Minggu, 20 Mei 2018

Assalamualaikum, Ramadhan


Bulan Ramadhan, 1439 H
Segerumun muslim membuncah dalam lafadz Alhamdulillah
Menyelingkap sarung dan mukena yang hendak menyapu tanah
Jalanan depan rumahku kini hiruk akan jajaran kain putih beriringan, penuh gairah menyambut sholat tarawih selepas berbuka
Kolak pisang, timun suri, dan kurma...

Sedikit tulisan di bulan suci Ramadhan, sepenggal representasi buah pemikiran.

“The likeness of those who spend their wealth in the path of God is as the likeness of a grain that sprouts seven spikes. In every spike, there are a hundred grains. Thus does God multiply reward for whomever he so wills.” (The Holy Quran, 2:261)


The blessed month of Ramadan, is what we respect as a time to awaken compassion and solidarity with the hungry and poverty-stricken men, women, and children around us. So what is the significance behind it? Do all Muslims also awaken the same happiness—sajdah and say Glorious is my Lord, the most High. Then how about the parameters of succeeding Maghrib Adzan (I bear witness that no God except Allah, I bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah). Running all the faith He commands, or we are just the way of gratuitously carrying it out?

Segelintir pertanyaan takzim mengudara di tempat makan saya membuka puasa hari itu. Begitupun dipikiranku—apakah puasaku hari lalu, hari ini, esok lusa, barang pasti diterima? Apakah aqidah yang mengindahkan tata laku manusia sudah cukup pantas dengan yang Ia kehendaki? Wallahu 'alam—and Allah knows the right.

Kadang manusia terlampu kulut untuk mendeklarasi barang suatu hal, merumuskan asumsi lalu mengutarakan sebagai buah spekulasi, tanpa menakuk kandungan kebenaran. Kadang manusia berjalan tanpa referensi—atau yang kita yakini pedoman Kitab Suci. Lalu garis batas antara salah dan benar, makhruh dan sunnah, haram dan halal menjadi samar. Atau, kadang diantaranya menjadi tak terdefinisi. Kembali, (kadang) manusia memang tak ahli dalam mendefinisi relatifitas dekrit perkara yang terasa lumrah.

Bukankah indah mengisi barang berbaris resolusi Ramadhan. Seperti halnya, setiap akhir pekan sholat tarawih keliling masjid ibukota, menggelar buka puasa bersama yayasan panti A, mengkhatamkan kitab suci. Atau hal sederhana yang mampu terintegrasi menjadi puing-puing pendokrak iman: menjaga lisan, mata, juga hati. Lalu diekspansi menjadi penataan tutur laku, membahagiakan sesama, mengulurkan tangan untuk investasi kebahagiaan di dunia maupun di dunia setelah akhir zaman. Bukankah akan lebih indah hidup tanpa memperdulikan masalah manusia terlampu jauh hingga salah makna. Bukankah lebih berkah menuntun kerabatmu menuju kebaikan, ketimbang turut terjatuh ke lubang yang sama—tak ada buah manfaatnya.

“Tidak pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, karena niat selalu berubah-ubah”, ujar Sufyan Ats-Tsauri. Semoga niat baik selalu teguh, juga rendah hati.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.



Salam.

Minggu, 06 Mei 2018

#Harau

“Saya baru pernah liat perempuan kayak mbak Astrid di Indonesia,
Jalan-jalan sendirian ke Payakumbuh...”
Demikian ucap warga lokal di akhir perjalanannya menemani saya di Payakumbuh pekan lalu.

Kali ini menginjakkan kaki di tanah Minang, pedalaman Barat pulau Sumatera. Tanah Minang yang merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai penggunaan bahasa dan adat kekerabatan matrilineal, pun identitas agama Islam. Seperti biasa, berjalan ala backpacker tanpa tahu medan pun kerabat jalan. Berbekal doa Ibu dan niat yang besar: melihat Lembah Harau.

Bukan well-planned kind of trip, literally baru pesan tiket pesawat H-3 demi men-adjust traffic job di kantor. Sengaja ambil tanggal yang ada Harpitnas hence justifikasi cuti ke boss lebih rasional. And my boss knows me so well, daripada mbak Astrid demotivasi. Haha ha.

Awal plan sebenarnya backpacking dengan teman kantor—we have the same nawaitu to see Harau. Tapi tiba-tiba beliau cancel lantaran sakit, lalu mengenalkan saya dengan salah seorang warga lokal Payakumbuh, pernah merged dengan agent travel juga katanya. No probs, cabutin

“Karna akan selalu ada jalan untuk mereka yang rindu jalan-jalan” – Astrid Astar

Sabtu sore pesawat saya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). It was my very first time  stepping step on Padang. Exit arrival gate langsung disambut Bapak-bapak sopir menawarkan jasa dengan dialek Padang kental. Mungkin karna tau saya pendatang, mereka masih menyesuaikan dengan bahasa Indonesia yang kePadang-Padangan. Saya langsung cari travel Bandara – Bukittinggi, loketnya langsung terlihat begitu penumpang keluar dari Arrival Gate.

“Ke Bukittinggi berapa mas? Eh, uda?” – Dan begitu seterusnya sampai akhir perjalanan, saya mengganti mas, dengan eh Uda.

Bandara ke Bukittinggi 75 ribu rupiah dengan Travel, ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Saya duduk di depan, mengutilisasi Driver Travel untuk memberikan pencerahan jalan. Saya minta diantar ke salah satu homestay di dekat Jam Gadang Kota Bukittinggi tanpa tahu lokasi dan bentuknya seperti apa. No reservation before, go show aja.

Sepanjang jalan arsitektur bangunan beratap runcing menyerupai tanduk kerbau menjadi uniqueness yang begitu eye-catching. Saya pernah baca, sejarahnya selalu dikaitkan dengan cerita Tambo Alam Minangkabau tentang kemenangan masyarakat Minang dalam adu kerbau melawan masyarakat Jawa.

“Mbak dari Jakarta?"
“Iya, Pak. Ngomong-ngomong itu SPBU atapnya juga harus lancip-lancip gitu ya?”
Bapaknya hening, Astrid lebih baik kembali ketiduran.

Ok lanjut. Sampai di homestay kurang lebih jam 8 malam, langsung mendapati homestay yang saya tuju sudah full booked. Baiklah. Mencari peruntungan menyusuri lokasi sekitar demi mengusahakan homestay harga backpacker yang belum ambil ATM. All fully booked! Saya langsung ingat kalau hari itu malam minggu, dan long weekend. Salah gue. The art of relying on go show, kalau apes malah ketawa sendiri gara-gara sotoy. Jalan-jalan ke Jam Gadang, makan sate Padang pinggir jalan lalu minum Bandrek Susu menjadi rescuer malam itu, sebelum akhirnya check in di Hotel Grand Kartini untuk bermalam. Backpacker mevvah kind of day, good night!

Perjalanan minggu pagi dimulai dengan mengitari Ngarai Sianok dan berakhir dengan mencicipi kopi lokal di tengahnya. Kopi asal Bukittinggi, dibakar dulu sebelum dihidangkan. Enak! Menjelang siang saya dijemput oleh kerabat teman saya seorang warga lokal Payakumbuh dan melanjutkan destinasi utama: Lembah Harau.




Dari persimpangan Bukittinggi, belok sebentar untuk menengok Istana Pagaruyung di Batu Sangkar. Memang diperuntukkan untuk wisatawan yang ingin mengenal budaya luhur tanah Minang. Juru potret dengan pelbagai properti nya sudah siap menjamu pendatang untuk mengabadikan dirinya di depan megahnya Istano Basa. Sudah cukup puas mengitari Istana, mata saya tertuju pada Ibu-Ibu penjual Sawo di pelataran Istana. Saya menghampiri, membeli Sawo sepaket dengan dikupaskan oleh sang penjual. Ibu Yulina, warga asli Minang. Beliau bercerita, perihal pekerjaannya yang hanya menjual Sawo, itupun mengikuti musim. “Nggak apa-apa Bu, yang penting bisa bermanfaat."




Kembali mengejar tanah Harau supaya tiba tak terlalu petang. Perjalanan Batu Sangkar menuju Desa Harau kurang lebih 2 jam dengan motor. Jadi kalau ditotal, Bukittinggi – Batu Sangkar – Payakumbuh – Harau,  4,5 jam perjalanan dengan motor dan full sepanjang siang. Langsung gosong-gosong gembel gimana gitu.

Pukul 4, kami tiba di tujuan. Menapaki Senja di Harau.





Kanan kiri ku membentang sawah, dipagari lembah melengkuas
Di ujung pelupuk, matari menyirat sisa cahaya
Manusia menghambur meramaikan jalan
Menghalau burung pemakan padi di sisa hari;
Barang dua tiga ribu rupiah sudah diamani
Kini tanahnya sudah di aspal, lampu jalan tak lagi temaram
Barangkali agar Pak Tani tak sulit menggoes sepeda kumbang
Atau demi eksportir mudah menginflasi income
Sedang di tanah ini enggan perduli, apakah perlu simpul excuse atau retensi
Sudahlah, Tanah Harau tetap cerah

Palang Asmaul Husna yang menjajar di sepanjang jalan menjadi impresi awal yang membahagiakan untuk saya. Value daripada nama besar Tuhan, supaya selalu terlafadz dalam setiap langkah perjalanan. Saya menginap di sebuah cottage tepat di belakang tebing, ditambah ornamen air terjun kecil yang mendispersikan gemericik air. Di sebelah utara berbatasan langsung dengan bentangan sawah milik warga. Seolah lukisan yang bergerak, petani bercocok tanam di bawah kaki gunung membelah terselip matahari petang. Kali ini kamar saya sudah di booking-kan oleh warga lokal teman traveling saya ini. Rezeki backpacker sholehah, harga kamar per malam “seikhlasnya saja”, karna ternyata digabung dengan traveler lain. Aman! Mostly memang bule, jarang traveler Indonesia yang sengaja datang kesini untuk backpacker. Oh I got it, pantesan pada heran.

Momen yang tidak boleh terlewatkan, kuliner malam di pusat kota Payakumbuh, tepatnya di pengkolan Pasar Atas. Martabak Mesir, Sate H. Awi, ditutup dengan minuman Kawa Daun. Kalau siang tadi melipir di tempat makan pinggir sawah dekat Batu Sangkar. So yea I finally experienced the real Nasi Padang di tempat asalnya langsung. Emang lebih enak sih dari kedai masakan Padang sebelah Indomaret deket rumah. Santan, minyak, dan segala lemaknya terasa lebih legit dan berkolesterol. Lol

Awal Hari di Harau,
Kudapati adzan Shubuh bertabuh hempasan air dari atas batu cadas. Dilanjut dengan ceramah singkat setelahya, menggaung tipis dari balik tebing. Segera bergegas mandi sebelum penghuni kamar yang lain terbangun, mengabaikan dinginnya air perbukitan. Menunggu matari terbit setidaknya pertiga lingkaran, pagi ku bersanding secangkir kopi hitam cerah. Saya meluang waktu untuk berjalan pagi di sekitaran rumah warga. Scene perjalanan yang paling saya senangi, berjalan dan bertemu orangTo travel and meet people. Mengenali pelbagai elemen di dalamnya, acceptance daripada semesta terhadap kehadiran kita yang datang untuk membuat cerita.

Pak Sarman sedang sibuk menggoyang-goyangkan tali bergantung kaleng-kaleng, diikatkan di beberapa titik supaya saling berkaitan. Di sebelah barat, Ibu Murni mengawasi langkahnya melintasi pematang sawah, sembari mengibas-ngibas bendera yang diikat diujung tongkat bambu. Keduanya untuk mengusir burung katanya, hanya berbeda cara. Saya duduk di kursi bambu yang sengaja dibuat di tengah pematang sawah. Menghempaskan sapaan selamat pagi pada Bapak petani, awal ikhtiar melunturkan restriksi garis batas manusia kota dan desa. Pak Sarman menyimpan kretek lokal yang masih setengah batang, membalas sapaan tak kalah hangat diikuti pertanyaan asal tempat tinggal. Ingin coba tengok ke Ibukota katanya, tengok gedung setinggi lembah tak hanya dari layar cembung media. “Enakan disini Pak, adem.” –Saya meyakinkan. Cerita seputar ibukota saya narasikan kepada beliau, jantung Indonesia dimana eksportir dan importir saling menggali tutup lubang. Polemik aparatur negara menjelang pilkada. Hingga yang paling melekat, “Di Jakarta, 16 kilometer bisa ditempuh selama 3 jam Pak. Enakan disini.” Saya kembali meyakinkan.

Perbincangan kami semakin ramah, ikhtiarku meruntukan resistensi warga lokal nampaknya berhasil. Kali ini ditambah Ibu Murni, beliau berjalan menghampiri. Tak mau kehilangan momen, saya mengabadikan foto dengan properti bendera sawah lalu berdampingan dengan Ibu Murni—dijepret oleh Pak Sarman. Di akhir percakapan keduanya menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya apabila di lain waktu kemari lagi. Tentu saja! Saya berpamitan, kembali menyusuri pematang sawah untuk sampai di jalanan utama. Langkahku seperti bergema, ternyata langkah kaki anak murid Sekolah Dasar mengikuti di belakang untuk hendak ikut upacara. Seketika terkesima menyaksikan Sekolah Dasar di tengah sawah itu begitu ramai, dipenuhi hiruk pikuk antusiasme generasi muda menggapai edukasi. Bahwa semua anak Indonesia berhak mendapat pendidikan tinggi tanpa terkecuali. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, saya turut mendoakan.



 




Backpack merah 35L kembali ku pikul, kali ini ditambah buah tangan sandal jepit penginapan lantaran sepatu saya penuh lumpur tercebur sawah. Saya berpamitan kepada seluruh crew di penginapan, ditunggu untuk datang lagi kataya. Siap! Menengok sebentar ke kelok sembilan, kemudian saya kembali menumpang Travel untuk  melanjutkan perjalanan menuju kota Padang.



Perjalanan singkat, namun meninggalkan berpenggal cerita. Kadang cerita yang tak kunjung tinggal adalah cerita dengan value akidah agama dan integritas sosial di dalamnyaBahwa setiap budaya, masyarakat, dan sejarah selalu kompleks dan multi-dimensi, tak ada kepastian yang bisa disimpulkan hanya dengan satu perspektif, melepas berlapis-lapis selimut impresi yang menghalangi objektivitas. Lalu ada konklusi setelahnya; Mendeterminasi perjalanan sebagai proses dinamis untuk menegaskan dugaan, atau membuat prasangka baru tentang kultur budaya dengan segala paradigmanya. Atau untuk mendengar cerita manusia dengan segala persoalannya.

Next trip kemana lagi kita?



Semoga bermanfaat,

Salam.

Rabu, 28 Maret 2018

Tulisan Bulan 3


Kali ini bersama kopi hitam lokal di bilangan selatan ibukota. Waktu Indonesia bagian senja (woela indie abis). Rabu petang, sebelum Magrib mengumandang.

Nggak ada tema kusus, pun memoar perjalanan seperti tulisan biasanya. Justru karna nggak ada waktu jalan-jalan, jadi menulis saja sekenanya. Some of thoughts, the question following those thoughts, and other phrases. 

Stel lagu dulu lah, playlist instrumental Piano Guys
Berseling playlist lawas seperti biasa


For the things that has been passed, and the values that come along with it.


Diawali dengan pertanyaan, do you ever feel like, or consider your self, as an observer of your circumstances?

Some of the times, I do. Observer disini maksudnya saya melakoni peran sebagai pengamat, assessor dengan segala macam parameter penilaian. Simplenya, when life meets problems, you are not in that circle of problems. Tiba-tiba lo ketemu exit door dari panggung sandiwara, lalu beralih peran menjadi pengamat cerita: yang tugasnya bantu-bantu di pinggir panggung.

Yeap. Because their problems are not mine, so I’d rather go. Bukan kapasitas saya untuk ikut intervensi, atau menasehati which doesnt always punch right to the point. Kecuali, kalo saya memang punya peran untuk tiba-tiba muncul di panggung sebagai advisor. Ya kan, tugasnya memang bantu-bantu. I ordinarily pay attention to orang-orang yang sedang marah-marah atau apapun bentuk transformasi lainnya dari emosi. Lalu dalam hati bergumam sendiri: Woah ada juga ya orang kayak gini-gitu”. Belajar. Belajar mengerti kondisi setiap orang di sekitar kita yang (jelas) tak ada yang sama. Kadang pembelajaran datang dari hal yang tidak diprediksi, betul?

But serious, all those scenes menjadi media saya untuk belajar menghargai semua orang secara lateral. Kita nggak melulu harus disenangi orang lain, tapi setidaknya, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Sebab definisi baik agaknya terdengar relatif.

Juga masalah. Kembali ke ukuran relatifitas seberapa kamu memaknai hal tersebut sebagai distraktor, non conformance of life. Masing-masing orang punya masalah yang jelas berbeda-beda. Besar kecilnya tak sama. Masalah semakin besar ketika seseorang terlampu fokus pada masalah miliknya, tanpa meposisikan dirinya sebagai makhluk sosial yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Padahal dengan mencoba membesarkan orang lain, masalah yang katamu biggest problems itu akan perlahan terkikis, teralihposisikan dengan hal positif: membesarkan orang lain. 
You know, there are two ways to spread the light; be a candle or a mirror to reflect it. Merefleksikan cahaya, mendispersikan manfaat untuk orang di sekitar. Dan lalu, cahayamu kelak berpendar lebih terang….

Mari kembali ke konteks rindu jalan-jalan. Selalu ada philosophycal-contemplative-thoughts whenever I come to condition “Kurang Piknik”. Yea, lanjut.

Terlalu fokus dengan monotonitas aktivitas sehari-hari, sampai akhirnya manusia kurang menghargai pergerakan waktu. Waktu yang tidak hanya perihal detik dan menit. Namun kualitas cerita yang dilaluinya. Barangkali kita lazimnya mengalami stagnasi hidup di fase waktu tertentu, padahal hari sudah tiba-tiba petang, shubuh kembali, lalu malam, hingga bertahun kemudian.

Lalu hadir pertanyaan berikutnya, what is your life purpose for?

Ibadah. Mengembalikan seluruh kepemilikan diri pada yang meminjamkan, dengan cara-cara yang agamaku, agamamu anjurkan. Itu point satu. Point dua, mungkin bagi Konglomerat itu hidup adalah untuk membeli tiga empat private island untuk proyeksi dua dasawarsa ke depan. Kalau kata Bapak Company-man, hidupnya untuk kelak menjadi Chief Executive Officer Multinational Company nomor 1 di pasar global. Atau untuk menjadi aparatur negara, demi melahirkan legitimasi, doktrinasi, hingga banyak hipokrit. Ah rumit! Lebih sederhana, kata Bapak tukang becak, hidupnya untuk menyekolahkan anaknya sampai lulus SMA saja, cukup.

Jadi boleh saja dispekulasikan—saya menimpali—hidup adalah perihal terus berjalan. Berjalan bukan hanya dengan kaki yang terus melangkah, namun pikiran yg secara dinamis memandang ke depan, dan hati yg selalu bisa menjadi reaktif dalam pelbagai hal positif—tak hilang arah tujuan. 
Manusia pada dasarnya memiliki bakat untuk memplotingkan dirinya di posisi posisi tertentu, people do adjust, then assess. Then those positions are familiarly known as dreams, mimpi dalam hidup. Hanya tinggal bicara masalah rasionalitasnya saja. Dan bagaimana proses untuk mengejarnya. Make your dreams come true! Saya kagum dengan orang-orang besar yg sudah memberikan valuable times nya ke orang banyak. Valuable times dan kebermanfaatan bagi orang banyak, karna frasa keberhasilan pun terdengar relatif—ukurannya tak valid. Saya kagum dengan mereka-mereka yang sudah melangit, namun hatinya tetap membumi. Dengan mereka-mereka yang tak pernah lelah melafalkan doa. Bentuk pasrah sesungguhnya, optimasi usaha dengan ekspektasi yang begitu indah: ikhlas lillahi ta’ala.

Demikian pula kerinduan saya dengan jalan-jalan: Refleksi nyata dari implementasi “hidup yang berjalan”. Jadi ya gitu. Lebih dari 3 bulan nggak jalan-jalan darah saya rasanya kurang semangat mengalir. Saya jadi ingat cerita Bapak, jaman saya kecil, baru sampe rumah dari mudik tengah malam langsung minta jalan-jalan lagi. Petakilan dan mbedis. Ya nggak heran gede nya macem gini.

Jalan-jalan pun proses. Destinasi tujuan saya ibaratkan plottingan mimpi—yang harus dicapai. Namun proses perjalanannya yang lebih meninggalkan kesan. Bagaimana refleksi manusia ketika dihadapkan dengan bermacam sirkumstansi. Again, people do adjust. Saya selalu senang dengan seni daripada menyeterakan diri dengan orang-orang di sekitar saya. Apa karna notabene “perempuan”, jadi akan lebih mudah diterima? Rasanya tidak juga. Saya percaya, semesta akan berpihak pada niat baik yang disertai attittude baik. Kembali, konsepnya konvensional, semua orang pada dasarnya baik, hanya saja terbatas pada kapasitasnya masing-masing.

Sebentar, meneguk kopi dulu sebelum merampungkan cerita.

Ngomong-ngomong tentang kopi. Kopi sore ini mengingatkan saya dengan rasa secangkir kopi hitam yang disajikan bersama ketan bakar dan pempek goreng di Selatan Sumatera, kota Palembang. Waktu itu bersama Pak Samsudin, Bapak tukang Becak yang saya tumpangi. Siang itu pukul 13, menunggu flight sore kembali ke ibukota. Biasa, pulang kerja lapangan. Saya ide jalan-jalan keliling kota yang ujungnya main di pasar. Haha saya memang suka dengan pasar! Di samping jajaran tukang jualan pisang, saya duduk di warung kopi yang terselip di antaranya. Selain pasar, ketertarikan saya juga mengerucut pada orang-orang tua instrumen jalanan. Entah kenapa, ada unique value dan terasa lebih natural… Jadi pas lah saya duduk ngopi dengan Pak Samsudin ini. Beliau kelahiran 64, memang 100% asli dari kota Cuko dan Pempek. Percakapan antara kami berdua memerlukan effort lebih untuk men-translate Bahasa Palembang terlebih dulu, baru saling menjawab. Beliau cerita, hasil narik becak digunakan untuk biaya anaknya sekolah sampai lulus SMA, cukup. Ya demikian. Cerita Pak Samsudin masih kental teringat untuk menjadi objek perumpamaan mimpi yang sederhana tadi, namun terdengar mewah. Juga korelasi dengan kualitas waktu, untuk  lebih banyak berjalan dan bertemu banyak orang Menghargai impian-impian yang mengambang di luar sana. Untuk mengerti, bahwa masalahmu belum ada apa-apanya.

Cause in the end, what remains from the long-life story is just the essence of value, quality of time, our sincerity to comprehend,

And an integrated heart to answer our own questions with the peaceful mind.



Barangkali sekian
Salam,

Senin, 19 Februari 2018

Solo-Travel



We basically love anything and anyone that’s going to inspire people to get out there, see the world and start travelling. Yes, I love them and that’s why I travel, even all alone. First of all, what you have to know about so called solo travel is that you’re hardly ever alone. And one of the great things about travelling alone is that fact you don’t have to deal with many types of rempongness (lol). Randomly find the cheap ticket that meets my free time, or find the best price for the appropriate backpacker lodging, I can book it without have to compromise. That’s been one of the greatest aspects for me knowing how much my travel plans change but it’s been great to be able to take opportunities and to not worry about anyone else.

Yet the fact I have to deal with is no one is there taking care of me and my heavy-load backpack, or leading me the roadway, or the most critical is taking the pictures of myself (wkwk), so I’ve got myself here and that gives me such a great sense of achievement. The sense of allocating my salary and time, then I planned the trip, I reached the mountain, climbed down to see sunset on the beach, I ate local food till I came across the odd dish, and I met many different people—since the incredibly important part of the whole travelling thing for me is the people I meet.  Uuugh what more could you ask for?! And yes, it’s important to throw yourself into the deep end sometimes—sink or swim as they say! Haha

Well then, berikut inti ceritanya. (Almost) whenever I meet my long-lost-friends or netizen-friends, munculah sebuah template: Trid lo kok jalan-jalan terus! Woy. Nggak juga. Kebetulan aja instastory saya isinya mostly seputar jalan-jalan. Selebihnya mengabdi di kantor a.k.a cari modal jalan-jalan. “Long weekend ke gunung lagi, mbak Astrid?” YHA, sampai dengan imej saya sudah cukup rimba. Nggakpapa. Gue emang nggak pernah merencanakan jalan-jalan dari jauh-jauh hari (kalo sendirian). Biasanya kalo tiba-tiba bosen (kebetulan anaknya bosenan), atau kalo tiba-tiba lagi pingin berkelana (kebetulan anaknya kalo udah pingin harus keturutan sampe nyebelin) langsung cari-cari destinasi yg rasional, dan finally: “Ticket booked for next weekend, one passenger: Astrid Astari”

Lanjut. Jadi dampaknya, setiap lagi traveling and post something di instastory, dm seputar gimana-cara-backpacker-sendirian cukup menghambur di messages instagram. This post intended to share tips and trick solo backpacker. Agak sampah but, its ok lah. Here we go.
1.  
1. Niat & Berani
Paling awal dari segalanya: Nawaitu, dan berani dulu. Karna bahwasanya, niat tanpa keberanian adalah watjana. “Kok berani banget cewek sendirian?!!” Yes, I’m the type of person whose thoughts always lead to positifitas tanpa batas. Keep positive, jadi orang baik, berpenampilan yang pantas, ramah sama semua orang, insha Allah aman sejahtera. Tapi harus liat kondisi juga. Untuk beberapa lokasi/destinasi yang memang tidak disarankan jalan sendiri, gue biasanya cari barengan. Sesama solo-backpacker in most cases semacam will find the way, dan akan saling bantu-membantu. For sure, having new traveling friends always felt so fun! “Emang nggak pernah digangguin orang??!!” Sering. Catcall? Till I no longer care, ma fren. Selama memang nggak berlebihan, gue nggak pernah terdistraksi dan justru menanggapi sebagai elemen perjalanan aja, toh kadar distraksi seseorang nggak pernah sama.

2. Restu orang tua & Doa Ibu
Yg ini no excuse ya. Nggak lucu aja kan kalo lo tiba-tiba masuk koran jadi buronan anak ilang. Awalnya emang susah juga dapet izin, tapi kesini-kesini, semakin orang tua mengerti tujuan jalan-jalan berfaedah dan beriman, alhamdulillah diizinin walopun mesti mempersiapkan skenario yang dramatis dan pragmatis.

3. Itinerary
Firstly, tentukan dulu mbak/mas nya mau kemana. Jogja/Bali/Sumba/Bajo/India/MacchuPicchu (me, someday)/or wheresoever. Lanjut, tinggal di list destinasi-destinasi yang sekiranya ingin dikunjungi, bisa cari inspirasi dari travel blogger, atau traveling account di instagram. Yeap, you are where you travel. Disini niat dan tujuan masing-masing pelancong akan beda. Ada yang memang bertendensi untuk chill di pantai, summit attack, coffee-hopping, view advanture, atau foto-foto instagrammable supaya feed nya teratur. Ya nggak salah juga. Apapun itu, lebih baik di list dari awal, supaya pas udah sampai di tempat tujuan nggak luntang lantung dan meningkatkan efisiensi efektifitas perjalanan yang terintegritas. Gitu deh.
Next, alur lokasi yang akan dikunjungi juga mbok ya diatur-atur. Lebih enak kalo diurutkan berdasarkan jalur & akses yang searah biar hidup sendirian lebih terarah. Beda kasus dengan expertise backpacker yang memang pengen berjalan mengikuti angin, tanpa itin mungkin akan lebih “menemukan jati diri”.

4. Penginapan & Makan
Untuk saya pribadi, masalah penginapan nggak perlu yang bagus-bagus. Emang kayaknya nggak pernah bagus juga sih. Instead of hotel, gue selalu memilih penginapan hostel, which is paling banyak menampung para backpacker. Kenapa, 1) Hemat, 2) Di penginapan biasanya gue cuma numpang tidur, selebihnya seharian full exploring di luar, 4) Berpotensi lebih banyak mendapat informasi seputar rekomendasi akses dan destinasi dari backpacker lain, 3) Lebih sensasional. (Yes still, staying in hostels can create some of the best travel memories you’re ever going to have). Atau kalo lagi di daerah yang berpenduduk baik dan hangat, biasanya gue ditawarin untuk nginep di rumahnya. Mungkin lebih tepatnya penduduk yang iba melihat saya gembelan sendirian, I guess.
“Nemu penginapan kayak gitu dimana???” Mostly dari Traveloka, atau googling. Sometimes I lean on the rating of places, then read the reviews. Semacam terkesan menjamin mungkin ya. Selama ada ibu kos, kamar mandi bersih, oke lah. Kipas angin? No probs. Kebetulan gue anaknya se-gampang-itu tidur dan shubuh-person dimanapun. Nempel bantal 5 detik, langsung literally mati suri gitu lah sampe adzan Shubuh.
Lanjut, perihal makanan. I never spend a lot of budget for this. Yang penting halal, (terlihat) bersih, sehat dan bikin kenyang. Asal ada sayuran hidup ini aman. Kuliner di pinggir jalan bareng orang-orang jalanan menjadi salah satu scene favorit gue di setiap perjalanan. Ngobrol sama orang lokal tentang kehidupan budaya masing-masing, adat istiadat, hingga issue lokal setempat, yang biasanya termanifestasi menjadi bercerita. Dan dengan senang hati saya mendengarkan.

5. Akses transportasi
Untuk ini memang mesti disesuaikan dengan visibilitas akses transportasi masing-masing daerah, karna jelas akan berbeda. Generally, paling aman dan hemat memang rent motor sendiri. Dari sisi budget dan waktu akan lebih efektif. Tapi buat gue pribadi, kalau memang visible, kadang-kadang sengaja mencari transportasi umum, atau ngeteng truk sayur, biar lebih melebur dengan orang-orang yang menyertai perjalanan. Lalu muncul buah-buah obrolan, yang akhirnya ditunjukkan jalan oleh bapak Supir atau bahkan penumpang lain. Google maps? Kalah canggih. Yea I’m lovin this kind of life!!

6. Hati-hati & Jangan lupa Sholat
The last but not least, segala sesuatunya akan kembali pada kehati-hatian diri sendiri ya, wahai saudara-saudari sebangsa setanah air. Tau diri kalo lagi traveling sendirian, menjaga barang bawaan harus diperketat, penggunaan kamera dan gadget di tempat-tempat yang memang aman. Di akhir, jangan lupa sholat (bagi muslim/muslimah), supaya setiap langkah dilindungi Allah SWT dan selalu berkah. Karna sesungguhnya mencari-cari kiblat di atas gunung kemudian bertayamum  adalah keindahan yang haqiqi.

Yha akhir kata, demikian wejangan dari saya, selebihnya adalah improvement dan comfortzone style dari masing-masing traveler. Semoga bermanfaat.



Wassalamualaikum wr. Wb.







Minggu, 28 Januari 2018

2018

Dari balik klise tempo hari,
Primodialisme yang masih utuh, hanya bergeser value
Bertransformasi menjadi resolusi masa mendatang
Dalam barang sepenggal rekonsiliasi: 
Untuk tahu bahwa satu-persatu esensi hal berubah seiring waktu
Atau bergerak menyesuaikan—menempati volume ruang
Idealisme, ambisi duniawi
Beralih pada proporsi yang lebih relevan
Men-adjust kapasitas iman dan ilmu yang lebih tajam
Sebagai maturitas pola pikir,
Juga perasaan. 

Januari, 2018

Rabu, 27 Desember 2017

Singkat di Jambi


Assalamualaikum wr wb,
Sedikit bercerita perjalanan tempo hari, Jambi 2017

Selasa, 19 Desember 2017
Tidak seperti pulang dari site visit biasanya, kali ini memang sengaja mengambil flight lebih malam. Tadinya mau besoknya sekalian, tapi takut dipecat lantaran seenak jidat.

Oke lanjut.

Dari site di Jambi menuju bandara Sultan Thaha Jambi kurang lebih ditempuh selama 3,5 jam perjalanan. Berangkat menuju bandara selalu dijadwalkan pagi-pagi pukul 5.30, hingga estimasi tiba di bandara pukul 9.00 WIB. Kebetulan lagi se-rindu itu dengan jalan-jalan nggak jelas seperti yang kerap saya lakukan sendirian. Yea, memang nggak jelas. Tapi insha Allah diniatkan untuk menyumbangsikan elemen-elemen kebermanfaatan bagi orang sekitar. Terlampu banyak mengalokasikan waktu sebagai pekerja urban, yang kadang terasa seperti kehilangan jati diri—apa yang sebetulnya benar dicari.

Tiba di Jambi airport pukul 9:15 WIB, saya langsung menuju loket check in untuk menitipkan koper. Lalu baru tau ternyata di security gate bisa nitip dengan mudahnya (even I don’t have to say my name) (atau karna mas-masnya begitu pengertian). Yha memang berbeda dari jalan-jalan biasanya, men-replace carrier 35L merah dengan tas laptop kantor lengkap dengan mouse dan charger.

Candi Muaro Jambi menjadi first listed destinasi jalan-jalan kali ini. Berlokasi di Kabupaten Muaro Jambi, berjarak kurang lebih 24 kilo dari Bandara. Tanpa menunggu waktu saya langsung memesan ojek online, yang ternyata tidak diperbolehkan menjemput penumpang di area Bandara. Bagi-bagi porsi katanya. Setelah meratapi supir ojek online dan ojek pangkalan adu mulut dalam dialek Jambi ngapak, akhirnya saya di hand over ke ojek pangkalan.

“Tapi tarifnya samain sama aplikasi ya mas.”
“Tambahin dikit deh, mbak”
“Yha berangkat dah”

Perjalanan dari Bandara menuju Candi Muaro Jambi kurang lebih 1 jam. Cak mano jauh kali! Sepanjang jalan hampir saya habiskan bercakap dengan Bapak Ojek. Pak Sikil namanya. Sikil = kaki?! Beliau seketika berubah menjadi penduduk Jambi yang begitu ramah, jauh berbeda dengan tutur lakunya saat adu mulut tadi. Saya menanyakan satu demi satu objek yang saya lewati. Maklum, baru kali ini jalan-jalan sendirian di tanah Sumatera. Pak Si’il menjawab dengan antusias, lalu inisiatif mengekspansi jawaban—semakin rinci, seperti bercerita sendiri. Dari mulai keluarga, pengalaman kerja, hingga tabiat masyarakat Jambi yang bertata-laku paling ramah se-pulau Sumatera katanya. “Iya Pak, tadinya saya kira Bapak galak. Ternyata lama-lama ramah juga”. Beliau terus menimpali dengan dialeknya yang tak bisa tak kental. Pak Si’il, badannya gelap dan tegap, persis seperti alumni militer (Atau barangkali alumni preman Sumatera), berhasil mengantarkan saya mencapai destinasi tujuan dengan penuh isi di dalamnya. Beliau menawarkan untuk menunggui saya sampai kembali ke kota lagi, dua tiga jam tak masalah katanya. 

Pukul 10:30 saya tiba di Candi Muaro Jambi. Pemandangan  candi siang itu berhasil memberikan impresi mengesankan untuk saya. Bongkahan batu bata menggunung membentuk dinding kokoh, terpetak di tengah bentang rumput hijau tanpa gradasi. Satu dua pohon menutupi gersang, memberikan nuansa adem yang enak dipandang. Berjalan mendekati pelataran candi, seketika teralihkan oleh pemandangan pasukan pramuka sekolah dasar sedang upacara. Dipimpin Pembina upcara, mereka memuncakkan sang saka Merah Putih, beriring lagu Indonesia Raya. Saya duduk di pinggir lapangan, menikmati instrumentasi di hadapan saya. Bukti Pancasilais yang bukan teori politikus, seperti langsung mandarah daging. Lantunan suara sang pasukan melengking di udara, memantulkan gaung di dinding-dinding batu tua.


Pelataran, 10:30 WIB

Sudah lama, tidak main ke Candi

Candi Muaro Jambi

Pramuka dan Merah Putih


  
Saya kian mendekat ke bangunan Candi, mencari angle yang pas untuk diabadikan. Lantunan padusa Indonesia Raya silir semilir menipis. Langkah saya melanjut ke Candi di atas pelataran sebelahnya. Ya jadi memang seperti komplek Candi disini, jaraknya tidak saling berjauhan. Pasti menarik sekali pikirku, memetakkan kisah historis di balik dinding-dinding bata ini. Sekeliling pelataran candi dipenuhi dengan Sewa Sepeda. 10.000 rupiah, sampai puas, asal dikembalikan. Hahaha penawaran macam apa.

Saya merental satu sepeda di salah satu rental pojok jalan. Benar saja, sepuluh ribu rupiah sampai puas. Konsep bisnis berbasis ikhlas. Saya mulai menyusuri jalanan kecil untuk jalur pejalan kaki bergabung dengan jalur sepeda. Beberapa kali bertanya pada penduduk setempat perihal jalur untuk sampai ke desa perumahan warga Muaro Jambi. Sampai akhirnya ditunjukkan jalan oleh seorang Bapak warga setempat yang juga sedang bersepeda, lalu kami berjalan beriringan. Perkenalkan, Pak Barma’in. Perawakannya kecil, terbalut sweater kuning lusuh, mengayuh sepeda hijau kecil yang pun sudah kumuh. Jerujinya kadang terlepas dari rel, mengharuskan beliau turun sejenak mengembalikan jeruji ke tempatnya. Saya ikut berhenti, menunggu prosesi yang cukup berulang-ulang itu ditangani.

“Sudah rusak, Pak?”
“Nggak mbak, Cuma kadang mesti dibeginikan.”

Dibeginikan, yang maknanya adalah dibenarkan, implikasi dari sudah rusak, tak lagi layak. Saya menarik nafas, memaknai hari itu sebagai momen bersyukur terhadap sekecil apapun hal telah dikehendaki untuk masing-masing manusia. Bukankah semua yang ada di dunia—jodoh, rezeki, mati—adalah kepastian dan sudah ditentukan? 

Pak Barma’in mengajak saya menyusuri jalanan kecil tepat samping sungai Batanghari. Saya tercengang, baru sadar ternyata daritadi saya berada di ujung sungai. Kayuhan sepeda terhenti di pos ujung Batanghari, mengabadikan momen mahal Bersama Pak Barma’in. Beliau memulai percakapan, pertanyaan-pertanyaan basic warga desa pada seorang pendatang yang terlihat “dari kota”, seputar orang mana dan datang darimana. “Pulang kerja Pak, pingin jalan-jalan disini, alhamdulillah ketemu Bapak.” Memang tidak bisa bohong, saat itu seperti kembali mendapat kesenangan yang benar-benar saya rindukan—berjalan dan bertemu banyak orang. Beberapa warga desa lainnya yang menyaksikan keberadaan kami berdua seraya saling menyapa; saya membalas dan menjabat tangan masing-masing dari mereka. Tak terlewatkan anak-anak penduduk setempat yang saling berpandangan, meminta disapa duluan. Saya menyalami seluruhnya, berkenalan. Ozzy, Desy, Linda, Mozza. Bagus-bagus ya namanya, nama saya kalah trendi. Lalu momen yang tak pernah terkecuali, foto bersama si anak-anak tadi. Dijepret oleh Pak Barma’in, ekspresi senyum sipu-sipu mengembang di layar kamera saya. Kepada anak-anak dan beberapa warga saya undur diri, melanjutkan konvoi Bersama Pak Barma’in. It was really nice to meet you..


Sepeda Hijau Pak Barma'in

Kawan bersepeda siang itu


"Poto dong mba. Biar masuk pesbuk."



Astrid & PakBarma'in

Kids, say cheese!

Sudah puas berkeliling desa dengan elemen interaksi di dalamnya, saya hendak mengembalikan sepeda dan berpamitan pada Pak Barma’in. Ucapan terimakasih yang dalam dari saya untuk seorang Bapak dengan perjuangan hidup untuk keluarganya yang luar biasa. Beliau berterimakasih kembali, meminta saya suatu hari main kesini kembali.

***

Saya kembali berjalan kaki, kali ini menyusuri warung-warung minum yang berjajar di pinggir pelataran candi. Pop Ice Cappucino, tanpa perlu perduli sudah berapa hari blender keruhnya tidak dicuci. Lima ribu rupiah, cukup mampu menyegarkan kembali kerongkongan saya di siang itu. Saya kembali ke Pos masuk Candi Muaro Jambi, tempat Bapak ojek saya menunggu saya berpuas-puas jalan. Pak Si’il melambaikan tangan ke arah saya, takut-takut tidak terlihat. Beliau duduk Bersama Pak satpam dan penjaga Candi yang menunggui pos, kepada keduanya saya menjabat tangan. Saya melebur dalam interaksi dengan kedua penjaga pos, hingga salah satu dari mereka memberikan kenang-kenangan untuk saya. Sebuah gelang dengan manik-manik kayu hitam, hanya ada di Jambi katanya. Bentuk apresiasi terhadap penerimaan hangat warga desa Muaro Jambi untuk saya, apresiasi terhadap kultur kental yang cukup primitive—namun tetap terbuka, apresiasi terhadap sequence hidup antar manusia, bahwa segala sesuatunya adalah berhubungan, dan selalu menjadi sebuah kebaikan yang saling berkaitan. Saya kembali diantar Pak Si’il pulang ke kota, meninggalkan senyap-senyap sirkumstansi desa.


Cuma ada di Jambi, katanya.

Siang itu hampir hujan, syukur sudah sampai duluan sebelum sempat kehujanan. Saya minta diantar ke Kedai Kopi Ahok, berlokasi di pengkokan Jalan Sudirman. Hasil rekomendasi teman kantor saya, kalau-kalau ingin cari kopi enak Jambi punya. Saya memesan secangkir Kopi Susu bersanding menu makan siang Gado-Gado. Seperti kopi Jambi cap AAA dicampur susu, tapi bukan. Ya apapun itu.


Kopi Susu Ahok

Tujuan destinasi di list saya sudah semua terpenuhi, hanya tinggal mencari pempek titipan Ibu. Ditemani oleh seorang kerabat kantor yang juga penduduk Jambi, saya diantar mencari pempek favorit sini, lalu berlanjut diperkenalkan dengan Jembatan Gentala Arasy. Konon katanya jembatan ini menghubungi penduduk asli Jambi dengan kota Jambi. Menarik sekali! Saya berjalan menyusuri ujung jembatan di atas sungai Batanghari, hingga turun di perkampungan seberang Kota. Menara kokoh terhubung dengan Masjid Agung Al Fallah: adalah menara masjid yang diperuntukkan untuk menggaungkan suara adzan.


Nyore

Sore itu cerah, silampukau menyoroti perahu-perahu getek yang berlabuh di pinggir daratan sungai. Hari itu, saya baru saja terdoktrin oleh kehangatan Kota Jambi untuk dikunjungi.

Menutup jalan-jalan singkat, saya kembali ke bandara. Jambi dan Desa Muaro Jambi; Tempat yang mampu menyumbangsikan kenangan kental untuk saya. Masyarakatnya hangat dan ramah. Retrospektif budaya yang tetap terbuka dengan arus globalisasi pun orang luar. Tidak terasa birokrasi materialis yang mewarnai interaksi. Hingga kearifan lokal dengan retorika yang berisi.


Since it always comes to be best feeling whenever I appreciate my life with engaging people, time, and places. To know where life should go, to find out when your restriction shouldn’t always be counted on.


Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.



Salam,
Astrid Astari