan, tugas besar Anstruk, Limbat, Amdal. Sampe ahirnya yg paling dikorbanin adalah jam tidur. Menyambung hidup dengan kopi, sampe abang-abang warkop kenal Astrid Astari. Lucu rasanya ketika setiap pagi gw kesini, abang-abangnya selalu nyisain 1 sachet the tarik buat gw.

Pengorbanan lainnya, waktu buat keluarga. Sampe ahirnya gak ada waktu buat pulang di sabtu minggu. Entah alasan praktikum, kerja kelompok, acara kampus, dan kepantiaan-kepanitiaan ini pastinya. Kebetulan ibu sendirian di rumah (Bogor), yg biking gw harus sempet buat pulang. At least cuma numpang tidur semalem, yg penting nemenin ibu biar gak sendirian. Sedih rasanya membagi porsi terlalu kecil buat keluarga sendiri. Bahkan, untuk diri sendiri pun gak kebagian. Masa-masa dimana gw ngedrop dan migraine. Tp sayangnya gak ada waktu buat recovery. Imbasnya, jalan kaki dari kosan-teknik 1m/jam. Lemes banget boy.

Kebetulan lagi, di basket Teknik gw diangkat jadi kapten Teknik taun ini. Namanya juga kepten, harus selalu paling semangat dan menyemangati. Yg gak pernah skip latihan, yang men cover pelatih gw kalo berhalangan datang. Se lelah itu ketika lo abis begadang, ada latihan pagi jam 6, lanjut kelas pagi dan rapat sampe malem, tanpa meninggalkan tanggung jawab buat selalu mimpin latihan. That’s all how wise I was of hiding zombie’s eyelid. Bagaimana mentranformasikan lesu jadi on fire. Dan emang, lesu seketika hilang kalo sama team ini. Otaknya gesrek.



Ini namanya gaya ciluk ba buatan gandes. Posisi tangan ciluk ba. Mata fierce, mulut tajem tapi sexy. HAHA TOLONG LAH. Dan setiap foto harus selalu pose macem gini. Ya begitulah kira-kira.

Klimaks.

Hari H Civil Nite. Yg paling bikin otak keluar dari jidat, tanggal-tanggal segitu lagi gencarnya hujan badai Katrina di Depok. Yg mana gw harus muter otak buat nyiapin plan B Civil Nite di venue indoor. Tp subhanallah, hari H tanggal 14 November 2014 Depok se cerah itu. Cuma gerimis-gerimis becanda sore nya, selebihnya terang. Ketika konsep sudah matang semua, perlap oke, performers ready, then this is it. Alhamdulillah, malam itu acara Civil Nite terbilang sukses. Warga antusias. Performers gokil. Lighting keren parah. Dekor jg kece. Jadi people full in charge semalem, dan dipelukin orang-orang ketika acara selesai. Selesai… Bahagia :’) All is paid off. Kebayar rasanya waktu-waktu dan tenaga gw yg hilang buat bikin semua ini. 



"Bahwasanya dimulai sudah proses unloading kehidupan."


5 hari setelah Civil Nite, acara utama seminar CENS UI 2014, dimana 3 hari sebelumnya ada beberapa rangkaian acara CENS dan mengalokasikan gw sebagai LO tim Call For Paper. Singkat cerita, sampai dengan hari H seminar, 19 November 2014, hari Rabu, berlokasi di Gedung Nine Ballroom UOB Thamrin. No words supposed to say except Alhamdulillah. Acara berjalan super lancar. Key note speakers, professionals, participants, media, semua teknis, makanan, semua luar biasa. Sialnya panitia yg juga para lingki-lingki (anak teknik lingkungan) berhalangan hadir di acara sampe ahir karena praktikummikrobkampretsedunia. KARENA HARUS KE LAB KAMPUS BUAT NGITUNG BAKTERI. NGI-TUNG-BAK-TE-RI. But the euphoria still goes on. Yhey!



Kembali ke lapangan.

Prosesnya panjang. Pengorbanan nya membuat proses itu jadi lebih panjang. Beban hidup level advance adalah jam6 pagi latihan ketika jam 4 pagi baru tidur. Gak ada yg bikin semangat selain tanggung jawab dan saling support dari temen-temen team ini.

Jadi olimpiade basket dumulai tanggal lupa. Pokonya awal November. 3 kali tanding untuk babak penyisihan, Alhamdulillah tim Teknik putri masuk semifinal. Kebetulan jadwal buat semifinal basket di plot di hari Rabu, jam 7 malem, dimana pas banget gw ujian 3 anstruk. Ujian dimana siapapun yang meninggalkan, bahkan sekedar ujian susualan atau duluan, akan meninggal. Ahirnya malem sebelum semifinal gw ke pusgiwa UI buat ngomongin solusi dari jadwal ini. Jadilah gw tanding jam10 malem abis ujian anstruk-anstruk lucu itu.

"Bahwasanya beban hidup level tingkat professional adalah belum tidur 2 malem karna tugas dan belajar, besoknya ujian anstruk, abis itu tanding basket. Abis itu bikin surat wasiat trus order batu nisan."

Sayangnya target medali emas ditutup di semifinal, dan maju hanya untuk perebutan juara medali perunggu. Malem itu gw nangis. Air mata seketika gak ketahan ketika pengorbanan gw berakhir tidak tepat sasaran. Ngeliat temen-temen tim juga pada nangis, mungkin ini kewajiban gw buat mengambil alih peran pemimpin. Menguatkan ketika lo sendiri sebetulnya nggak kuat.

Ya namanya juga game. Ada yg kalah, ada yg menang. Mungkin mereka emang lebih hebat. Dan usahanya lebih berat.

On one, three two one?

TEKNIKKK!!!

Selalu berahir dengan yel-yel ini. Dilanjutkan dengan tos. Terlalu banyak yg disesali untuk sedih hanya karna belum dikasih momen untuk menang lagi. mungkin kita bukan tim hebat yg tidak terkalahkan. Kita keluarga teknik yg senang main basket bareng, yg sering tidur bareng, ketawa bareng, dan makan martabak bareng - Tessa.



: )


Dan terahir, KRESMA 2014. Farewell IMS dengan air mata sedih dan bahagia. 2 tahun sebagai anggota Kreasi Mahasiswa IMS UI, bangga banget bisa kerja bareng dengan orang-orang hebat di dalamnya. Dan selalu foto dengan pose tunjuk kanan, kiri, depan, atas, dan bawah. 

KRESMA 2013

KRESMA 2014


Ketika semua berahir, dan tinggal bersisa 1 notaben.
Astrid Astari, mahasiswa nocturnal makara biru semester 5.

That “haha iya ya” moment ketika mengingat kembali masa-masa hampir mati. Lucu rasanya hari-hari terburuk berubah jadi kenangan manis dan pelajaran paling berharga. Pengalaman paling luar. Sangat sayang dan bangga.
Kalo katanya kontribusi ibarat segitiga kecil yg menyusun segitiga besar, semoga gw pernah manjadi segitiga kecil itu.




Sekian.

Kamis, 17 Juli 2014

Lucifer - House For Sale


Lucifer - House For Sale Album


House for sale, one of oldies song I love the most--besides Everly Brothers, The Cascade, The Hollies etc. A melancholy and heartwarming song, as if we were brought to somewhere the song came off. This song tells us about memory of a house that would be sold, a dwelling where they (a couple) ever sheltered together in the ups and downs, until those left a bunch of memories when they were going to divorce and leave apart.



See the lyric

The sign went up one rainy morning, just a couple of hours after dawn. Mrs. Hadley peaked out through her curtains wondering what was going on. The neighbors said over coffee cups, that nice young couple is breaking up. And in the living room the linen and the crystals sit all packed and set to go. I tell myself once more I won't be here in spring to see my roses grow. And all the things you tried to fix. The roof still leaks, the door still sticks. House for sale, you can read it on the sign. House for sale, it was yours and it was mine. And tomorrow some strangers will be climbing up the stairs. To the bedroom filled with memories, the one we used to share. 
I know you've always loved that painting from that funny little shop in Spain. Remember how we found it when we ducked in from that sudden summer rain. But I think I'll keep the silver tray, my mother gave us on our wedding day.





House For Sale song, affectingly sung by Margriet Eshuijs, a vocalist from Lucifer band. Lucifer is a name of Dutch rock band which was created in 70's era with Margriet Eshuijs as keyboardist and vocalist, Henny Huisman as drummer, and Dick Buysman as bassist. This song was also ever be the most hits song at 1975.


There are also my favorite singers all the time; Russell Hitchcock, Klaus Meine, Robert Plant, Steven Tyler, and..... Bryan Adams of course! :))

Sabtu, 05 Juli 2014

Sedikit Mengkritisi, Bukan Berpolitisi


Disini saya mau sedikit mengkritisi capres dan cawapres 2014, atau sedikit berpolitisi ¾ bukan berarti saya seorang aktivis, apalagi sok aktivis. Oke, pengetahuan saya di bidang politik memang nggak banyak, bahkan saya belum pernah berkecimpung langsung di bidang paling krusial tersebut. Mengapa krusial? Pada dasarnya hal-hal terkait politik selalu marak di blow up di media-media. Sedikit melakukan kesalahan, pihak tersebut dicerca oleh seluruh rakyat, berbeda dengan hal-hal baik yang dilakukan, justru selalu disangkut pautkan dengan menjilat, atau hanya sekedar diintepretasikan sebagai pencitraan atas reputasi nya.

Pemilu 9 Juli 2014. Ada segelintir rakyat yang masih marak berkampanye, bertengkar dengan sesama fanatic kandidat yang berbeda, bahkan sudah muak dengan pengkritisan kedua kandidat, yang dirasa cenderung meresahkan karena perbedaan pendapat yang kerap kali digembor-gemborkan, dan pada akhirnya menjatuhkan salah satu pihak tanpa alsan yang valid. See? Seluruh jejaring social dimanfaatkan untuk mengemukakan pendapat dan pilihannya. Wajar. Karena pada hakikat nya rakyat Indonesia itu bersuara. Asal tidak keluar batas.

Pengkritisan kedua calon presiden semakin marak dengan adanya debat capres tiap minggu. Sedikit ulasan mengenai debat final capres hari lalu, 5 Juli 2014, yang merupakan hari kampanye terahir dengan mengusung tema pangan, energy, dan lingkungn hidup; memberikan gambaran akan visi misi serta pengetahuan masing-masing kandidat.

Sesi pertama diawali dengan pertanyaan visi dan misi terkait tema yang dibawakan. Hatta menyebutkan bahwa lingkungan hidup penting untuk membangun sector pangan dan energy. Negara berkewajiban memenuhi ketersediaan pangan yang terjangkau dan mudah diakses, maka ia menjanjikan sebuah komitmen dengan kedaulatan, ketahanan, keamanan, kemandirian pangan yang kemudian diarahkan kearah kebijakan. Tidak lain dengan cara ketersediaan pangan harus terjangkau dan bagaimana upaya kita untuk meningkatkan kualitas pangan dan gizi, serta mitigasi agar tidak ada kerusakan pangan. Di bidang lingkungan hidup ia mengutarakan bahwa sustainability menjadi keharusan, penting bagi kita untuk mengatasi global warming chance, konservasi untuk menjaga kelestarian. Beliau melontarkan himbauan akan keharusan untuk bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas air, udara, tanah, dan bagaimana upaya kita agar prinsip-prinsip dasar sustainable menjadi prinsip dasar. Menurutnya, lingkungan hidup bukan warisan, tapi sesuatu yg harus kita jaga dan tingkatkan untuk generasi mendatang.

Pertanyaan yang sama diberikan pada pasangan Jokowi JK. Jusuf Kalla menjawab, 5 tahun terahir pangan kita krisis luar biasa, apabila melihat jumlah lahan padi dan jumlah penduduk Indonesia. Beliau mengemukakan bahwa Indonesia mengalami situasi kritis di bagian energy, diantaranya padam listrik. Di bidang pangan, dilakukan dengan ditingkatkannya purifitas, yaitu dengan perbaikan pengairan, peningkatan mutu. Di bidang energy, harus segera mengadakan perubahan cara, diantaranya dengan mix energy, konversi energy secara nyata bukan pidato, memperbaiki transportasi umum untuk memperbaiki transportasi hidup baru dan terbarukan. Sedangkan pada bidang lingkungan hidup, beliau mengkaji untuk akan memeperbaiki kualitas sungai yg baik, menghidupi kehidupan yang nyaman. Maka Jokowi-JK berkomitmen bahwa keduanya akan mengatasi hal ini dan memenuhi kebutuhan kita semua, sehingga akan membawa masyarakat lebih baik kedepannya.


Sesi kedua, moderator kembali melemparkan pertanyaan. Untuk pasangan Jokowi-JK, moderator yang merupakan rector UNDIP ini melontarkan pertanyaan:

“Berdasarkan visi misi yang disampaikan, bahwa Bapak Jokowi dan Bapak JK akan membangun ketahanan pangan dengan ekspor pertanian, maka bagaimana upaya yang dilakukan, dan strategi untuk menghadapi tantangan liberalisasi?”

Jokowi dengan ringan menjawab, “Yang harus dilihat pertama adalah pasarnya. Contoh, petani diperintahkan untuk menanam papaya, tapi pasarnya dimana? Asal petani diberi arahan, dikawal, dan diberikan PPL, mereka akan bisa. Persoalan hanya kita tidak pernah memberikan pasar untuk mereka. Industry pasca panen yang kita tidak pernah kerjakan dan tidak pernah terlihat adanya. Yang belum ada adalah niat dan kemauan untuk mengatasi masalah itu. Pakar banyak. Dan tanah kita sudah subur. Kuncinya di niat dan kemauan.” Dilanjutkan dengan pernyatan Jusuf Kalla, “Ekspor perlu nilai tambah yang baik. Insutri hilir daripada pertanian harus dikembangkan dengan baik. Yang membuat suatu daya saing, serta yang dibutuhkan sebuah negara agraris  adalah nilai tambah dalam bentuk pasar yang baik.”

Kembali lagi, pasar yang baik.

Pertanyaan selanjutnya ditujukan kepada pasangan nomer 1, Prabowo Hatta.

“Berdasarkan visi dan misi Bapak Prabowo dan Bapak Hatta, yaitu meningkatkan produksi pangan dengan meningkatkan produktifitas pertanian, bagaimana visi misi tersebut dilakukan dan upaya apa yg dilakukan terhadap perubahan iklim?

Prabowo menjawab, tantangan besar yaitu kita kehilangan lahan pertanian. Terangnya, kita mengalami 2 masalah; insentifikasi lahan yg sudah ada, dan 60.000 hektar yang hilang menjadi real estate dan sebagainya. Maka ada 2 pendekatan ungkapnya, yaitu memperbaiki pupuk; yaitu menggunakan pupuk majemuk yg spesifik untuk jagung, ubi, beras dan lain sebagainya. Dengan menggunakan pupuk majemuk yang ada maka akan meningkatkan 40% dari hasil panen kita. “Apabila kami diberi mandat, maka kami akan membangun 2 juta hektar sawah baru di indonesia untuk mengganti 730 ribu hektar yg hilang, itulah strategi kami untuk meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi, untuk memperbaiki kedepannya.”

Pertanyaan saya, 2 juta hektar sawah baru ada dimana mengingat pembangunan Indonesia erat dengan peningkatan industry, koperasi, dan sebagainya? Katakan misal di Kalimantan. Lalu, bagaimana mobilisasi penduduk Jawa untuk berpanen di pulau seberang?

Debat dilanjutkan pada sesi ketiga, yaitu pendalaman tema debat malam itu. Pertanyaan yang sama dilontarkan moderator kepada pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

“Dalam rangka mencapai kedaulatan energy kita mengalami berbagai tantangan, yaitu pertama liberalisasi dalam tata keolala energy, kedua subsidi bbm yang terus meningkat, dan ketiga porsi energy terbarukan kita masih rendah yaitu hanya 6% dari target 23% pada tahun 2025 mendatang. Bagaimana strategi untuk menata ulang sector energy?”

Mari kita bandingkan.

Hatta menjawab, “Penataan ulang sangat penting dengan renegosiasi, serta bagaimana negara kita sustain. Meningkatakan cadangan dengan eksplorasi, penting bagi kita untuk mengembangkan sumur-sumur tua. Tapi semur itu bersifat jangka pendek, yang terpenting adalah meningkatkan diversifikasi enrgi terbarukan. Insentif dari pemerintah harus ada. 2020 harus mencaai setidaknya 20%. Dengan insentif dan fit in tarif, maka akan tercapai. Penghematan energy, yaitu bagaimana kita menekan energy menjadi 0,8. Kita harus melakukan dengan konsisten. Eksplorasi untuk memberikan BUMN yg lebih besar, serta disersivikasi untuk energy baru dan terbarukan.”

Teoritis sekali, bung.

Sedangkan Jokowi menjawab, “Energy yang kita punya sangat melimpah, menyangkut minyak, gas, dan panas bumi geothermal, serta energy terbarukan. Yg pertama, kita harus berani memutuskan, bbm harus dikonversi ke gas agar lebih murah yang bisa mengurangi beban bbm. Kedua infrastruktur berkaitan dengan gas itu sendiri, pemipaan gas yang terhubung ke perumahan dan indistri-industri harus segera dikerjakan. Pemipaan untuk gas kurang lebih bisa dikerjakan dalam waktu 3 tahun dengan kecepatan tinggi. Ketiga yaitu masalah kemacetan. Transportasi public harus dikerjakan secara baik di kota-kota besar. Tidak ada kata tidak, agar energy yang ada benar-benar bisa dipakai se-efisien mungkin. Energy terbarukan yaitu kita tahu bahwa lahan marginal masih banyak sekali. Misalnya cantel atau sorgum bias ditanam dimana-mana, maka kita harus memulainya, pertamina harus membuka pasar untuk insentif.”

Arah nya jelas, implementasi dan kesejahteraan rakyat.

Dan ini adalah satu pertanyaan terakhir untuk kedua pasangan yang saya kritisi pada debat final capres 2014.

“Menipisnya Sumber Daya Alam dan meningkatnya pencemaran lingkungan menjadi indikasi belum terwujudnya pembangunan berkelanjutan, maka apakah strategi untuk menserasikan pertumbuhan ekonomi, kadilan social, kelestarian lingkungan?”

Jokowi mengemukakan bahwa kita perlu menyeimbangkan ekonomi, hajat dan kelestarian lingkungan. Ketiganya harus berjalan paralel agar diperoleh kemanfaatan yang melestarikan bukan hanya urusan ekonomi, tp tetap lingkungam terjaga. Terangnya, sekarang ini, hutan kita rusak. Daerah aliran, terumbu karang juga rusak karena kita hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan lingkungan. Kita tidak bisa lagi berteori, tidak usah lagi muluk-muluk, apa yg kita konsepkan dan apa yg kita tau harus dikerjakan dan diimplementasikan. Merencanakana sudah banyak. Namun melaksanakan kurang.”

Di kubu Prabowo-Hatta, Prabowo menjawab, kerusakan lingkungan tidak lain karena daya dukung bumi dan wilayah teritorial bangsa kita sudah sangat berat menampung ledakan penduduk. Tiap tahun kita harus menerima tambahan 5 juta warga baru. Ini mempercepat kerusakan lingkungan, ditambah kurangnya regulasi. Dilema bagi kita ketika tidak mempercepat pertumbuhan pada saat pertambahan penduduk dan kerusakan lingkungan. “Strategi kami adalah banyak jalur, sekaligus dengan pendidikan kita bisa menamamkan hubungan ekonomi dan menjaga lingkungan kita. Dengan pendidikan dan sector ekonomi yg besar, serta keadilan social.”

Jawaban kedua kandidat memiliki kelemahan dan kelebihan. Tapi kita bisa melihat, pernyataan siapa yang lebih telak nyata nya.

Well, calon presiden memang bukan orang sempurna, bukan yang paling pintar di Indonesia. Sedikit mengutip dari penyampaian seorang pengamat ekonomi Indonesia, Faisal Basri, mengemukakan bahwa tidak realistisnya perluasan sawah segitu besarnya, dan penggunaan ladang yang sudah lama bagaikan memperkosa nenek-nenek tua. Resiko tinggi.

Memang, birokrasi untuk mengeksplorasi harus dilakukan dengan perizinan, infrastruktur dan insentif.  Terlalu teoritis dan text book bukanlah yang Indonesia butuhkan, bung. Sudah banyak orang-orang genius di Indonesia, yang bisa saja membuat teori se kompleks dan se berbelit-belit itu. Indonesia tidak butuh retorika. Indonesia butuh kerja yang nyata, jujur, tegas, dan jelas arahnya. Terlalu banyak rencana yang dicanangkan, yang pada akhirnya hanya menjadi wacana. Janji untuk mengimplementasikan segala wacana tersebut dilontarkan kedua kandidat. Tentunya. Ini politik, apapun bisa terjadi. Yang diatas bisa saja menjadi yang paling bawah. Begitu pula sebaliknya.

Dari sekian panjang tulisan saya, saya memilih Jokowi untuk memimpin Indonesia. Bukan #AkhirnyaMemilihJokowi, tapi #MemangSudahMemilihJokowi. Beberapa kalangan takut dan mengkhawatirkan bahwa PDI akan mendalangi kinerja calon presiden nomer 2 tersebut. Jadi gini, Jokowi tidak sebodoh itu, tidak selemah itu. Bukan hal yang mudah untuk tembus menjadi kandidat calon presiden Indonesia, dengan sedemikian keras tuntutan akan visi misi dan gebrakan dari masyarakat Indonesia. People power ada. Demokasi masih tetap di tangan rakyat. Entah akan ada yang digulingkan, atau yang akan selalu dibangga-banggakan. Bapak Jokowi, pilihan saya, sosok yang selalu ada, sederhana, baik dan santun, menyayangi keluarga dan rakyatnya, sosok yang konkret dan bermanfaat untuk warga Jakarta, dan kelak beliau akan se bermanfaat itu pula untuk rakyat Indonesia.

Terakhir, siapapun presiden yang tepilih, saya tetap bangga telah memilih anda, Bapak Ir. H. Joko Widodo.



#Salam2Jari
#Jokowi-JK





 Maaf apabila terdapat salah kata maupun informasi, serta kurang berkenan bagi yang membaca.

Minggu, 15 Juni 2014

When I sat sipping coffee



(This blog should be posted at May 17th)

Djournal Coffeebar
4.30 PM




Jadi gue nulis ini sambil quality alone time di café ceritanya. Kebetulan emang super hobby bengong-bengong di café, nanya password wifi, pesen minuman secangkir, minumnya di lama-lamain biar gak di usir.

Sekarang setiap ke café tujuannya such as sweets escape, afternoon calming, dan selebihnya nugas. Kemudian sering kepikiran kalo hidup gw 90% udah berubah. Berubah dalam konteks tingkat kerajinan dan kesadaran akan masa depan. Well let’s say that’s an effect of being UI student. Apalagi teknik. Apalagi teknik lingkungan. Apalagi departemen teknik sipil. Jadi ya gitu, se ootd-ootd nya, se mall-mall nya, se café-café hits nya, tetep nenteng laptop.

Kalo throwback masa-masa SMA, kadang-kadang (exactly selalu) kangen dengan tabiat masa muda; diasumsikan sekarang gue udah tua. Jaman SMA pulang sekolah langsung ke gor. Bahkan sampe bela-belain boti (bonceng tiga) dengan bersandang rok span SMA kayak cabe. Bahkan sampe nerobos hujan sambil berboti-boti. Gila. Kangen banget.

Dulu tiga per empat hidup gue dihabiskan buat main basket. Latihan basket pagi sore malem, bahkan shubuh ketika mendekati pertandingan. Di kelas kerjaannya tidur, nyatet-nyatet lucu buat formalitas depan guru, nulis contekan di uang seribu. Pokoknya paling bego. Udah gitu jajan nya snack chuba bego. Makin bego. Setiap istirahat geng anak basket a.k.a Fivers selalu saling nyamper ke kelas. Entah itu cuma minta makanan, ke kantin, dan yang paling sering bareng-bareng ke ruang TU minta makan. Ini paling gak tau diri. Secara ruang tata usaha isinya guru-guru kadang-kadang juga ada kepala sekolah. Masuklah kita dan minta gorengan. Ya emang sih guru-guru SMA udah deket dan kenal tabiat anak-anak basket. Dan kenyataannya anak basket cewek lebih brutal dari yang cowok. Ya jadi kesimpulan dari premis-premis itu gw tetep paling elegant, kok.

Abis itu pulang ke rumah abis latihan, super bau. Bau naga. Mau belajar juga ya gimana ya perasaannya. Ahirnya di kala itu gue manggil guru bimbel private untuk menyambung masa depan. Mayan lah jadi pinteran dikit, walaupun beberapa kali pas lagi les, guru nya ngomong gw ketiduran. Yailah trid.

Kalo dibandingin sama sekarang, bener-bener beda. Dari langit ke bumi, balik lagi ke bumi. Sekarang nugas udah empat per empat dari hidup. Bahkan sambil di kamar mandi pun megang tugas. Kalo sambil jalan kaki bisa nugas, hajaarr! Kalo dulu sambil les ketiduran, bangun-bangun ngiler-ngiler bahagia. Sekarang kalo lagi belajar ketiduran, bangun-bangun pengen tidur lagi. Bangun bangun langsung bisa gila. Kalo dulu dimarahin ibu suruh belajar, sekarang dielus-elus ibu sambil disuruh udahan dulu belajarnya. (NB: banyak belajar nggak berarti gue pinter) (nggak gitu) (sumpah nggak gitu)

That moment when you could reach a place you used to dream so much, so that you earn responsibility that much. Nggak segampang itu. Mungkin karna berbanding terbalik antara gue yang begajulan dan harus berkecimpung di antara orang-orang yang nggak pernah sebegajulan gue. Di antara orang-orang hebat dan super kritis. Dan betapa kangen nya gue akan kehidupan gue dulu. Waktu-waktu dimana gue masih seenak jidat, dan nggak ngerti apa itu deadline, tubes, laprak, revisi laprak, revisi laprak yang direvisi lagi. Waktu-waktu dimana gue ngerasa jadi diri sendiri, pusing karena kebanyakan tidur dan kemudian tidur lagi.




Sekangen itu.