Sabtu, 16 September 2017

Melawan Tua

“Wish you all the best”

Kiranya terdengar seperti template frase copy-paste di akhir ucapan ulang tahun, namun bermakna besar: semoga segala yang baik selalu menyertai. Aamiin ya rabbal alamin.

2 September 2017, tepat kali ke-23 saya beranjak usia.

Ingin sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mengapresiasi penambahan usia dengan selebrasi yang lebih bermakna—implementasi dari rasa syukur. Yea honestly, semakin kepala dua ke atas-atas—semakin tua hidup di dunia—semakin tidak berorientasi pada selebrasi gemas atau semacamnya. Orang inget aja syukur. Request surprise? Halah paling ketauan. Jadi seumur-umur, pernah dirayain ulang tahun cuma sekali pas umur 7 tahun. Attendees nya ya bocah-bocah komplek seumuran gitu lah. Tapi yang datang lebih banyak temen-temen arisan ibu kalo nggak salah. Feelin I’m not that cute to celebrate birthday with specific planner or something common like girls nowadays. Yah mungkin jiwa saya memang lawas.

Now playing: Koes Plus – Bahagia dan Derita

Awal hari, 8.00 WIB, saya berangkat dari rumah—setelah ritual tiup lilin ala-ala. Spesifikasi lokasi tujuan di hari itu masih halu sebetulnya, tempat yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Pernah sekali baca di surat kabar, banyak kegiatan sosial yang memang kerap kali menyentuh anak-anak daerah sana, karena keterbatasan ekonomi dan pengaruh buruknya lingkungan. Kawasan bernotabene “bahaya”, dalam persepsi nya masing-masing. Lalu siang itu, dengan commuter line jurusan Jakarta Kota, saya tiba di tempat tujuan.

Kampung  Jati Baru Tanah Abang, Jakarta Pusat, 11.00 WIB.

Kombinasi antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan arah Cikini – Tanah Abang – Jati Baru menjadi akses saya untuk mencapai kawasan ini. Bermula dari mencari beberapa kebutuhan di daerah Cikini, lanjut ke daerah Tanah Abang, dan berakhir ke destinasi utama, kampung Jati Baru. Ojek yang mengantar saya ke daerah itu beberapa kali bertanya perihal maksud dan kepentingan untuk mengunjungi perkampungan tujuan. Barangkali beliau tau, kawasan “bahaya” yang orang juga malas berurusan. Terlebih ketika melihat seorang “mba-mba” sendirian, membawa tas ransel besar, tidak cakap menghafal jalanan, meminta diturunkan di pinggir jalan Tanah Abang. Bapak Ojek yang perhatian, barangkali was-was, akhirnya sempat beberapa lama menunggui saya di tempat saya turun, sampai saya bilang akan dijemput teman. Beliau kembali menyela kick starter motor tuanya seraya menitipkan pesan: Hati-hati di jalan.

Jati Baru. Sirkumstansinya pekik, terbalut dengan aksen jalanan yang terdengar tempik. Jalan raya yang dipenuhi seliweran kendaraan umum; agkutan kota, bajaj sampai kopaja. Di sepanjang jalan raya menjalar pertokoan lapuk, bersela gang-gang perkampungan warga. Sopir bajaj, bapak-bapak komplek, ibu-ibu di balik gerobak dagangan, anak-anak “pembersih sampah ibukota”, turut mensituasikan hiruk pikuk jalanan. Sedang di ujung jalan terlihat sibuk seorang kenek kopaja merayu bakal calon penumpang, kemanapun tujuan akan diantar! Ibukota yang terintegrasi, mengapa sebilang arteri tipis jantung ibukota seolah terbias? Apakah karna sistem yang terlampu mature, hingga garis batas antara kesenjangan rakyatnya tak menjadi penting?

Saya menapak turun di sepanjang  trotoar sempit menuju salah satu perkampungan. Celingak-celinguk mencari objek yang kiranya bisa ditegur sapa. Selang tak lama, saya menjumpai segerombol ibu-ibu sedang asyik duduk-duduk di depan sebuah warung, menyela dengan sapaan ramah, sejenak memecah rumpian seru betawi punya. Tatapan awal yang merepresentasikan mimik tajam dalam menghadapi orang luar, hingga akhirnya mereka berbalik sapa sekenanya. Saya seraya menyampaikan maksud dan tujuan, dan seraya pula masing-masing dari mereka menghempaskan reaksi tak kalah ramah. Selamat datang, mbak Astrid.

Yap demikian. Disini saya seolah menempatkan diri sebagai seorang backpacker dengan destinasi metropolitan. Perbedaan yang sangat signifikan antara menyentuh warga desa pedalaman dan warga perkampungan di Ibukota. Pada dasarnya sama, warga Indonesia yang sama-sama ramah dan senang menyapa. Hanya saja terbalut kulit yang berbeda. Warga ibukota, pada prinsipnya selalu berhadapan dengan aksentuasi kasar di setiap ritme memperjuangkan hidup. Berujung pada bentuk penerimaan, perangai masing-masing personalia terhadap orang-orang yang meliputinya. Kembali, semua orang pada dasarnya adalah baik, hanya saja tercermin pada kapasitasnya masing-masing.

Saya membuka percakapan, disusul dengan anak-anak dari masing ibu-ibu yang kompak menghampiri saya—lebih tepatnya menyerbu saya. Anak-anak berumuran sebaya, balita, hingga bayi yang digendong sang Bapak. Mereka menyapa saya bersautan, saya balik menyapa satu persatu, menanyakan namanya masing-masing. Ada yang mencoba menyanyi, sembari geal-geol yang gerakannya sulit diidentifikasi. Sampai akhirnya semua anak ikut bernyanyi, lagu selamat ulang tahun yang pun tak berima. Haha gemas sekali! Saya mengeluarkan GoPro yang terkait di ujung stick, menghadapkan lensa ke arah saya, bocah-bocah gemas, dan ibu-ibu yang tak terkecuali. Lalu selalu menjadi momen penuh antusias ketika mereka melihat refleksi dirinya di layar handphone. Mana puas sekali jepret. Baiklah, “sekali lagi ya dek”.

Blessed :)

They are so kyot.

Dikasih pak satpam stasiun Cikini, dari Anonim. Hm.

Kurang lebih setelah satu jam, saya undur pamit. Warga perkampungan itu menyalami saya; dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, hingga bayi yang tangannya digerakkan oleh sang Bapak—supaya turut bersalaman juga. Saya pulang ke stasiun Tanah Abang dengan diantar oleh salah seorang pemuda warga perkampungan. Seperti kehangatan tersembunyi di tengah stereotype “bahaya”, setelah penyampaian tujuan yang diniatkan lillahi ta’ala.

2 September di tahun ini memang terasa berbeda. Jelas, memasuki umur baru pada stage of life setingkat lebih atas dari sebelumnya. Berbagai ucapan mengharukan yang turut menuntun saya mengucap syukur berulang kali. Teman-teman yang mengirimkan berparagraf ucapan dan doa, yang berbaik hati menyuguhkan api-api kecil di ujung lilin, buah tangan perlambang kado ulang tahun dengan kebermanfaatannya masing-masing, serta teman-teman yang memaknai sebuah “inspirasi” dari sebagian kecil diri saya; Semoga mampu menjadi pribadi yang disemogakan.

Hari itu saya tidak langsung pulang ke rumah, perihal menemui kerabat dengan tujuan acaranya masing-masing. Dan bukankah berdiam diri di rumah saat berulang tahun hukumnya makruh (?)

....Semoga panjang umur dan sehat selalu.

Saya ingat pesan Bapak yang tak pernah tertinggal: Baik menjadi orang penting, namun lebih penting menjadi orang baik. Baik yang tak butuh alasan, namun bermakna plural. Berpijak pada kuantitas umur yang lebih banyak, berpijak pula pada kualitas diri yang—seharusnya—lebih matang. Berada di umur yang bukan lagi mengikuti, namun membentuk jati diri. Yaitu untuk lebih cakap memilih mana yang salah dan yang benar. Mana yang perlu, mana yang sekiranya membuang waktu. Untuk mampu melihat kapabilitas diri, bahwa banyak hal lebih penting yang perlu dibenahi. Seperti: how to implement self positioning. How to deal with others. Ya, saya selalu menikmati seni daripada memposisikan diri dengan berbagai tingkatan manusia di hadapan saya—supaya sama rata. Pun seni berkomunikasi dengan bermacam karakter: tutur bahasa, intonasi, pola pikir, dan lainnya. Seolah perasaan “menang” ketika mampu menguasai karakter lawan bicara dengan tutur laku yang sederhana: mengalah. Seperti pesan Ibu yang pula tak pernah tertinggal: Mengalah saja, itung-itung ibadah.

Remembering the stable where  for once in our lives
Everything became a You and nothing was an
It
-On God and Other Unfinished Things

Kembali. Seperti mentari dari ufuk timur, bergeser ke ufuk barat, berlembar-lembar, menjadi minggu, menjadi tahun, membentuk dasawarsa, hingga tak terhitung lamanya. Lalu ada yang tertinggal sebagai masa lalu, ada yang kelak dihadirkan sebagai masa mendatang. Bentuk implementasi dari mengintegrasikan diri, menjadikan masa lalu dan permasalahan hidup sebagai bahan konkret pembelajaran. Atau bentuk memantaskan diri, sebagai critical operational control yang hanya mampu manusia kehendaki. Agaknya terdengar normatif. Mungkin begini implikasinya, jikalau kamu paham, menjadi pribadi lebih baik adalah produk dari proses mengilhami masa lalu sebagai bagian dari seknario kehidupan. Bukankah manusia hanya lakon reinkarnasi—yang pada akhirnya akan tetap sama—kembali pada yang menarasikan?


Selamat pagi menapak dua puluh tiga.



Best regards,
Astari, Dirgawijaya

Kamis, 20 Juli 2017

Solo Backpacker Solo - Yogya, 2017

Sebuah tulisan tentang perjalanan backpacker kemarin, Solo – Yogyakarta. Yha jadi isi dm instagram saya cukup diramaikan dengan message pertanyaan: “Kak sendiri?” “Kak kok sendirian?” “Kak backpacker kemana?” “Kak ikut…”. Kira-kira intinya seputar itu. Ya betul, backpacker sendiri. Kok sendiri? Karna lagi kepingin sendiri. Yea explain a lot. Mungkin berbagai filosofi yang sekiranya bisa menjawab pertanyaan tersebut perihal alasan solo backpacker bisa ditemukan di alinea-alinea berikutnya.

22:35 WIB, Kereta Ekonomi Mantab Premium, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Solo Jebres.
07/07/2017

Jum’at malam, sepulang dari kumpul dengan organisasi semasa kuliah di daerah Benhill, saya langsung berangkat lagi ke stasiun Pasar Senen via ojek online. Alhasil cukup agak diliatin dengan nanar malem-malem masuk cafe sembari mbopong-mbopong carrier. Memang sengaja ambil jadwal kereta paling malam karna pertimbangan jam pulang ngantor, dan supaya nyampe tujuan di pagi hari juga. Kebetulan waktu booking cuma tersisa kereta ini untuk tujuan Solo, dan tinggal tersisa 3 seat. Langsung sprint lah saya ke Indomaret.

Sampai di stasiun Pasar Senen, langsung tuker tiket di mesin cetak tiket mandiri, lanjut baris di antrian Kereta Mantab Premium. Dalam hati nyinyir, namanya harus Mantab banget?! Lalu baru tau, kepanjangan dari Madiun-Tambahan Premium. Hahaha kesel gila ternyata akronim.

Masuk di dalam kereta, saya duduk dengan mba-mba muda. Tujuannya sama, stasiun Solo Jebres. Bukan seperti kereta Ekonomi yang saya tumpangi seperti backpackeran biasanya. Yang ini lebih bagus, seatnya nggak vertical 90 derajat, toiletnya lebih luas dan “mendingan”, restorasinya juga nggak kayak moving bar selayaknya Ekonomi biasa. Hampir sepanjang malam saya menghabiskan waktu di restorasi. Pesan satu kopi hitam, duduk bersama petugas keliling dan petugas restorasi. Jadi sejujurnya, salah satu alasan saya membetahkan diri duduk disana tidak lain dan tidak bukan, karena kedinginan. Dan jaket ketinggalan…

Sampai di stasiun Solo Jebres sekitar pukul 8.00 WIB. Toilet stasiun penuh seketika dengan penumpang yang baru turun, berebut air untuk cuci muka. Saya ikut mengantri di belakang ibu-ibu yang goyang-goyang kaki—menahan pipis. Boro-boro kepikiran mandi, cuci muka pun mesti nyempil-nyempil di antara becekan westafel. Cukup merasa sedikit bersihan, saya segera memulai perjalanan saya.

Selamat datang di Solo Kota Budaya.

Pasar Gede Hardjonagoro Surakarta

Pasar Gede Hardjonagoro menjadi destinasi pertama saya. Jaraknya tdak jauh dari stasiun Solo Jebres, akhirnya saya memutuskan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit sampai tiba di depan pangkalan becak sekitar pasar. Berniat mencari sarapan, saya bertanya-tanya pada salah satu Bapak pengemudi becak perihal tempat sarapan sekitar sini. Beliau mengarahkan untuk masuk ke dalam pasar, “Iku akeh ing pasar” katanya. “Matursuwun Pak”. Kondisi dalam pasar yang ramai dan umpel-umpelan, mau tidak mau saya berjalan di antara sela-sela jalan antar dagangan yang sempit, beraroma khas pasar pada umumya: semrawut. Saya bertemu lagi dengan tiga orang ibu-ibu yang mengenakan kaos hijau muda cerah seragam bertuliskan “Soto Senggon”. Beliau menyapa saya duluan, menanyakan mbak e iki arep ngendi. Ya mungkin mereka bingung gelagat saya sepanjang jalan celingak-celinguk mencari tempat “yang katanya banyak tukang makanan” kata bapak Becak tadi. Sedang sepanjang jalan saya hanya mendapati ayam mentah dipotong fillet, sayur mentah diikat-ikat, beras ditimbang. Paling-paling beberapa kedai makanan di pojok-pojok pasar. Akhirnya ketiga ibu Soto Senggon memberi pencerahan “Kae lho sing.. iku, kui..”. “Saya cari pecel Bu”. “Pecel?” Ketiganya berdiskusi, seakan merumuskan settingan waze secara komunikata. Saya ditunjukkan sebuah tempat makan pojokan setelah beberapa lama ngobrol di sela-sela perut keroncongan. Namanya bu Lastri, bu Suminem, dan bu Muji. Perangainya lugu, dibalut dalam wajah berseri-seri dan tutur dialeknya yang ayu. Saya mengeluarkan kamera dari tas kamera saya, ketiganya serontak saling mendekat, mengarahkan pandangan ke lensa kamera, siap dijepret. Hahaha nyenengi banget. Saya tertawa, langsung mengarahkan kamera saya, mengabadikan pose ketiganya dalam beberapa kali jepretan. “Cuantik tenan Ibu, kaya umur 30 taun”. Mereka senyum-senyum gemas seketika saya perlihatkan hasil jepretan di layar kecil kamera. Perut keroncongan saya hilang seketika, barangkali jadi kenyang menelan keakraban hangat yang bisa muncul dalam waktu singkat. Saya berpamitan, berterimakasih sudah menunjukan jalan.

Bu Lastri, Bu Suminem, Bu Muji

“Bu foto sama saya juga yuk”

"Ini sih lihatnya kemana, mbakyu?"

Pecel sambel Tumpang bu Hari, Pasar Gede. Seporsi dihargai enam ribu rupiah, plus teh tawar panas 1500 rupiah, jadi 7500 rupiah… Ketika di Jakarta paling-paling hanya dapat nasi dan kobokan. Selesai mengisi perut, saya berjalan keluar pasar. Mata saya beralih ke sebuah dagangan kecil samping pintu pasar, agaknya makanan unik. Kompyang!! Makanan yang selama ini ibu saya cari di seluruh belahan dunia dan belum nemu-nemu juga. Saya beli beberapa, sembari bertanya-tanya akses ke Keraton dari sini naik apa. “Becakan wae” ujarnya. Seketika jari-jari tukang becak di sekitar saya langsung menunjuk-nunjuk angka satu yang diacung-acungkan, tanda menawarkan. Saya memilih salah satu dari mereka, Bapak pengemudi becak yang terlihat paling tua. Yha lantaran saya memang hobby dan sangat tertarik berkomunikasi dengan orang-orang  “wis umur”.

Perjalanan dari Pasar Gede menuju Keraton Surakarta ditempuh selama 10 menit bersama becak Pak Darman. Di atas becak Pak Darman saya pertama kali merasakan ayemnya kota Solo. Terpal becak sengaja saya buka untuk meluaskan pandangan. Hiruk pikuknya lembut, terbalut dalam aksentuasi tata dan laku penduduk yang apik. Ini adalah kali pertama saya ke kota Solo. Lalu lalang jalanan terasa ramah, seolah diperbatasi oleh pagar-pagar beton putih kuno Keraton punya. Saya mengedarkan pandangan, beberapa kali ngobrol dengan Pak Darman. Mungkin beliau bingung, lha iki panas-panas cewek sendirian minta nggak pake terpal, senyam-senyum lihat jalanan.

Pukul 10.45 saya tiba di Keraton Surakarta. Sebelumnya saya sudah janjian terlebih dulu dengan salah satu abdi dalem kenalan teman saya (yang kemudian dikenalkan ke saya), Pak Toto namanya. Saya menunggu beliau di pelataran Keraton, duduk di sebelah seorang nenek yang menyuapi dua orang cucunya. Saya mulai membuka percakapan. “Putrane nggih, Bu?”, “Ora, putu ku”. “Oalah, sopo jenenge?” Dua bocah laki-laki meraih tangan saya, bersalaman di tengah kesibukkan mulut menelan makanan. Saya berbincang seputar kota Solo yang panas jebret di siang itu. Delman Keraton berlalu lalang ditumpangi penumpang lokal hingga mancanegara, bolak-balik melewati gerobak es cendol khas Solo yang berjajar rapi menunggu penumpang delman turun dan segera kehausan. “Mbak nya sendirian po?” Baiklah, pertanyaan ke seribu hari ini. Kali ini saya punya jawaban lain, “Nunggu abdi dalem kenalan saya, Bu”. Fyuh, aman.. Dan siap menyiapkan jawaban template lagi untuk pertanyaan yang sama kemudian.

Okay, ini sedikit tips untuk teman-teman (terutama perempuan) yang ingin solo backpacker. Ada kalanya kita mesti pintar-pintar bohong saat menjawab pertanyaan seperti “sendirian?”. Lihat kondisi si penanya dan lokasi kita ditanya. Kalo memang terkesan creepy, jawab saja dengan tegas kalo kita bareng teman. Atau orang tua, atau siapapun yang dirasa bisa jadi perlindungan. Pintar-pintar baca kondisi, karna nggak semua lokasi untuk berpergian sendiri itu bisa dikategorikan tidak berbahaya, aman-aman saja.

Akhirnya saya bertemu Pak Toto, beliau sekalian mengajak istrinya. Kami bertiga berjalan-jalan masuk ke dalam Keraton. Mengisi tapak demi tapak dengan obrolan hangat dan ringan. Pak Toto bercerita seputar budaya Solo, sejarah Keraton, tradisi orang sini, hingga rantai silsilah keluarga kecilnya. Tanpa mesti melapor atau apapun, saya boleh langsung masuk saja ke dalam. Oh jelas, sebelah saya abdi dalem Keraton sini.

Masuk ke dalam Keraton, saya berkeliling sebentar, lalu duduk di bangku pelataran berjajar dengan Pak Toto dan Bu Istri. Dua tiga wejangan beliau sampaikan, sepaket dengan berpenggal alinea cerita hidup yang terkorelasi dengan tuntunan Jawa kental. Saya mengiyakan tiap titik ceritanya, kadang menimpali, berpendapat. Tutur katanya cakap, berpengetahuan tinggi, namun terkemas dengan rendah hati. Beliau bercerita tentang buku-buku yang sudah ditulisnya. Pantesan! Jelas saja beliau penulis. Tak beberapa lama beliau memanggil seorang abdi dalem Keraton lainnya, Pak Narso, kakak dari istri Pak Toto. Saya diajak berkeliling Keraton oleh Pak Narso, dijelaskan pelbagai macam sejarah, filosofi tiap bangunan, siapa raja, siapa ratu, Kusno kecil dan bung Karno dewasa, hingga Ibu Megawati, dan masih banyak lagi. Suaranya berat, tatapannya begitu mantap, aksentuasi gerakannya seolah menggambarkan apa yang disebut-sebut ningrat. Di akhir perbincangan, beliau memberi pesan pada saya: Kesuksesanmu akan tercapai, dengan kamu banyak mendoakan kedua orang tua. Saya tertegun, tatapannya seperti menusuk, penuh doa. Saya mengucapkan terimakasih banyak sebelum beliau mesti buru-buru menemani tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan, ingin berkeliling.

Pak Narso dan Bu Istri

Seusai berkeliling, saya diajak mampir ke rumah Pak Toto yang masih berlokasi di komplek Keraton. Rumahnya persis di belakang Keraton, sederhana namun hangat. Saya melepas sepatu, melungguh di ruang tamu. Ibu Istri keluar dengan membawa dua piring Mie Toprak untuk saya dan Pak Toto santap siang, sengaja dimasakki katanya. Wah iki mantap iki. Dengan basa-basi gombal dicampur malu-malu elegant, saya ahirnya melahap juga. Dan langsung habis. Hahaha. Jadi gitu memang, di adat tanah Jawa, ketika disuguhi makan, suatu kehormatan untuk tuan rumah jika makanannya dihabiskan. Ya kebetulan jadi enak kan..

Siang itu kami kembali bercerita, mengerucut pada politisasi Indonesia. Masing-masing dari kita memiliki pandangan, persepsi untuk berpendapat, namun tetap terbatas pada hakikat kebenaran dan ketidakbenaran adalah relatif, kadang subversif. Pernyataan-pernyataan argumentatif Pak Toto diselingi dengan kutipan dari buku-buku tebal lama yang tertata rapi di sebelahnya. Saya mendelik ke arah koleksi-koleksi buku di raknya yang berseling dengan figura foto-foto keluarga. Siang itu membuahkan sangat banyak pengalaman hidup yang ditularkan, positifitas hidup terhadap agama, negara, tanpa lupa untuk selalu melihat ke bawah. Tak lama saya pamit undur diri, bersalaman dengan Pak Toto, Bu Istri, dan anak sulungnya, mengucap banyak terimakasih. “Masih ada destinasi yang lain”. Betapa pengalaman yang sangat berharga menerima jamuan warga Keraton yang begitu menyentuh, pun bermakna.


Mie Toprak

Bersama Bu Istri dan Pak Toto

Lihat langit di atas selepas hujan reda, dan kau lihat pelangi. Seperti kau disini, hadirkan Sriwedari…

Yapp, Taman Sriwedari. Berawal dari rasa penasaran kenapa tempat ini sampai dilagukan (?) Semakin tertarik setelah tau ada pula jejeran toko buku bekas disana. Ya jadi saya memang sangat gemas dan teramat terobsesi untuk mengoleksi berbagai macam buku bekas. Ada sensasi tersendiri ketika baca buku dengan lembar kertas menguning, kadang sudah kecokelatan, atau ditulisi kotretan oleh pemiliknya yang lama. Yea just because most of times, I’m just way too… lawas. Perjalanan dari rumah Pak Toto menuju Taman Sriwedari ditempuh dengan ojek online atas referensi Pak Toto. Mau cari akses Batik Solo Trans (BST) atau Bus Tingkat Werkudara, tapi waktu saya tidak cukup banyak untuk memenuhi itinerary yang direncanakan. Saya berjalan dari gapura besar nan apik Taman Sriwedari, masuk ke dalam halaman gapura, menengok kanan kiri berharap mendapati sebidang rumput yang disebut “Taman”. Hanya ada Gedung Wayang Orang (GWO) di ujung jalanan  aspal. Barangkali sepanjang jalan ini yang dilagukan, Setapak Sriwedari.

Taman Sriwedari

Langkah saya terhenti di suatu angkringan minuman masih di dalam komplek Taman Sriwedari. Penjualnya nenek-nenek dan seorang ibu-ibu, bisa dipastikan putrinya. Seorang Bapak-bapak sudah duduk menyilangkan kaki menikmati es kopi hitam bersanding puntung rokok. Saya mendekat, duduk di sampingnya. Panas yang semakin jebret di siang itu memang terasa pas dikancani es kopi, ditambah sensasi es batu dari air mentah. “Es Good day Vanilla 1 nggih Bu”. “Gud dei.. Gud dei..”. Gumam beliau sembari terus mencari sasetan kopi instan yang saya maksud, seolah akan menyaut. Nenek Rip’ah (kalau saya tidak salah dengar), masih terlihat sehat dan tatak di umurnya. Saya mengajaknya berbincang, paralel dengan sautan Bapak penikmat kopi sebelah. Perbincangan yang tidak terlampu berkonten, namun mampu membuat siang hari saya lebih “adem”. Saya memang selalu memperkenalkan diri kepada beberapa orang yang saya temui, hingga mereka berbalik memperkenalkan diri. Biasanya orang-orang yang berinteraksi cukup larut dengan saya, atau yang baru saja saya minta bantuan, atau sebaliknya. Mungkin ini perbedaan Ibukota dan kota berjiwa desa. Warga dari keduanya pada dasarnya sama, sama-sama rakyat Indonesia yang hakikatnya ramah, sama-sama manusia yang hakikatnya adalah baik. Perbedaan hanya terletak di titik bagaimana kita membawakan diri terhadap warga di daerah tertentu. Kultur budaya, dialek bahasa, tata dan laku. Ibukota keras, lahan-lahan kosong yang semakin terkikis dengan gedung-gedung beringas, harga sandang pangan papan yang tak dirasa ramah untuk sebagian besar penghuninya, dan akhirnya termarginalkan. Jumlah penduduk semakin membludak, warga desa berurban mencari iba Ibukota. Masing-masing dari mereka tak perlu perduli nyinyiran Bu A, sikutan Pak B, sikut balik Pak T, yang penting perut saya kenyang! Tapi mungkin ada yang terlupakan, tertimbun stereotype Jakarta yang begitu kental. Di balik itu semua mereka akan tetap menjadi lakon manusia dan warga Indonesia; santun, ramah, dan berbudaya. Yang saya senangi dari kota di Jawa, tanpa perlu membawakan diri sedemikian rupa, dengan satu kali bertegur sapa mampu meruntuhkan benteng antara si tamu dan si warga.

Kepada Bapak peminum kopi sebelah dan Nenek pemilik angkringan saya undur diri. Langkah saya berlanjut menuju jejeran toko buku bekas Sriwedari. Aaaa how I love toko buku bekas!! Saya berjalan sepanjang trotoar, sesekali mengubek-ngubek buku bekas yang tertata berantakan di rak paling depan. Penjualnya beragam, dari mulai anak muda, ibu-ibu, sampai bapak-bapak tua. Sayangnya buku yang saya cari tidak ada, Catatan Pinggir tulisan Goenawan Mohammad edisi ke empat. Kalau mau lebih lengkap mesti ke Gladak katanya. Tak perlu pikirku. Berjalan di sepanjang trotoar dengan pemandangan beribu buku saja sudah menyegarkan mata.

Kios Buku Mbak Yuli, Jual/Beli Buku Baru dan Bekas

Tak hanya toko buku bekas, ada pula terapit toko komputer bekas, Tik Komputer, toko percetakan, jasa pengetikan skripsi. Menarik sekali. Toko-toko kecil yang terkesan antik dalam aksen kontemporer. Saya berhenti di salah satu toko buku dengan penjual ibu-ibu bersama tiga orang anaknya, yang pula bersebelahan dengan penjual bapak-bapak dengan tiga orang anaknya—ramai! Ke-enam anak itu memandangi saya, barangkali excited lantaran saya mengalungi si Nikon sahabat perjalanan. Saya berbalik badan, menengok ke arah mereka. Tangan saya bergerak meninggikan posisi kamera, lalu mereka serontak berpose dan saling tertawa. Pemandangan seperti ini, selalu menjadi titik saya menikmati dan mensyukuri hidup. Dalam beberapa kali jepretan, anak-anak lugu itu sudah merasa puas. Tak lama, sang ibu ikut berkumpul—menagih diabadikan pula. Haha baiklah! Saya tak mau kalah, momen mahal bersama mereka tak boleh dilewatkan dari koleksi memoar saya. “Semuanya liat kamera ya, selfie!”. Hasil jepretan lensa mata ikan saya pertontonkan ke mereka, membuat satu persatu senyum mengembang begitu sumringah. Kami duduk bersama sebentar, memperbincangkan apapun yang ingin dipertanyakan. Saya bertanya seputar akses ke Kampoeng Batik Laweyan, destinasi saya selanjutnya. Bisa jalan kaki ujarnya, tapi dua kilo… tiga kilo lah. Ah sepertinya bukan pilihan yang tepat. Di akhir perbincangan saya pamit undur diri. Mereka kembali mengembangkan senyum disertai ucapan terimakasih yang begitu hangat. Saya mencium tangan sang ibu, dilanjutkan dengan anak-anak yang balik mencium tangan saya. “Sampai ketemu lagi”. Saya tersenyum, tak kalah sumringah


Karna bahagia itu sederhana :)

Panas jebret hari itu mulai menjinak. Cahaya tipis matahari sore berpendar memantulkan bayangan tubuh perempuan yang menggendong carrier 35L dan tas kamera di pundak kanan. Destinasi selanjutnya yaitu Kampoeng Batik Laweyan. Solo memang sangat terkenal dengan batiknya. Tak heran kalau kampung batik menjadi salah satu wisata yang selalu muncul ketika kamu mengetik keyword di google “Wisata Kota Solo yang Wajib Dikunjungi”.  Kampung ini ditandai dengan palang di depan gang pinggir jalan besar. Jalan kecil sepanjang gang diperbatasi dengan tembok putih usang menuju rumah-rumah warga dan pabrik batik itu sendiri. Di sebelah kanan jalan langsung terlihat salah satu Toko Batik terkenal berikut dengan ruangan produksi yang memang diperutukkan untuk ditonton oleh pengunjung. Saya hanya masuk sebentar, melihat ibu-ibu berkain sedang membatik begitu telaten. Saya pernah belajar membatik semasa SMA, tapi kalau tidak salah cantingnya malah beleber ke baju saya sendiri.

Di sepanjang gang perkampungan berjejer rumah warga berukuran rata-rata hampir sama. Tipikal rumah dengan teras ubin sepetak, tak berpagar, namun aman-aman saja. Sore itu cerah, bocah-bocah penghuni setempat kesana kemari, ceriwis dan petakilan. Beberapa main pistol-pistolan air, lempar-lemparan batu, yang kena batu jadi si pengejar. Haha permainan macam apa! Saya menghampiri tiga orang anak bersandar di sepedanya. Agaknya sedang beristirahat mengontel. Kami berkenalan, mereka kompak menyebutkan nama bergantian. Zahra, Caca, Ardi. “Aku Astrid”. *suara melengking sok imut, pasang muka baik, biar nggak kabur*. Ya jadi teman-teman backpacker, harus pintar-pintar mengondisikan pembawaan diri, dengan siapa dan dimana kalian berbicara. Kami jadi jalan bersama, menelusuri gang pelan-pelan. Mereka menyesuaikan ontelan sepedanya supaya sepadan dengan langkah kaki saya. Bermacam cerita terlontarkan dalam bahasa Indonesia campur aduk Jawa. Bahkan anak kecilpun bertanya, “Kakak pacarnya mana?” Semacam tingkat lanjut dari pertanyaan, “Kakak sendirian?”. Lah dek, ini lagi nanyain pacar. Akhirnya saya bercerita, seputar kehidupan di Jakarta. Saya bercerita, batik buatan ibu kalian laris manis di pasar ibukota. Mereka tertawa, lalu balik menceritakan kisah membatik ibunya masing-masing. Saya bercerita, anak-anak kecil seperti mereka harus terus belajar dan berkembang, pun turut membantu ibu melestarikan budaya kota tercinta. Barangkali anak-anak di kampung ini memiliki keuntungan lebih dibanding anak-anak kota metropolitan, megapolitan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan sentuhan langsung sang ibu, dan sirkumstansi yang begitu hangat, tak terpetakkan pagar tinggi atau lift rumah susun mewah. Zahra, anak paling tua diantara ketiganya masuk ke salah satu rumah. Mengambil kertas dan alat tulis. Sedang saya beralih mengobrol dengan salah satu petugas toko batik, menanyakan kembali akses untuk kesana-kesini. Sore itu pukul 4.00, saya bergegas pergi ke destinasi selanjutnya. Zahra, Caca, dan Ardi sudah berdiri di samping saya, ketiganya saling lihat-lihatan, malu-malu. Caca, anak berusia tengah-tengah diantara ketiganya memberikan sebuah lipatan kertas menyerupai surat. Saya bergegas membuka dan serontak dihadang oleh ketiganya. Rahasia!! Haha baiklah. Khawatir mereka semakin malu-malu, secarik lipatan kertas itu segera saya masukkan ke dalam kantong jeans saya. Kami berpamitan setelah saya meminta foto bersama. Anak-anak kecil yang selalu antusias ketika saya keluarkan kamera dan mengiming-iming foto bersama, lalu biasanya ketagihan. Zahra, Caca, dan Ardi, membuat sore itu begitu berkesan. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan :)

Sepeda Sore

Ardi, Caca, Astrid, dan Zahra

Singkat, namun mengharukan… :”)

:")

Destinasi terakhir perjalanan saya di kota Solo yaitu desa Sukoharjo. Desa, seperti tempat untuk saya merasakan pulang, melepas penat sejenak dari hiruk pikuk metropolitan yang begitu sesak. Saya kembali memanfaatkan kepraktisan ojek online untuk mencapai lokasi. Jaraknya kurang lebih 7 kilo dari kampung Laweyan. Tidak sedikitpun terasa jauh ketika kanan kiri jalan disuguhi pemandangan sawah hijau berhias petani yang sedang mengurus bajakan. Desa Sukoharjo mayoritas dibentangi oleh persawahan, perkebunan, dan rumah-rumah warga melipir di sepanjang jalan kecil bertanah yang membelah sawah-sawah.

Tidak banyak  tempat yang saya kunjungi di desa ini, menimbang ketika itu kaki saya sudah cukup pegal untuk terus berjalan. Sebagian besar waktu saya habiskan duduk-duduk di pembatas pinggir sawah, cukup dekat dengan lahan yang sedang dibajak. Saya menyapa bapak petani dari jauh, lantaran mesti copot sepatu kalau mau mendekat. Bapak petani balik menyapa, melambaikan tangan, supaya manuvernya lebih terlihat. Sore itu cerah, seolah mentransfer tenaga surya ke tiap-tiap sumsum tulang petani yang berpeluh mengendarai kerbau pembajak. Saya meraih buku bacaan sepekan terakhir, kumpulan esai karya Cak Nun. Bacaan bagus yang penuh konsiderasi cerdas. Terbitan lama, namun masih relevan hingga kini. “Indonesia Bagian dari Desa Saya”. Terasa sedemikian pas dengan patio seating alami tempat saya duduk dan membaca.

Senja, alam, buku, berlatar Scott McKenzie. Semoga hari yang baik juga selalu menyertaimu dirimu.

Pukul lima petang saya bergegas pulang. Pulang dalam arti kembali ke tempat saya akan bermalam, kota Yogyakarta. Rencana backpacker kali ini memang mencakup dua kota, dan kebetulan dapat tiket pulang dari Stasiun Lempuyangan, tidak ada lagi. Saya menuju stasiun Purwosari, mengejar kereta Prameks tujuan Solo – Yogya yang sialnya sudah kehabisan. Hanya tersisa kereta Jaka Tingkir untuk tujuan Yogyakarta, lima kali lipat harganya. Apa boleh buat. Daripada saya mesti ngeteng di malam hari. Sore itu begitu cerah, memberikan nuansa lebih menarik pada jalanan depan stasiun Purwosari. Becak-becak terparkir, ditunggui oleh masing-masing pengemudinya yang tertidur di jok terlapis kain merah, kuning, atau bersarung spanduk partai. Sirkumstansi syahdu yang membuat saya meluangkan waktu sejenak untuk bersender di tembok pagar stasiun, sembari menyapa Bapak Tukang Becak yang tidak sedang tidur. Gaung nada dering bel stasiun berbunyi, Kereta Jaka Tingkir yang saya tumpangi telah terparkir di jalur 3, siap dimuati.

Stasiun Purwosari, Solo

Sugeng Rawuh Ing Ngayogyakarta.

Pukul 19.00 saya tiba di stasiun Lempuyangan. Perjalanan Solo – Yogya via kereta ditempuh kurang lebih satu jam. Satu jam yang saya manfaatkan untuk tidur dan selonjoran. Sebetulnya nggak ada destinasi khusus di Yogya, hanya ingin bersantai menikmati malam hari bersama kopi malam di keramaian. Yapp, Kopi Joss! Kali kedua saya nangkring disini dan memesan Kopi Joss panas. Kopi hitam yang dimasukkan arang. Boleh juga ditambah es, jadi Es Kopi Joss. Cita rasa khas kopi angkringan Yogyakarta, tanpa perduli efek samping daripada menelan kandungan arang yang entah apa saja.

Saya duduk di bangku tepat depan sang penjual, menimbang saya hanya sendirian. Asik sekali kalau banyakan, tersedia tempat duduk lesehan dengan tiker-tiker yang membentang. Sebelah saya duduk seorang Ibu dengan anak perempuannya. Gemuk, putih, berambut lurus tebal. Gerakannya hanya seputar menggigit sate, sesekali minta difoto seketika saya sedang membenarkan kuncir rambut dengan kamera depan. Rasanya saya hendak mencari kantong kresek besar, ingin mbungkus bawa pulang

Tak afdol rasanya kalau tidak menyempatkan malam minggu di Malioboro. Ramai sesak dengan pelancong dari berbagai kota, bahkan negara. Saya berjalan menelusuri sepanjang trotoar, kadang terhenti saking penuhnya. Malam itu saya menyeringai, Yogyakarta, mengapa rupamu menyerupai Jakarta? Sangat disayangkan!

Puas sudah seharian berjalan, saya memutuskan segera menuju tempat penginapan. Kalau di internet si pemilik menklaim jaraknya hanya 400 meter dari pusat keramaian Malioboro. Hotel Grand Inna?! Bukan. Sebuah rumah backpacker yang memang diperuntukkan untuk para backpacker yang tidak berbudget besar. Permalam hanya 57ribu. Hahaha bayangkan! Satu kamar berisi empat orang, dengan kasur model susun sehingga tidak membutuhkan lahan besar. Kamar mandi terpisah dari kamar, satu untuk bersama. Kamarnya bersih, banyak stopkontak, cukup semriwing dari silir semilir kipas angin yang diset berputar. Satu orang penginap disediakan satu selimut dan handuk, gratis isi ulang aqua dan cemilan kuping gajah yang sengaja dipajang didepan kamar. Lokasi penginapan berada di pinggir sungai perkampungan samping Malioboro. Jadi ini yang di claim “hanya berjarak 400 m dari pusat keramaian”. Ya memang Malioboro, hanya saja turun sedikit. Pemilik penginapan seorang Bapak-bapak warga setempat, tinggal persis di depan rumah backpacker tersebut. Bapaknya ramah, menyambut kedatangan saya dengan hangat dan segera menjelaskan letak kamar, kamar mandi, hingga “SOP” menginap disini. Saya kebagian di kasur tingkat dua. Hanya ada nama saya yang tercatat di daftar penginap depan pintu. Saya meluruskan kaki, memijat kaki kanan berkali-kali. Sakit banget!! Khawatir ditempeli “sesuatu” sepeninggal dari Keraton, saya langsung buru-buru mandi, berdoa, dan tidur. Suatu benefit besar dalam hidup saya, bisa tidur dimanapun, dengan nyenyak, hanya dalam hitungan detik. Hahahaha the perks of being pelor lebih tepatnya.

Rumah Backpacker Yogyakarta

Pagi hari di Yogyakarta yang selalu dirindukan. 
Bangun di pagi itu dan mendapati kamar saya sudah penuh dengan tiga cewek backpacker lainnya. Bagaimana mereka bisa masuk pikirku. Sedang semalam kamar sudah terkunci dengan posisi kunci tergantung di grendel pintu. Barangkali saking pingsannya semalam, suara berisikpun tidak ada pengaruhnya. Saya segera mandi, menata ulang bawaan dalam carrier, lalu berangkat. Belum sempat berpamitan dengan teman sekamar lainnya, lantaran ketiganya masih terlelap semua. Saya duduk di undakan teras rumah yang berhadapan dengan rumah warga sembari memakai sepatu. Di hadapan saya duduk seorang Ibu paruh baya sedang menanak nasi di atas tungku, berjejer dengan suaminya yang sedari tadi mengipasi arang. Selamat pagi, Bu, Pak. Saya menyapa. Membuka obrolan sedikit perihal sarapan dekat sini, berlanjut pada tujuan destinasi saya selanjutnya. Tidak lama saya segera berpamitan, hendak mencari sarapan, dan mengejar kereta pulang.

Sugeng Enjang, Bu.

Kereta Ekonomi Mataram Premium, Stasiun Lempuyangan – Stasiun Pasar Senen, mengantarkan saya kembali di pagi itu.

Perjalanan dekat dan singkat yang memberi kesan dan makna tersendiri untuk saya. Tak ada tujuan khusus selain ingin berjalan dan bertemu banyak orang. Bukan perihal solo backpacker atau beramai-ramai, namun value dari perjalanan itu sendiri. Impresi yang ditinggalkan di setiap langkah dan momen dengan orang-orang yang dilewati. Sesenang itu ketika eksistensimu mampu memberikan semburat senyum bagi orang lain dengan cara sederhana, tanpa perlu waktu lama. Ketika eksistensimu mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain, pun sebaliknya. Melewati garis batas zona nyaman diri yang ternyata mampu menciptakan zona nyaman lainnya, bahkan lebih substansial. Bukankah pengalaman hidup, tak perlu perduli darimana mereka berasal?

Jumpa lagi di perjalanan selanjutnya.



Happiest traveler,
Astrid A. Dirgawijaya.

Minggu, 02 Juli 2017

Kopi & Kontemplasi


14:05. Silaturahmi dengan kopi pasca Hari Raya.

Tanpa beralih dari spot seating di balik jendela besar, muka lalu lalang jalanan. Lalu lalang yang ramai oleh pejalan kaki berembel-embel masih libur pasca lebaran. Kakek dengan Cucu, Cucu dengan Nenek, Suami menggandeng Istri, Istri menggendong Anak, gerombolan Mahasiswa dengan konversasi normatif, Tukang Parkir yang menstandar dua seluruh motor—meminimalisir tempat. Hanya satu dua Pedagang yang unjuk gerobak, barangkali yang lain masih di kampung halaman. Saya memulai ritme pelan antara mengedar pandangan dan meneguk kopi, masam pahit ringan yang sudah lama tidak dijumpai. Menulis kata demi kata tulisan ini.

Udah lama, nggak nulis..

Beberapa pekan disibukkan dengan rutinitas urban Ibukota. Mengalihfungsikan tendensi atas waktu dan tenaga berdasar urgensi dan objek konsentrasi. Bentuk memperjuangkan sebuah priotitas, ada puncak gunung-gunung lain dulu yang harus dicapai, baru kembali ke objek destinasi yang lain.

Kembali, mengaduk latte art kopi signature barista langganan. Menyumpal telinga dengan kabel berlagu lawas kontemporer. Selayaknya moment mahal untuk berkontemplasi, mengimaji perjalanan ala backpacker menelusuri gunung, laut, sawah, bukit, danau, perahu nelayan, becak, kopaja ringsut, truk ketengan, gudeg, tempe bacem, telur dadar rasa minyak, gado-gado siram, wedang ronde, es bandrek, teh tawar panas, yang selalu mengakhiri langkah mengunjungi desa-desa, menyatu dengan warga dan kopi hitam nusantara.

Ya boleh jadi dibilang, selalu menjadi suatu ketertarikan tersendiri untuk saya berjalan ke desa-desa. Nggak hanya jalan sembari mengabadikan pemandangan di balik lensa;  ada komplemen-komplemen lain yang seolah  menghadirkan perjalanan lain—lebih elementer—menyelami kehidupan warga desa lewat dialek berbahasa dan laku budaya. Bermula dari yang paling sederhana, sambutan hangat warga di balik raut wajahnya yang naif, megembangkan tutur senyum lunak berbalik sapa. Kedua matanya menyipit, terkikis pahatan garis tua di ujung pelipis. Sembari berdiri, kadang melungguh di pelataran rumah, biasanya bersingkap kain batik (atau sebenarnya sarung?), bersemangat mengangkat cangkir kopi hitam yang baru setengah diaduk, tanda menawarkan. Saya ikut duduk, turut diseduhkan kopi, sudah siap membena(kan) berparagfraf cerita. Tentang musim padi menguning, kebun kopi dekat sini, tradisi tiap bulan, atau tahun, atau kebijakan fiskal lumbung sebelah, persepsi kinerja Pak Menteri, hingga sentuhan Pak Presiden yang tidak terasa lagi. Ah, kangen.

Sedikit prolog dari sebuah memoar, melanjutkan kilas balik tentang perjalanan manusia yang berdoa..

Mimpi dan harapan. Tiap-tiap manusia memiliki keduanya, plottingan diri untuk tahun-tahun ke depan. Bermacam latar belakang berkomplot referensi, mengemas cerminan masa depan yang mampu membangunkan tiap-tiap mereka dari tidurnya, untuk bangkit menghidupkan mimpi secara nyata. Tanpa sadar memunculkan energi substansial untuk terus berjalan sampai puncak, melawan medan sedemikian terjal, bahkan kadang tak terlihat titik terang. Berliku-liku, ditambah pula terpaan bongkahan batu. Lalu kamu meraih tongkat untuk menguatkan pijakkan, yang pula tak cukup kuat. Kamu melempar temali, mengaitkan ke bongkahan batu sekian meter di atas pandangan, yang kelak akan menggelinding pula. Tersiar suara-suara yang tak lain teriakkan provokatif untuk kembali ke bawah, melupakkan bendera di atas puncak. Lalu kamu membangun tenda, meleperkan matras, berlindung menunggu pagi—menagih cahaya matari. Sepanjang malam yang tak hanya untuk pejam dan tertidur, namun menumatkan seribu doa agar selalu terlindung. Waktu fajar yang lebih terang dari tengah malam lalu, membuka pelan matari di ufuk timur. Terlihat puncak yang kini tak berkabut, teraih tongkat yang kiranya lebih kuat untuk menopang, teraba tebing yang tepat untuk kau kaitkan temali. Tapak demi tapak tetap menanjak berlika-liku, namun itulah jalan. Selang sekian waktu kamu tiba di puncak, menggapai bendera yang tertancap di sela-sela tanah berkapur perlambang puncak. Menengok kembali jalan yang telah dilewati, tersenyum menyeringai di balik peluh yang tumpah. Mengingat kau berjalan sendiri, alih-alih menuntunmu mengenal jati diri lebih jauh. Mengingat tenda malam tadi, tempat berlabuh menahan ego diri manusia, mengalihkan usaha pencapaian dunia menjadi penyerahan atas dunia sepenuhnya—terus berdoa. Bahwa insha Allah akan selalu ada jalan, untuk mereka yang benar berjuang…

Sedikit alegori pragmatis atas sebuah pencapaian, yang sejatinya menarasikan pengalaman diri saya. Menjadi seorang ambisius yang idealis, seorang yang “kalo udah mau, ya nggak akan berhenti”, kemudian menaruh plottingan pencapaian pada masing-masing “stage of life”. Toh mungkin terdengar klise, bahwasanya memperjuangkan mimpi yang semata-mata tidak hanya untuk duniawi dan diri saya sendiri. Atau terkesan diplomatis, ketika memperjuangkan cita-cita yang pula mampu menebarkan manfaat bagi orang lain. Lalu hadir respon skeptis yang seolah meremehkan, mengernyitkan pelipis perlahan seraya memandang sebelah mata. Dan ketika anggapan remeh orang lain menjadi kekuatan substansial untuk saya terus berjalan lebih cepat, meninggalkan bukti konkret bahwa tidak ada yang sia-sia bagi mereka yang terus berusaha dan berdoa, dan tahu harus berjalan kemana.

And when the trivial assumption of others becomes a substantial force for me to keep struggling harder, leaving a concrete proof that nothing is in vain for those who keep going, and never stop believing.

Lalu begini yang saya tahu; Harapan, mimpi, bukanlah hanya perihal jejak langkah yang dilewati, parameter visual pencapaian duniawi, namun titik-titik parsial untuk mampu disyukuri.


Kembali, siang yang kini berganti petang, masih dari balik jendela besar. Terang sore berpendar, menembus partisi jendela, menyoroti cangkir kopi yang bersisa perempat bagian—semakin masam. Kembali berkontemplasi, mengikuti gerakan impulsif manusia berlalu-lalang di ujung hiruk pikuk jalanan. Pensil raut tumpul, Notebook berlabel kantor, dan kopi sedari tadi siang, semoga mampu mengimpresikan tiap bagian dari tulisan ini.





Jumpa lagi,

02/07.

Minggu, 23 April 2017

Solo, bakpacker.


Tiga kurang sepuluh sore, di pelataran warung kopi jantung ibukota.
Arabika Wamena bersanding Barry Gibb bersaudara.


Perihal ingin menuangkan sedikit tulisan tentang aktivitas yang kerap saya lakukan: Solo backpacker.
Traveling ala backpacker, sendirian, dan perempuan. Membuat saya sudah cukup kenyang ditimpa pertanyaan lalu lalang yang sekelibat terlontar, “mba sendirian?”. Selintas terdengar basa-basi, namun diulang berkali-kali. Saya membalas senyum, menjawab dengan template ringan, lalu melengos pergi.

Suatu ketertarikan yang elementer untuk melancong ala backpacker; melakukan perjalanan dengan budget minim, namun terasa lebih berkesan. Jeans santai, jaket, carrier merah 35 L yang hanya terisi seperlunya. Mencari akses transportasi hingga penginapan dengan pertimbangan efektifitas biaya dan jangkauan perjalanan. Menyiapkan rencana perjalanan berikut alternatifnya dengan fleksibilitas diri dan pola pikir ketika situasi tidak sejalan. Mengatur pola makan dengan konsumsi secukupnya—yang penting perut ‘nggak keroncongan’. Keuntungan bagi saya sebagai seorang yang bisa tidur dengan cepat dan nyenyak dimanapun berada, menjadikan alur backpacker saya tidak mesti dipusingkan saat mencari tempat bermalam, asal aman dan bersama sesama traveler perempuan. Dan yang paling penting, adalah untuk tidak melewatkan ibadah dan selalu berdoa. Hingga sampai pada sisanya, keberanian diri yang mengokohkan langkah untuk meninggalkan sejenak zona aman saya.

Berangkat dari niat dan tujuan melakukan solo backpacker, ialah bukan sekadar pencapaian atas berbagai tujuan destinasi, dokumentasi, atau kesesuaian itinerary. Semua orang bisa saja mencapai destinasi terjauh—hingga memutar dunia sekalipun. Adapun dokumentasi yang dirasa cukup sulit untuk mengabadikan foto diri di tengah pemandangan alam terbentang selain tanpa bantuan tongsis; atau mesti meminta bantuan wisatawan lain—saling barter. Juga pencapaian yang bukan sebatas kesesuaian itinerary, sebuah rencana perjalanan manusia, yang selalu bisa berubah menyesuaikan bermacam situasi yang kelak akan dihadapkan.

Solo backpacker untuk saya, memaknai perjalanan sebagai pengenalan terhadap seluruh diversitas elemen yang meliputinya; orang baru, tutur laku dan dialek baru, budaya baru, hingga pandangan baru. Berjalan sendiri, melepas seluruh atribut diri dan melebur ke dalam masyarakat setempat. Menelusuri jalan besar hingga jalan setapak, mencari objek jalanan yang memungkinkan saya bertemu orang banyak. Begitupun dengan akses transportasi yang kerap saya gunakan, dimana transportasi umum agaknya mampu membukakan batas relasi antar manusia yang lebih luas. Seolah mentransformasi proses pencapaian destinasi tujuan sebagai alegori tegur sapa dan menebar kebermanfaatan.

Lalu ada yang lebih menarik daripada kecanggihan digitalisasi penunjuk arah smartphone, yaitu komunikasi natural dengan penduduk setempat perihal menunjukkan “jalan”. Seperti suatu siang di Kota Gede Yogyakarta, menumpangi becak seorang Bapak Tua. Komunikasi yang semakin hidup mampu mandatangkan berbagai kemudahan ketika saya berjalan sebagai pelancong tak berkendaraan pun tak menahu jalan. Beliau mengantar saya hingga mendapatkan kendaraan selanjutnya, Kopaja yang hanya sesekali melintas. Kepada sopir Kopaja, Bapak Tua menitipkan saya. Lalu saya mencium tangan beliau, berterimakasih dan berpamitan. Seolah menjadi klise menarik yang selanjutnya, bahwa perjalanan sendirian mampu termanifestasi menjadi perjalanan beramai-ramai; hubungan habluminannas yang substansial.

Memaknai suatu perjalanan sebagai sebuah pengenalan pada hidup, bahwa hidup akan selalu berjalan. Bahwa hidup adalah pertemuan dengan hal-hal baru, yang pula selalu diikuti perpisahan. Adalah kesenangan dalam diri ketika dialektika tegur sapa mampu menjadi reminisensi yang terekam apik bagi sebagian orang. Melawan garis batas zona kenyamanan diri untuk mengasah daya resiliensi—kapabilitas diri, untuk mampu berjuang sendiri di tengah keramaian, yang sejatinya menemukan pribadi diri lebih jauh dari yang sebatas tercerminkan.

...dan untuk selalu bersyukur dan rendah hati; karna perjalanan mengajarkan masalah-masalah yang dianggap begitu berat dalam diri, hanyalah sebesar titik di antara kutub pepat bumi.


So, how could you not go traveling?




Tertanda,
Astrid A. Dirgawijaya



Rabu, 15 Maret 2017

Djakarta


Mengulas beberapa pekan lalu, ketika sumbu api ibukota dinyalakan para demonstran. Sekerumun manusia berbalut sorban putih sembari membentangkan spanduk, memboikot sepanjang protokol. Serentak menggerungkan mesin suara, melafalkan ayat suci yang terbalut aksen diplomasi. Lalu pertanyaan yang kerap muncul, apakah sekerumun di belakang—yang terpisah jauh dari spanduk dan diplomator pemimpin pasukan—boleh jadi tidak mengerti akan lafadz ayat yang sedari tadi diserukan? Dan lihat kaum muda millennial yang sibuk mendokumentasikan dirinya, bangga atas balutan kain berwarna suci diantara ratus ribu pembela agama, demi kepentingan citra media. Barangkali mereka kaum provokator yang pasalnya berkonsep sekularisme—mempromosikan tatanan sosial yang memisahkan agama dan sistem pemerintahan. Hanya supaya terkesan nasionalis, untuk ibukota yang anarkis.

Sedang di pinggiran pusat ibukota, kaum marjinal sibuk menyaksikan advokasi plural para aparatur negara dari layar Televisi cembung 19 inch yang terpasang di pojok atas warung nasi. Perihal visi misi normatif pasangan calon untuk Jakarta, yang kadang terdengar tidak tepat sasaran. Komentar saut menyaut antar pelanggan terluap bersama nasi yang belum tuntas tertelan. Adalah kontributor suara terbesar untuk putaran kedua nanti, kaum marjinal yang tak terurus, hanya berangan satu perubahan basic yang mayoritas sama: Egalitarianisme. Paham bahwa perlakuan sederajat terhadap setiap orang adalah keutamaan, bukan terus menjadi seonggok marjinal di negeri panjat pinang—yang dibawah tetap diinjak-injak oleh yang di atas.

Kota Jakarta yang historis, indah dan sejahtera. Hanya saja terkesan kasar dan individualis. Barangkali orang lupa bahwa menebar senyum dan saling sapa, adalah bagian dari kemewahan bersosialisasi. Kerumitan yang terjadi ketika timpang sosial dijadikan pagar pemisah yang rigid, sedang kesejahteraan sosial bermula dari nurani keseteraan dalam tiap individu itu sendiri. Lalu kerumitan menjadi-jadi ketika distorsi nilai dalam arus globalisasi menghimpit setiap ruang gerak, menyusupkan ekses dan dampak budaya digital: meminimalkan komunikasi.

Lalu, apakah aksi para demonstran, visi misi pasangan, dan kaum marjinal, adalah hal-hal yang saling tidak berhubungan?






15/03

Selasa, 07 Februari 2017

Manusia, Harapan, Problematika,


Brazil Arabica, sore itu.

Ibarat menyeduh kopi, masing-masing kita terbentuk dari mode penemuan karakternya masing-masing. Diversitas pola pikir, cita-cita, pencapaian, hingga tendensi atas afeksi pun antipati terhadap komplemen yang meliputinya. Mencoba menyelami elemen dasar berupa karakterstik orang-orang sekitar; meliputi konstituen pikiran, atas harapan hingga problematika kehidupan.

Untuk saya, keuntungan menjadi seorang dengan kepribadian Ambievert ialah kemampuan intuisi yang secara naluriah menjadikan saya cukup adaptif dimanapun berada. Suatu etiket yang kerap kali saya terapkan ketika sedang jalan santai sendiri, atau momen menunggu waktu Magrib sebelum menempuh perjalanan pulang, seperti duduk nimbrung di halte Pegangsaan menghendaki basa-basi ringan. Sekumpulan anak berseragam sekolah dasar, sopir bajaj, pekerja berlalu lalang, atau pengguna jalan layaknya saya. Kemudian lahir buah obrolan tanpa aksentuasi, ambien lugu, seperti menuntun diri untuk menginferensi problematika ketika itu.


Jakarta, siang hari.

Menempati diri di suatu gourmet eatery & pastry shop mall bilangan Jakarta Pusat, bergaya minimalis dengan tone off white, mampu mengedarkan pandangan saya hingga ke pojok ruangan. Suasana lunch santai sekelompok sosialita diselingi obrolan berbuah tawa, seakan membuat makanan yang disantapnya tak kunjung habis, atau mungkin memang tak untuk habis? Saya kembali menebar pandangan. Seorang Bapak muda borjuis bergaya parlente duduk di pojok ruangan, sibuk berkutat dengan lawan bicaranya lewat ponsel. Keningnya mengkerut, berbicara cepat dengan bahasa bilingual. Pikirku, mungkin beliau seorang marketing yang morat-marit akan target achievement? Atau perusahaannya diserang kompetitor komunis? Atau, perihal curhat pada kerabatnya karna kurang kaya? Ya apapun itu, saya tidak mencoba tahu.

Menjelang sore saya beranjak pergi. Berbeda arah tujuan dengan teman, saya memilih untuk naik kendaraan umum—takut merepotkan. Taksi biru yang menjadi cukup jarang saya tumpangi, teralihkan oleh ekonomistis transportasi online. Sapaan hangat seketika saya membuka pintu belakang, saya membalas sapa tak kalah hangat. Bapaknya ramah, tuturnya halus, agaknya terbalut dialek ngapak.

Interaksi lumrah yang dibungkus menjadi suatu perbincangan penuh konten—mengangkat topik situasi saat itu. Beliau menarik rem tangan, memposisikan kedua tangannya memeluk jok mobil bagian kepala, seolah rebahan. "Macet ya, Pak". Bapak sopir merespon dengan helaan napas, yang kemudian diekspansi membahas program pemerintah terkait penanganan macet ibukota. "Yang konglomerat bisa saja beli mobil baru, biar pelatnya fleksibel. Jangan salah lho mbak, banyak juga kasus manipulasi nomor—agar bisa lewat jalur protokol. Dadi ya kayak saiki, macet ra' rampung-rampung". Sedikit banyak mengerti tentang algoritma sistem tersebut, saya hanya membalas tertawa. Helaan napas Bapak sopir yang berikutnya membuat saya turut mengekspansi bahasan terkait moratorium kendaraan yang kelak digalakkan, lalu berujung pada evaluasi para pasangan calon 'The Governor'. Beliau terus menuturkan pandangannya, dari aspek A ke aspek F, ke S hingga ke Z. Jangan-jangan beliau mantan kritikus (?!) Saya tertegun, mengangguk, mengiyakan di setiap titik kalimatnya. Lalu lintas yang sudah mulai lengang mengalihkan perbincangan ke topik yang lebih ringan. Beliau bertanya seputar pekerjaan, kemudian lanjut menceritakan kisahnya semasa mencari kerja dulu, bermula dengan klise normatif: benar-benar dari nol. Tipikal orang yang begitu komunikatif, beliau mampu mengisahkan asam garam manis pahit perjuangan hidupnya secara sistemik. Pikiran saya serontak melengang, selengang jalan Surabaya sore itu. Jangankan di hadapan gunung, goa, samudera; di hadapan seorang Bapak sopir taksi pun kepelikan saya akan dunia fana bukanlah apa-apa. Kalau menurut saya, selalu ada yang menarik dari sekedar diam, tersenyum mendengarkan kisah siapapun yang ingin membagi; karna bukankah inspirasi, motivasi, bisa datang dari siapapun, dan darimanapun?

Saya mengakhiri perjalanan di bilangan Cikini Raya. Kepada Bapak sopir taksi saya berterimakasih, begitupun beliau. Menghabisi petang, saya menempatkan diri di suatu cafe dengan jendela besar bergaya klasik di muka bangunan. Saya selalu menyukai spot seating yang berhadapan langsung dengan jendela besar—menghadap jalanan. Lalu lalang, pedestrian, dan lalu lintas, ada pula pengamen, 'pasukan kuning', dan kuli bangunan. Seolah selalu berpapasan tanpa mesti tegur sapa. Ada yang berbeda dari hiruk pikuk sepanjang jalan Cikini. Jalanan yang dipenuhi bangunan klasik bercampur modern, membujur strategis dari Patung Pak Tani hingga Megaria. Hiruk pikuk pusat ibukota, seolah dipertontonkan dari jendela besar tempat saya berada. Tidak ada intensi khusus di sore itu, selain bertemu tiga kerabat semasa SMA, perihal saling bercurah hati, pikiran, dan bertukar cerita. 

Lalu begini yang saya tangkap. Masing-masing kita adalah individu dengan problematika diri masing-masing: Sosialita borjuis di restaurant siang tadi, kisah hidup sopir taksi, peluh elemen jalanan di balik teater jendela besar, ketiga orang kerabat, bahkan diri saya sendiri. Satu sama lain saling berkeluh, lalu berat atau ringan masing-masing masalah menjadi terdengar relatif. Sampai akhirnya kita tersadar, konklusi masalah ialah lahir dari diri sendiri—orang lain hanya menspekulasikan asumsi. Seni daripada mengolah pikiran; intuisi untuk mengesampingkan masalah diri untuk memberikan ruang bagi keluh kesah lawan bicara yang membutuhkan. Intuisi untuk tahu kapan harus bicara dan mendengarkan, untuk selalu menguatkan ketika diri sendiri hilang kekuatan…

Metromini trayek 017, mengantar saya menuju Halte Pegangsaan, menunggu adzan Magrib sebelum menempuh perjalanan pulang.


Problematika yang seperti disuntik paksa mengalir ke seluruh arteri, sedang di hadapan saya berjajar anak-anak berseragam sekolah dasar kompak membawa payung, supaya jika mendadak hujan sudah siaga menjadi ojek payung. Sedang di hadapan saya berjajar sopir bajaj yang tertidur di bajajnya, tak kunjung dapat penumpang. Sedang di hadapan saya berjajar pula para pekerja mengadu nasib, demi menopang seribu harapan. 

Hidup sekedar hidup. Berjalan memutar dunia lalu kembali ke titik sebermula. Lalu sebetulnya apa yang dicari? Paradigma sebagian besar orang bahwa hidup adalah suatu pencapaian kontinuitas; berlanjut ke pencapaian berikutnya, yang terkadang lupa batas. Batas pencapaian, yang kerap pula terlihat sebagai restriksi atas rasa syukur. 

Memaknai pencapaian sebagai suatu proses equilibrium vertikal dan horizontal. Dimana kegagalan adalah bentuk pengalihan tujuan duniawi terhadap apa yang Ia takdirkan. Terhadap apa yang lebih baik dan memang digariskan menjadi yang terbaik, selama terus berikhtiar. Hanya saja yang manusia tahu, takdir terbaik itu tidak diberikan semesta secara cuma-cuma, namun berbayar dengan kesabaran, usaha, dan terus berdoa. 


Brazil Arabica sore itu, arang yang tidak pernah patah, semangat yang tidak akan mati, semoga mampu mengimpresikan bagian per bagian dari tulisan ini. 




Salam,
Astari Dirgawijaya. 



Rabu, 14 Desember 2016

#catcalling

Yha nulis terus yha. Ketauan banget pengangguranya. Gapapa.


Sedikit ingin menyumbang opini dari apa yang sedang kerap dipermasalahkan khalayak kaum wanita. Based on my point of view—my way of living in any circumstances.

Mungkin mas dan mba sudah sering baca berita, dengar kabar, pun mendapati postingan terkait "Catcalling".

Catcalling, atau yang dimaknai sebagai: Pelecehan terhadap perempuan; melakukan hal-hal bertendensi seksual. Sebagian besar perempuan, women in general, sejatinya bakal merasa risih/kurang nyaman saat berada di kondisi tersebut. Dipanggil-panggil—yang terasa seperti digoda/diganggu—baik hanya selewat atau bahkan sampai agresif. Lalu muncul buah omongan kalo kalo yang salah ada di pihak perempuannya; yea you know, karna cara berpakaian si perempuan yang dianggap 'mengundang'. Balutan rok pendek, atau baju ketat, nyablak, armless, backless, topless, apapun. Barangkali bibit perkaranya itu? Tidak juga. Jangankan rok pendek, perempuan berhijab pun kerap diperlakukan demikian. Jadi ya, mungkin bisa dikonklusikan bibit perkara tidak lahir dari kesalahan murni pihak perempuan, betul?

Kurang lebih itu. Lalu ini sudut pandang gue pribadi.
Gue sebagai cewek yang sering kemana-mana sendiri semacam sudah cukup khatam dengan ornamen-ornamen jalanan seperti demikian:

Kiw
Neng
Neng kamana
Neng ojek? Gojek deh??
Mbak baju biru
Mbak baju putih
Aqua kak? Gorengan?? *ngejar*
Prikitiw
Bunda?
((KENAPA JADI BUNDA))
Si teteh pulang?
Teh barangkat yah?
Teh naha sorangan (teh kenapa sendirian)
Teteh Assalamualaikum.
........
Yha mas, walaikumsalam.

Dan celetukan-celetukan lain sekena nya. Entah kenapa gue sama sekali nggak merasa terdistraksi dengan hal itu. As long as bukan di tempat yang creepy, nggak ada tindak laku kejahatan, kontak fisik, atau ucapan kurang senonoh, I don’t feel abused, at all. Gue menganggap itu semua adalah bentuk atensi tiap orang—apapun bentuknya. Begini lho mbak, catcalling itu pada dasarnya karna si oknum “kepingin aja”, toh mereka memang bukan intended to insist any good responses. Tinggal jalan melengos, lupakan, selesai. Kecuali kalo memang merasa dikurang ajari, ya terserah mbak nya mau gimana.

Most of times, ketika celetukan si amang-amang tersebut terdengar seperti sapaan lumrah, justru gue balik sapa, atau gue senyumin. Gue adalah orang yang sangat merasakan benefit daripada kenal dengan banyak amang-amang. Untuk gue yang sering berkelana sendiri, yang padahal kurang tau medan, yang pula suka nggak tau mau kemana, seketika diberi pencerahan arah dan dimudahkan sampai ke tujuan; berkat pertolongan amang-amang tersebut. Misalnya pernah begini, Bapak supir angkot yang awalnya godain, malah gue samperin karna kebetulan gue nggak tau harus naik jurusan mana (waktu itu belum ada gojek dll). Awalnya gue nanya buat ke tempat tujuan gue saat itu harus naik angkot trayek apa, ternyata bisa naik angkot si Bapak supir penggoda ((penggoda)), Bapak supir tadi. Dan dalam perjalanan, gue justru diarahkan dengan detail, bahkan, ditungguin sampe dapet angkot selanjutnya, bahkan…. tadinya disuruh nggak usah bayar. Atau yang paling sering, ketika gue nggak bisa parkirin mobil/motor, “Mba tunggu luar aja”, pun sebaliknya ketika gue nggak bisa ngeluarin mobil/motor, “Mba sini kuncinya”. Berasa valet parking sob. Padahal di parkiran stasiun.

Ketika banyak perempuan yang mengeluhkan catcalling tersebut, lalu solusi yang muncul terdengar terlalu instan. Ditegur, lalu sudah? Ditimpuk payung, lalu menyelesaikan masalah? Diluar kondisi bahwasanya benar pelaku catcalling yang salah, gue pribadi bukan orang yang bisa intervensi terhadap hidup orang lain—who is unrelated so close to me. Bukan kapasitas gue untuk merubah orang; membuat orang jadi seperti yang hanya kita harapkan. Kapasitas gue sebagai makhluk sosial adalah mengevaluasi diri dan berubah menjadi lebih baik, lebih diharapkan orang lain. Toh seindah-indahnya menjadi sosok manusia, adalah sosok yang bermanfaat bagi manusia lain. Pun doanya akan lebih mengalir.

Jadi intinya begini mbak, kita sebagai perempuan, pada dasarnya memang ingin dihargai oleh siapapun, dan menolak dilecehkan, dengan bagaimanapun. Tapi bukankah perempuan bisa melindungi dirinya sendiri, dengan menempatkan dirinya secara bijaksana? Kita nggak mesti mendemokan emansipasi secara fisik, atau perang komunikasi verbal, pun non verbal. Implementasi dari emansipasi sederhana, ada kalanya perempuan dituntut untuk keluar dari comfort zone perihal semakin mengasah daya resiliensi dan adversitas. Nggak ada salahnya untuk mengevaluasi diri terlebih dulu sebelum menyalahkan keadaan. Experience is not always the best teacher of life, but evaluated experience is. Nggak selalu perempuan adalah kaum yang selalu dilindungi pria hanya karna garis batas notabene “lebih lemah”. Perempuan kuat, adalah perempuan yang mampu meninggikan martabatnya dari positifitas cara pandang, hati, pikiran, perbuatan, atas dasar keteguhan ilmu agama dan pendidikan. Insha Allah, hidup mbak nya akan dimudahkan.


Mungkin kiranya cukup sekian. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau ucapan. Semoga emanispasi wanita lebih mampu disuarakan, daripada dikeluhkan segamblang itu.


Salam sejahtera untuk kita semua.
Astrid Astari