Senin, 19 Februari 2018

Solo-Travel



We basically love anything and anyone that’s going to inspire people to get out there, see the world and start travelling. Yes, I love them and that’s why I travel, even all alone. First of all, what you have to know about so called solo travel is that you’re hardly ever alone. And one of the great things about travelling alone is that fact you don’t have to deal with many types of rempongness (lol). Randomly find the cheap ticket that meets my free time, or find the best price for the appropriate backpacker lodging, I can book it without have to compromise. That’s been one of the greatest aspects for me knowing how much my travel plans change but it’s been great to be able to take opportunities and to not worry about anyone else.

Yet the fact I have to deal with is no one is there taking care of me and my heavy-load backpack, or leading me the roadway, or the most critical is taking the pictures of myself (wkwk), so I’ve got myself here and that gives me such a great sense of achievement. The sense of allocating my salary and time, then I planned the trip, I reached the mountain, climbed down to see sunset on the beach, I ate local food till I came across the odd dish, and I met many different people—since the incredibly important part of the whole travelling thing for me is the people I meet.  Uuugh what more could you ask for?! And yes, it’s important to throw yourself into the deep end sometimes—sink or swim as they say! Haha

Well then, berikut inti ceritanya. (Almost) whenever I meet my long-lost-friends or netizen-friends, munculah sebuah template: Trid lo kok jalan-jalan terus! Woy. Nggak juga. Kebetulan aja instastory saya isinya mostly seputar jalan-jalan. Selebihnya mengabdi di kantor a.k.a cari modal jalan-jalan. “Long weekend ke gunung lagi, mbak Astrid?” YHA, sampai dengan imej saya sudah cukup rimba. Nggakpapa. Gue emang nggak pernah merencanakan jalan-jalan dari jauh-jauh hari (kalo sendirian). Biasanya kalo tiba-tiba bosen (kebetulan anaknya bosenan), atau kalo tiba-tiba lagi pingin berkelana (kebetulan anaknya kalo udah pingin harus keturutan sampe nyebelin) langsung cari-cari destinasi yg rasional, dan finally: “Ticket booked for next weekend, one passenger: Astrid Astari”

Lanjut. Jadi dampaknya, setiap lagi traveling and post something di instastory, dm seputar gimana-cara-backpacker-sendirian cukup menghambur di messages instagram. This post intended to share tips and trick solo backpacker. Agak sampah but, its ok lah. Here we go.
1.  
1. Niat & Berani
Paling awal dari segalanya: Nawaitu, dan berani dulu. Karna bahwasanya, niat tanpa keberanian adalah watjana. “Kok berani banget cewek sendirian?!!” Yes, I’m the type of person whose thoughts always lead to positifitas tanpa batas. Keep positive, jadi orang baik, berpenampilan yang pantas, ramah sama semua orang, insha Allah aman sejahtera. Tapi harus liat kondisi juga. Untuk beberapa lokasi/destinasi yang memang tidak disarankan jalan sendiri, gue biasanya cari barengan. Sesama solo-backpacker in most cases semacam will find the way, dan akan saling bantu-membantu. For sure, having new traveling friends always felt so fun! “Emang nggak pernah digangguin orang??!!” Sering. Catcall? Till I no longer care, ma fren. Selama memang nggak berlebihan, gue nggak pernah terdistraksi dan justru menanggapi sebagai elemen perjalanan aja, toh kadar distraksi seseorang nggak pernah sama.

2. Restu orang tua & Doa Ibu
Yg ini no excuse ya. Nggak lucu aja kan kalo lo tiba-tiba masuk koran jadi buronan anak ilang. Awalnya emang susah juga dapet izin, tapi kesini-kesini, semakin orang tua mengerti tujuan jalan-jalan berfaedah dan beriman, alhamdulillah diizinin walopun mesti mempersiapkan skenario yang dramatis dan pragmatis.

3. Itinerary
Firstly, tentukan dulu mbak/mas nya mau kemana. Jogja/Bali/Sumba/Bajo/India/MacchuPicchu (me, someday)/or wheresoever. Lanjut, tinggal di list destinasi-destinasi yang sekiranya ingin dikunjungi, bisa cari inspirasi dari travel blogger, atau traveling account di instagram. Yeap, you are where you travel. Disini niat dan tujuan masing-masing pelancong akan beda. Ada yang memang bertendensi untuk chill di pantai, summit attack, coffee-hopping, view advanture, atau foto-foto instagrammable supaya feed nya teratur. Ya nggak salah juga. Apapun itu, lebih baik di list dari awal, supaya pas udah sampai di tempat tujuan nggak luntang lantung dan meningkatkan efisiensi efektifitas perjalanan yang terintegritas. Gitu deh.
Next, alur lokasi yang akan dikunjungi juga mbok ya diatur-atur. Lebih enak kalo diurutkan berdasarkan jalur & akses yang searah biar hidup sendirian lebih terarah. Beda kasus dengan expertise backpacker yang memang pengen berjalan mengikuti angin, tanpa itin mungkin akan lebih “menemukan jati diri”.

4. Penginapan & Makan
Untuk saya pribadi, masalah penginapan nggak perlu yang bagus-bagus. Emang kayaknya nggak pernah bagus juga sih. Instead of hotel, gue selalu memilih penginapan hostel, which is paling banyak menampung para backpacker. Kenapa, 1) Hemat, 2) Di penginapan biasanya gue cuma numpang tidur, selebihnya seharian full exploring di luar, 4) Berpotensi lebih banyak mendapat informasi seputar rekomendasi akses dan destinasi dari backpacker lain, 3) Lebih sensasional. (Yes still, staying in hostels can create some of the best travel memories you’re ever going to have). Atau kalo lagi di daerah yang berpenduduk baik dan hangat, biasanya gue ditawarin untuk nginep di rumahnya. Mungkin lebih tepatnya penduduk yang iba melihat saya gembelan sendirian, I guess.
“Nemu penginapan kayak gitu dimana???” Mostly dari Traveloka, atau googling. Sometimes I lean on the rating of places, then read the reviews. Semacam terkesan menjamin mungkin ya. Selama ada ibu kos, kamar mandi bersih, oke lah. Kipas angin? No probs. Kebetulan gue anaknya se-gampang-itu tidur dan shubuh-person dimanapun. Nempel bantal 5 detik, langsung literally mati suri gitu lah sampe adzan Shubuh.
Lanjut, perihal makanan. I never spend a lot of budget for this. Yang penting halal, (terlihat) bersih, sehat dan bikin kenyang. Asal ada sayuran hidup ini aman. Kuliner di pinggir jalan bareng orang-orang jalanan menjadi salah satu scene favorit gue di setiap perjalanan. Ngobrol sama orang lokal tentang kehidupan budaya masing-masing, adat istiadat, hingga issue lokal setempat, yang biasanya termanifestasi menjadi bercerita. Dan dengan senang hati saya mendengarkan.

5. Akses transportasi
Untuk ini memang mesti disesuaikan dengan visibilitas akses transportasi masing-masing daerah, karna jelas akan berbeda. Generally, paling aman dan hemat memang rent motor sendiri. Dari sisi budget dan waktu akan lebih efektif. Tapi buat gue pribadi, kalau memang visible, kadang-kadang sengaja mencari transportasi umum, atau ngeteng truk sayur, biar lebih melebur dengan orang-orang yang menyertai perjalanan. Lalu muncul buah-buah obrolan, yang akhirnya ditunjukkan jalan oleh bapak Supir atau bahkan penumpang lain. Google maps? Kalah canggih. Yea I’m lovin this kind of life!!

6. Hati-hati & Jangan lupa Sholat
The last but not least, segala sesuatunya akan kembali pada kehati-hatian diri sendiri ya, wahai saudara-saudari sebangsa setanah air. Tau diri kalo lagi traveling sendirian, menjaga barang bawaan harus diperketat, penggunaan kamera dan gadget di tempat-tempat yang memang aman. Di akhir, jangan lupa sholat (bagi muslim/muslimah), supaya setiap langkah dilindungi Allah SWT dan selalu berkah. Karna sesungguhnya mencari-cari kiblat di atas gunung kemudian bertayamum  adalah keindahan yang haqiqi.

Yha akhir kata, demikian wejangan dari saya, selebihnya adalah improvement dan comfortzone style dari masing-masing traveler. Semoga bermanfaat.



Wassalamualaikum wr. Wb.







Minggu, 28 Januari 2018

2018

Dari balik klise tempo hari,
Primodialisme yang masih utuh, hanya bergeser value
Bertransformasi menjadi resolusi masa mendatang
Dalam barang sepenggal rekonsiliasi: 
Untuk tahu bahwa satu-persatu esensi hal berubah seiring waktu
Atau bergerak menyesuaikan—menempati volume ruang
Idealisme, ambisi duniawi
Beralih pada proporsi yang lebih relevan
Men-adjust kapasitas iman dan ilmu yang lebih tajam
Sebagai maturitas pola pikir,
Juga perasaan. 

Januari, 2018

Rabu, 27 Desember 2017

Singkat di Jambi


Assalamualaikum wr wb,
Sedikit bercerita perjalanan tempo hari, Jambi 2017

Selasa, 19 Desember 2017
Tidak seperti pulang dari site visit biasanya, kali ini memang sengaja mengambil flight lebih malam. Tadinya mau besoknya sekalian, tapi takut dipecat lantaran seenak jidat.

Oke lanjut.

Dari site di Jambi menuju bandara Sultan Thaha Jambi kurang lebih ditempuh selama 3,5 jam perjalanan. Berangkat menuju bandara selalu dijadwalkan pagi-pagi pukul 5.30, hingga estimasi tiba di bandara pukul 9.00 WIB. Kebetulan lagi se-rindu itu dengan jalan-jalan nggak jelas seperti yang kerap saya lakukan sendirian. Yea, memang nggak jelas. Tapi insha Allah diniatkan untuk menyumbangsikan elemen-elemen kebermanfaatan bagi orang sekitar. Terlampu banyak mengalokasikan waktu sebagai pekerja urban, yang kadang terasa seperti kehilangan jati diri—apa yang sebetulnya benar dicari.

Tiba di Jambi airport pukul 9:15 WIB, saya langsung menuju loket check in untuk menitipkan koper. Lalu baru tau ternyata di security gate bisa nitip dengan mudahnya (even I don’t have to say my name) (atau karna mas-masnya begitu pengertian). Yha memang berbeda dari jalan-jalan biasanya, men-replace carrier 35L merah dengan tas laptop kantor lengkap dengan mouse dan charger.

Candi Muaro Jambi menjadi first listed destinasi jalan-jalan kali ini. Berlokasi di Kabupaten Muaro Jambi, berjarak kurang lebih 24 kilo dari Bandara. Tanpa menunggu waktu saya langsung memesan ojek online, yang ternyata tidak diperbolehkan menjemput penumpang di area Bandara. Bagi-bagi porsi katanya. Setelah meratapi supir ojek online dan ojek pangkalan adu mulut dalam dialek Jambi ngapak, akhirnya saya di hand over ke ojek pangkalan.

“Tapi tarifnya samain sama aplikasi ya mas.”
“Tambahin dikit deh, mbak”
“Yha berangkat dah”

Perjalanan dari Bandara menuju Candi Muaro Jambi kurang lebih 1 jam. Cak mano jauh kali! Sepanjang jalan hampir saya habiskan bercakap dengan Bapak Ojek. Pak Sikil namanya. Sikil = kaki?! Beliau seketika berubah menjadi penduduk Jambi yang begitu ramah, jauh berbeda dengan tutur lakunya saat adu mulut tadi. Saya menanyakan satu demi satu objek yang saya lewati. Maklum, baru kali ini jalan-jalan sendirian di tanah Sumatera. Pak Si’il menjawab dengan antusias, lalu inisiatif mengekspansi jawaban—semakin rinci, seperti bercerita sendiri. Dari mulai keluarga, pengalaman kerja, hingga tabiat masyarakat Jambi yang bertata-laku paling ramah se-pulau Sumatera katanya. “Iya Pak, tadinya saya kira Bapak galak. Ternyata lama-lama ramah juga”. Beliau terus menimpali dengan dialeknya yang tak bisa tak kental. Pak Si’il, badannya gelap dan tegap, persis seperti alumni militer (Atau barangkali alumni preman Sumatera), berhasil mengantarkan saya mencapai destinasi tujuan dengan penuh isi di dalamnya. Beliau menawarkan untuk menunggui saya sampai kembali ke kota lagi, dua tiga jam tak masalah katanya. 

Pukul 10:30 saya tiba di Candi Muaro Jambi. Pemandangan  candi siang itu berhasil memberikan impresi mengesankan untuk saya. Bongkahan batu bata menggunung membentuk dinding kokoh, terpetak di tengah bentang rumput hijau tanpa gradasi. Satu dua pohon menutupi gersang, memberikan nuansa adem yang enak dipandang. Berjalan mendekati pelataran candi, seketika teralihkan oleh pemandangan pasukan pramuka sekolah dasar sedang upacara. Dipimpin Pembina upcara, mereka memuncakkan sang saka Merah Putih, beriring lagu Indonesia Raya. Saya duduk di pinggir lapangan, menikmati instrumentasi di hadapan saya. Bukti Pancasilais yang bukan teori politikus, seperti langsung mandarah daging. Lantunan suara sang pasukan melengking di udara, memantulkan gaung di dinding-dinding batu tua.


Pelataran, 10:30 WIB

Sudah lama, tidak main ke Candi

Candi Muaro Jambi

Pramuka dan Merah Putih


  
Saya kian mendekat ke bangunan Candi, mencari angle yang pas untuk diabadikan. Lantunan padusa Indonesia Raya silir semilir menipis. Langkah saya melanjut ke Candi di atas pelataran sebelahnya. Ya jadi memang seperti komplek Candi disini, jaraknya tidak saling berjauhan. Pasti menarik sekali pikirku, memetakkan kisah historis di balik dinding-dinding bata ini. Sekeliling pelataran candi dipenuhi dengan Sewa Sepeda. 10.000 rupiah, sampai puas, asal dikembalikan. Hahaha penawaran macam apa.

Saya merental satu sepeda di salah satu rental pojok jalan. Benar saja, sepuluh ribu rupiah sampai puas. Konsep bisnis berbasis ikhlas. Saya mulai menyusuri jalanan kecil untuk jalur pejalan kaki bergabung dengan jalur sepeda. Beberapa kali bertanya pada penduduk setempat perihal jalur untuk sampai ke desa perumahan warga Muaro Jambi. Sampai akhirnya ditunjukkan jalan oleh seorang Bapak warga setempat yang juga sedang bersepeda, lalu kami berjalan beriringan. Perkenalkan, Pak Barma’in. Perawakannya kecil, terbalut sweater kuning lusuh, mengayuh sepeda hijau kecil yang pun sudah kumuh. Jerujinya kadang terlepas dari rel, mengharuskan beliau turun sejenak mengembalikan jeruji ke tempatnya. Saya ikut berhenti, menunggu prosesi yang cukup berulang-ulang itu ditangani.

“Sudah rusak, Pak?”
“Nggak mbak, Cuma kadang mesti dibeginikan.”

Dibeginikan, yang maknanya adalah dibenarkan, implikasi dari sudah rusak, tak lagi layak. Saya menarik nafas, memaknai hari itu sebagai momen bersyukur terhadap sekecil apapun hal telah dikehendaki untuk masing-masing manusia. Bukankah semua yang ada di dunia—jodoh, rezeki, mati—adalah kepastian dan sudah ditentukan? 

Pak Barma’in mengajak saya menyusuri jalanan kecil tepat samping sungai Batanghari. Saya tercengang, baru sadar ternyata daritadi saya berada di ujung sungai. Kayuhan sepeda terhenti di pos ujung Batanghari, mengabadikan momen mahal Bersama Pak Barma’in. Beliau memulai percakapan, pertanyaan-pertanyaan basic warga desa pada seorang pendatang yang terlihat “dari kota”, seputar orang mana dan datang darimana. “Pulang kerja Pak, pingin jalan-jalan disini, alhamdulillah ketemu Bapak.” Memang tidak bisa bohong, saat itu seperti kembali mendapat kesenangan yang benar-benar saya rindukan—berjalan dan bertemu banyak orang. Beberapa warga desa lainnya yang menyaksikan keberadaan kami berdua seraya saling menyapa; saya membalas dan menjabat tangan masing-masing dari mereka. Tak terlewatkan anak-anak penduduk setempat yang saling berpandangan, meminta disapa duluan. Saya menyalami seluruhnya, berkenalan. Ozzy, Desy, Linda, Mozza. Bagus-bagus ya namanya, nama saya kalah trendi. Lalu momen yang tak pernah terkecuali, foto bersama si anak-anak tadi. Dijepret oleh Pak Barma’in, ekspresi senyum sipu-sipu mengembang di layar kamera saya. Kepada anak-anak dan beberapa warga saya undur diri, melanjutkan konvoi Bersama Pak Barma’in. It was really nice to meet you..


Sepeda Hijau Pak Barma'in

Kawan bersepeda siang itu


"Poto dong mba. Biar masuk pesbuk."



Astrid & PakBarma'in

Kids, say cheese!

Sudah puas berkeliling desa dengan elemen interaksi di dalamnya, saya hendak mengembalikan sepeda dan berpamitan pada Pak Barma’in. Ucapan terimakasih yang dalam dari saya untuk seorang Bapak dengan perjuangan hidup untuk keluarganya yang luar biasa. Beliau berterimakasih kembali, meminta saya suatu hari main kesini kembali.

***

Saya kembali berjalan kaki, kali ini menyusuri warung-warung minum yang berjajar di pinggir pelataran candi. Pop Ice Cappucino, tanpa perlu perduli sudah berapa hari blender keruhnya tidak dicuci. Lima ribu rupiah, cukup mampu menyegarkan kembali kerongkongan saya di siang itu. Saya kembali ke Pos masuk Candi Muaro Jambi, tempat Bapak ojek saya menunggu saya berpuas-puas jalan. Pak Si’il melambaikan tangan ke arah saya, takut-takut tidak terlihat. Beliau duduk Bersama Pak satpam dan penjaga Candi yang menunggui pos, kepada keduanya saya menjabat tangan. Saya melebur dalam interaksi dengan kedua penjaga pos, hingga salah satu dari mereka memberikan kenang-kenangan untuk saya. Sebuah gelang dengan manik-manik kayu hitam, hanya ada di Jambi katanya. Bentuk apresiasi terhadap penerimaan hangat warga desa Muaro Jambi untuk saya, apresiasi terhadap kultur kental yang cukup primitive—namun tetap terbuka, apresiasi terhadap sequence hidup antar manusia, bahwa segala sesuatunya adalah berhubungan, dan selalu menjadi sebuah kebaikan yang saling berkaitan. Saya kembali diantar Pak Si’il pulang ke kota, meninggalkan senyap-senyap sirkumstansi desa.


Cuma ada di Jambi, katanya.

Siang itu hampir hujan, syukur sudah sampai duluan sebelum sempat kehujanan. Saya minta diantar ke Kedai Kopi Ahok, berlokasi di pengkokan Jalan Sudirman. Hasil rekomendasi teman kantor saya, kalau-kalau ingin cari kopi enak Jambi punya. Saya memesan secangkir Kopi Susu bersanding menu makan siang Gado-Gado. Seperti kopi Jambi cap AAA dicampur susu, tapi bukan. Ya apapun itu.


Kopi Susu Ahok

Tujuan destinasi di list saya sudah semua terpenuhi, hanya tinggal mencari pempek titipan Ibu. Ditemani oleh seorang kerabat kantor yang juga penduduk Jambi, saya diantar mencari pempek favorit sini, lalu berlanjut diperkenalkan dengan Jembatan Gentala Arasy. Konon katanya jembatan ini menghubungi penduduk asli Jambi dengan kota Jambi. Menarik sekali! Saya berjalan menyusuri ujung jembatan di atas sungai Batanghari, hingga turun di perkampungan seberang Kota. Menara kokoh terhubung dengan Masjid Agung Al Fallah: adalah menara masjid yang diperuntukkan untuk menggaungkan suara adzan.


Nyore

Sore itu cerah, silampukau menyoroti perahu-perahu getek yang berlabuh di pinggir daratan sungai. Hari itu, saya baru saja terdoktrin oleh kehangatan Kota Jambi untuk dikunjungi.

Menutup jalan-jalan singkat, saya kembali ke bandara. Jambi dan Desa Muaro Jambi; Tempat yang mampu menyumbangsikan kenangan kental untuk saya. Masyarakatnya hangat dan ramah. Retrospektif budaya yang tetap terbuka dengan arus globalisasi pun orang luar. Tidak terasa birokrasi materialis yang mewarnai interaksi. Hingga kearifan lokal dengan retorika yang berisi.


Since it always comes to be best feeling whenever I appreciate my life with engaging people, time, and places. To know where life should go, to find out when your restriction shouldn’t always be counted on.


Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.



Salam,
Astrid Astari

Senin, 20 November 2017

Selamat Berakhir Pekan

Akhir pekan di warung kopi ibukota,
Pukul lima sore, di ujung jalan
Di balik jendela,
Di antara pendar lampu jalanan,
Di antara sibuk yang tersempatkan.

Menunggu momen kembali memparagrafkan tulisan, bercerita barang sepenggal dua penggal buah pemikiran.

Huh sibuk ya, bekerja. Selayaknya seleksi alam, prioritas hidup perlahan-lahan mengerucut dengan sendirinya. Bermutasi ke fokus-fokus yang semestinya didahulukan. Ya boleh jadi, stereotype orang-orang kolot yang mengindahkan akhir pekan: Selonjoran di rumah saja sudah seperti liburan. Baiklah, in the meantime, I’m with it.

Kali ini ingin mengulas sedikit elemen tentang hubungan antar manusia—Habluminannas, lalu diekspansi ke hari-hari yang selalu baik dan bermanfaat. Berangkat dari hal-hal terdekat dengan keseharian saya, kiranya mampu menyumbangsikan persepsi yang esensial. Serta dari pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala: Kenapa ya, orang-orang kok seneng banget ngurusin hidup orang lain? Punya masalah pun belum tentu.

Menjadi orang yang senang membaca situasi dan memposisikan diri dengan bemacam karakter di sekitar saya, membuat saya sedikit banyak mampu dengan cepat membaca karakter lawan bicara. Tidak perlu banyak cakap, hingga masing-masing dari kita memulai bercerita sendiri, yang sejatinya akan membuka konversasi lebih terbuka.

Beberapa kali bertemu momen ngobrol dengan tokoh-tokoh jalanan: Kenek bus kopaja, Bapak pengatur parkir, Ibu penjual risoles-goceng-tiga, bocah Ojek payung, Kakek yang memunguti sampah jalanan—supaya bersih dan nyaman, dan yang cukup sering, Bapak pengemudi Becak, Bajaj, hingga transportasi online smartphone punya. Menjawab beberapa pertanyaan netizen perihal "untuk apa" dan "kok berani ya". Memang, tidak ada tendensi khusus selain by default senang menghadirkan percakapan secara lumrah, selayaknya dengan kerabat sendiri. Lho memang apa bedanya, berbincang dengan para tokoh jalanan dan kerabat sendiri?

Seni daripada memposisikan diri untuk melakukan pendekatan—yang tentunya—akan berbeda-beda. Namun tetap pada satu objektif, inklusi terhadap orang-orang di sekitar kita. Barangkali terdengar tidak terlampu perlu, tapi hariku lebih menyenangkan dengan itu. Seolah perasaan yang tak terbeli ketika mampu mengembangkan senyum naif di wajah-wajah itu, memasuki persepsi tiap lapisan masyarakat bukan lagi dengan asumsi  pun spekulasi, merangkul tiap elemen seakan mencari perlindungan ketika kita hanya berjalan sendiri. Menjadikan hal-hal yang melingkupi kita sebagai elemen dengan makna masing-masing; semisal sebagai pangkal kesenangan-kesenangan di luar pakem yang dirasa bosan. Sampai akhirnya kamu paham, keluar dari zona yang itu-itu saja adalah jauh lebih menyenangkan.

Kembali, bentuk implementasi dari hubungan antar sesama, seperti terlafadz syu'uuban waqabaa-ila lita'aarafuu inna akramakum 'inda allaahi atqaakum inna allaaha 'aliimun khabiirun (QS 49:13). Bukan perihal keberadaan seseorang atau kesetaraan status, karna yang saya tahu kita tak butuh merekognisi batasan itu.

Berbicara tentang rekognisi antar sesama, yang semakin kesini justru terasa semakin salah arah. Some of the times, humans are way too concerned with others, with people we don't even have the necessity to recognize. Talking about bad things of one's self to be exaggerated without any point. As I read: You who have believed, avoid much [negative] assumption. Indeed, some assumption is sin. And do not spy or backbite each other. And fear Allah; indeed, Allah is Accepting of repentance and Merciful. (QS 49:12).
And as I know, there are many worthwhile things to talk about, for the goodness of others to the surroundings, to reflect the positivity in every minute of the day we gratefully live in.

Sampai akhirnya, manusia akan tiba pada titik pembelajaran bahwa hidup hanya berputar pada mengerjakan banyak hal, terus berjalan, dan bertemu dengan berbagai lapisan orang. Untuk berdamai dengan toleransi, introspeksi diri, mendengarkan dan didengarkan, memaafkan dan dimaafkan, menguatkan dan dikuatkan...



Ba'da Magrib, di antara iqomat dan pendar lampu jalanan,
Semoga harimu selalu baik: Bermanfaat untuk Tuhanmu, sesamamu, dan dirimu sendiri.





19/11
Astrid Astari

Sabtu, 16 September 2017

Melawan Tua

“Wish you all the best”

Kiranya terdengar seperti template frase copy-paste di akhir ucapan ulang tahun, namun bermakna besar: semoga segala yang baik selalu menyertai. Aamiin ya rabbal alamin.

2 September 2017, tepat kali ke-23 saya beranjak usia.

Ingin sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mengapresiasi penambahan usia dengan selebrasi yang lebih bermakna—implementasi dari rasa syukur. Yea honestly, semakin kepala dua ke atas-atas—semakin tua hidup di dunia—semakin tidak berorientasi pada selebrasi gemas atau semacamnya. Orang inget aja syukur. Request surprise? Halah paling ketauan. Jadi seumur-umur, pernah dirayain ulang tahun cuma sekali pas umur 7 tahun. Attendees nya ya bocah-bocah komplek seumuran gitu lah. Tapi yang datang lebih banyak temen-temen arisan ibu kalo nggak salah. Feelin I’m not that cute to celebrate birthday with specific planner or something common like girls nowadays. Yah mungkin jiwa saya memang lawas.

Now playing: Koes Plus – Bahagia dan Derita

Awal hari, 8.00 WIB, saya berangkat dari rumah—setelah ritual tiup lilin ala-ala. Spesifikasi lokasi tujuan di hari itu masih halu sebetulnya, tempat yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Pernah sekali baca di surat kabar, banyak kegiatan sosial yang memang kerap kali menyentuh anak-anak daerah sana, karena keterbatasan ekonomi dan pengaruh buruknya lingkungan. Kawasan bernotabene “bahaya”, dalam persepsi nya masing-masing. Lalu siang itu, dengan commuter line jurusan Jakarta Kota, saya tiba di tempat tujuan.

Kampung  Jati Baru Tanah Abang, Jakarta Pusat, 11.00 WIB.

Kombinasi antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan arah Cikini – Tanah Abang – Jati Baru menjadi akses saya untuk mencapai kawasan ini. Bermula dari mencari beberapa kebutuhan di daerah Cikini, lanjut ke daerah Tanah Abang, dan berakhir ke destinasi utama, kampung Jati Baru. Ojek yang mengantar saya ke daerah itu beberapa kali bertanya perihal maksud dan kepentingan untuk mengunjungi perkampungan tujuan. Barangkali beliau tau, kawasan “bahaya” yang orang juga malas berurusan. Terlebih ketika melihat seorang “mba-mba” sendirian, membawa tas ransel besar, tidak cakap menghafal jalanan, meminta diturunkan di pinggir jalan Tanah Abang. Bapak Ojek yang perhatian, barangkali was-was, akhirnya sempat beberapa lama menunggui saya di tempat saya turun, sampai saya bilang akan dijemput teman. Beliau kembali menyela kick starter motor tuanya seraya menitipkan pesan: Hati-hati di jalan.

Jati Baru. Sirkumstansinya pekik, terbalut dengan aksen jalanan yang terdengar tempik. Jalan raya yang dipenuhi seliweran kendaraan umum; agkutan kota, bajaj sampai kopaja. Di sepanjang jalan raya menjalar pertokoan lapuk, bersela gang-gang perkampungan warga. Sopir bajaj, bapak-bapak komplek, ibu-ibu di balik gerobak dagangan, anak-anak “pembersih sampah ibukota”, turut mensituasikan hiruk pikuk jalanan. Sedang di ujung jalan terlihat sibuk seorang kenek kopaja merayu bakal calon penumpang, kemanapun tujuan akan diantar! Ibukota yang terintegrasi, mengapa sebilang arteri tipis jantung ibukota seolah terbias? Apakah karna sistem yang terlampu mature, hingga garis batas antara kesenjangan rakyatnya tak menjadi penting?

Saya menapak turun di sepanjang  trotoar sempit menuju salah satu perkampungan. Celingak-celinguk mencari objek yang kiranya bisa ditegur sapa. Selang tak lama, saya menjumpai segerombol ibu-ibu sedang asyik duduk-duduk di depan sebuah warung, menyela dengan sapaan ramah, sejenak memecah rumpian seru betawi punya. Tatapan awal yang merepresentasikan mimik tajam dalam menghadapi orang luar, hingga akhirnya mereka berbalik sapa sekenanya. Saya seraya menyampaikan maksud dan tujuan, dan seraya pula masing-masing dari mereka menghempaskan reaksi tak kalah ramah. Selamat datang, mbak Astrid.

Yap demikian. Disini saya seolah menempatkan diri sebagai seorang backpacker dengan destinasi metropolitan. Perbedaan yang sangat signifikan antara menyentuh warga desa pedalaman dan warga perkampungan di Ibukota. Pada dasarnya sama, warga Indonesia yang sama-sama ramah dan senang menyapa. Hanya saja terbalut kulit yang berbeda. Warga ibukota, pada prinsipnya selalu berhadapan dengan aksentuasi kasar di setiap ritme memperjuangkan hidup. Berujung pada bentuk penerimaan, perangai masing-masing personalia terhadap orang-orang yang meliputinya. Kembali, semua orang pada dasarnya adalah baik, hanya saja tercermin pada kapasitasnya masing-masing.

Saya membuka percakapan, disusul dengan anak-anak dari masing ibu-ibu yang kompak menghampiri saya—lebih tepatnya menyerbu saya. Anak-anak berumuran sebaya, balita, hingga bayi yang digendong sang Bapak. Mereka menyapa saya bersautan, saya balik menyapa satu persatu, menanyakan namanya masing-masing. Ada yang mencoba menyanyi, sembari geal-geol yang gerakannya sulit diidentifikasi. Sampai akhirnya semua anak ikut bernyanyi, lagu selamat ulang tahun yang pun tak berima. Haha gemas sekali! Saya mengeluarkan GoPro yang terkait di ujung stick, menghadapkan lensa ke arah saya, bocah-bocah gemas, dan ibu-ibu yang tak terkecuali. Lalu selalu menjadi momen penuh antusias ketika mereka melihat refleksi dirinya di layar handphone. Mana puas sekali jepret. Baiklah, “sekali lagi ya dek”.

Blessed :)

They are so kyot.

Dikasih pak satpam stasiun Cikini, dari Anonim. Hm.

Kurang lebih setelah satu jam, saya undur pamit. Warga perkampungan itu menyalami saya; dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, hingga bayi yang tangannya digerakkan oleh sang Bapak—supaya turut bersalaman juga. Saya pulang ke stasiun Tanah Abang dengan diantar oleh salah seorang pemuda warga perkampungan. Seperti kehangatan tersembunyi di tengah stereotype “bahaya”, setelah penyampaian tujuan yang diniatkan lillahi ta’ala.

2 September di tahun ini memang terasa berbeda. Jelas, memasuki umur baru pada stage of life setingkat lebih atas dari sebelumnya. Berbagai ucapan mengharukan yang turut menuntun saya mengucap syukur berulang kali. Teman-teman yang mengirimkan berparagraf ucapan dan doa, yang berbaik hati menyuguhkan api-api kecil di ujung lilin, buah tangan perlambang kado ulang tahun dengan kebermanfaatannya masing-masing, serta teman-teman yang memaknai sebuah “inspirasi” dari sebagian kecil diri saya; Semoga mampu menjadi pribadi yang disemogakan.

Hari itu saya tidak langsung pulang ke rumah, perihal menemui kerabat dengan tujuan acaranya masing-masing. Dan bukankah berdiam diri di rumah saat berulang tahun hukumnya makruh (?)

....Semoga panjang umur dan sehat selalu.

Saya ingat pesan Bapak yang tak pernah tertinggal: Baik menjadi orang penting, namun lebih penting menjadi orang baik. Baik yang tak butuh alasan, namun bermakna plural. Berpijak pada kuantitas umur yang lebih banyak, berpijak pula pada kualitas diri yang—seharusnya—lebih matang. Berada di umur yang bukan lagi mengikuti, namun membentuk jati diri. Yaitu untuk lebih cakap memilih mana yang salah dan yang benar. Mana yang perlu, mana yang sekiranya membuang waktu. Untuk mampu melihat kapabilitas diri, bahwa banyak hal lebih penting yang perlu dibenahi. Seperti: how to implement self positioning. How to deal with others. Ya, saya selalu menikmati seni daripada memposisikan diri dengan berbagai tingkatan manusia di hadapan saya—supaya sama rata. Pun seni berkomunikasi dengan bermacam karakter: tutur bahasa, intonasi, pola pikir, dan lainnya. Seolah perasaan “menang” ketika mampu menguasai karakter lawan bicara dengan tutur laku yang sederhana: mengalah. Seperti pesan Ibu yang pula tak pernah tertinggal: Mengalah saja, itung-itung ibadah.

Remembering the stable where  for once in our lives
Everything became a You and nothing was an
It
-On God and Other Unfinished Things

Kembali. Seperti mentari dari ufuk timur, bergeser ke ufuk barat, berlembar-lembar, menjadi minggu, menjadi tahun, membentuk dasawarsa, hingga tak terhitung lamanya. Lalu ada yang tertinggal sebagai masa lalu, ada yang kelak dihadirkan sebagai masa mendatang. Bentuk implementasi dari mengintegrasikan diri, menjadikan masa lalu dan permasalahan hidup sebagai bahan konkret pembelajaran. Atau bentuk memantaskan diri, sebagai critical operational control yang hanya mampu manusia kehendaki. Agaknya terdengar normatif. Mungkin begini implikasinya, jikalau kamu paham, menjadi pribadi lebih baik adalah produk dari proses mengilhami masa lalu sebagai bagian dari seknario kehidupan. Bukankah manusia hanya lakon reinkarnasi—yang pada akhirnya akan tetap sama—kembali pada yang menarasikan?


Selamat pagi menapak dua puluh tiga.



Best regards,
Astari, Dirgawijaya

Kamis, 20 Juli 2017

Solo Backpacker Solo - Yogya, 2017

Sebuah tulisan tentang perjalanan backpacker kemarin, Solo – Yogyakarta. Yha jadi isi dm instagram saya cukup diramaikan dengan message pertanyaan: “Kak sendiri?” “Kak kok sendirian?” “Kak backpacker kemana?” “Kak ikut…”. Kira-kira intinya seputar itu. Ya betul, backpacker sendiri. Kok sendiri? Karna lagi kepingin sendiri. Yea explain a lot. Mungkin berbagai filosofi yang sekiranya bisa menjawab pertanyaan tersebut perihal alasan solo backpacker bisa ditemukan di alinea-alinea berikutnya.

22:35 WIB, Kereta Ekonomi Mantab Premium, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Solo Jebres.
07/07/2017

Jum’at malam, sepulang dari kumpul dengan organisasi semasa kuliah di daerah Benhill, saya langsung berangkat lagi ke stasiun Pasar Senen via ojek online. Alhasil cukup agak diliatin dengan nanar malem-malem masuk cafe sembari mbopong-mbopong carrier. Memang sengaja ambil jadwal kereta paling malam karna pertimbangan jam pulang ngantor, dan supaya nyampe tujuan di pagi hari juga. Kebetulan waktu booking cuma tersisa kereta ini untuk tujuan Solo, dan tinggal tersisa 3 seat. Langsung sprint lah saya ke Indomaret.

Sampai di stasiun Pasar Senen, langsung tuker tiket di mesin cetak tiket mandiri, lanjut baris di antrian Kereta Mantab Premium. Dalam hati nyinyir, namanya harus Mantab banget?! Lalu baru tau, kepanjangan dari Madiun-Tambahan Premium. Hahaha kesel gila ternyata akronim.

Masuk di dalam kereta, saya duduk dengan mba-mba muda. Tujuannya sama, stasiun Solo Jebres. Bukan seperti kereta Ekonomi yang saya tumpangi seperti backpackeran biasanya. Yang ini lebih bagus, seatnya nggak vertical 90 derajat, toiletnya lebih luas dan “mendingan”, restorasinya juga nggak kayak moving bar selayaknya Ekonomi biasa. Hampir sepanjang malam saya menghabiskan waktu di restorasi. Pesan satu kopi hitam, duduk bersama petugas keliling dan petugas restorasi. Jadi sejujurnya, salah satu alasan saya membetahkan diri duduk disana tidak lain dan tidak bukan, karena kedinginan. Dan jaket ketinggalan…

Sampai di stasiun Solo Jebres sekitar pukul 8.00 WIB. Toilet stasiun penuh seketika dengan penumpang yang baru turun, berebut air untuk cuci muka. Saya ikut mengantri di belakang ibu-ibu yang goyang-goyang kaki—menahan pipis. Boro-boro kepikiran mandi, cuci muka pun mesti nyempil-nyempil di antara becekan westafel. Cukup merasa sedikit bersihan, saya segera memulai perjalanan saya.

Selamat datang di Solo Kota Budaya.

Pasar Gede Hardjonagoro Surakarta

Pasar Gede Hardjonagoro menjadi destinasi pertama saya. Jaraknya tdak jauh dari stasiun Solo Jebres, akhirnya saya memutuskan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit sampai tiba di depan pangkalan becak sekitar pasar. Berniat mencari sarapan, saya bertanya-tanya pada salah satu Bapak pengemudi becak perihal tempat sarapan sekitar sini. Beliau mengarahkan untuk masuk ke dalam pasar, “Iku akeh ing pasar” katanya. “Matursuwun Pak”. Kondisi dalam pasar yang ramai dan umpel-umpelan, mau tidak mau saya berjalan di antara sela-sela jalan antar dagangan yang sempit, beraroma khas pasar pada umumya: semrawut. Saya bertemu lagi dengan tiga orang ibu-ibu yang mengenakan kaos hijau muda cerah seragam bertuliskan “Soto Senggon”. Beliau menyapa saya duluan, menanyakan mbak e iki arep ngendi. Ya mungkin mereka bingung gelagat saya sepanjang jalan celingak-celinguk mencari tempat “yang katanya banyak tukang makanan” kata bapak Becak tadi. Sedang sepanjang jalan saya hanya mendapati ayam mentah dipotong fillet, sayur mentah diikat-ikat, beras ditimbang. Paling-paling beberapa kedai makanan di pojok-pojok pasar. Akhirnya ketiga ibu Soto Senggon memberi pencerahan “Kae lho sing.. iku, kui..”. “Saya cari pecel Bu”. “Pecel?” Ketiganya berdiskusi, seakan merumuskan settingan waze secara komunikata. Saya ditunjukkan sebuah tempat makan pojokan setelah beberapa lama ngobrol di sela-sela perut keroncongan. Namanya bu Lastri, bu Suminem, dan bu Muji. Perangainya lugu, dibalut dalam wajah berseri-seri dan tutur dialeknya yang ayu. Saya mengeluarkan kamera dari tas kamera saya, ketiganya serontak saling mendekat, mengarahkan pandangan ke lensa kamera, siap dijepret. Hahaha nyenengi banget. Saya tertawa, langsung mengarahkan kamera saya, mengabadikan pose ketiganya dalam beberapa kali jepretan. “Cuantik tenan Ibu, kaya umur 30 taun”. Mereka senyum-senyum gemas seketika saya perlihatkan hasil jepretan di layar kecil kamera. Perut keroncongan saya hilang seketika, barangkali jadi kenyang menelan keakraban hangat yang bisa muncul dalam waktu singkat. Saya berpamitan, berterimakasih sudah menunjukan jalan.

Bu Lastri, Bu Suminem, Bu Muji

“Bu foto sama saya juga yuk”

"Ini sih lihatnya kemana, mbakyu?"

Pecel sambel Tumpang bu Hari, Pasar Gede. Seporsi dihargai enam ribu rupiah, plus teh tawar panas 1500 rupiah, jadi 7500 rupiah… Ketika di Jakarta paling-paling hanya dapat nasi dan kobokan. Selesai mengisi perut, saya berjalan keluar pasar. Mata saya beralih ke sebuah dagangan kecil samping pintu pasar, agaknya makanan unik. Kompyang!! Makanan yang selama ini ibu saya cari di seluruh belahan dunia dan belum nemu-nemu juga. Saya beli beberapa, sembari bertanya-tanya akses ke Keraton dari sini naik apa. “Becakan wae” ujarnya. Seketika jari-jari tukang becak di sekitar saya langsung menunjuk-nunjuk angka satu yang diacung-acungkan, tanda menawarkan. Saya memilih salah satu dari mereka, Bapak pengemudi becak yang terlihat paling tua. Yha lantaran saya memang hobby dan sangat tertarik berkomunikasi dengan orang-orang  “wis umur”.

Perjalanan dari Pasar Gede menuju Keraton Surakarta ditempuh selama 10 menit bersama becak Pak Darman. Di atas becak Pak Darman saya pertama kali merasakan ayemnya kota Solo. Terpal becak sengaja saya buka untuk meluaskan pandangan. Hiruk pikuknya lembut, terbalut dalam aksentuasi tata dan laku penduduk yang apik. Ini adalah kali pertama saya ke kota Solo. Lalu lalang jalanan terasa ramah, seolah diperbatasi oleh pagar-pagar beton putih kuno Keraton punya. Saya mengedarkan pandangan, beberapa kali ngobrol dengan Pak Darman. Mungkin beliau bingung, lha iki panas-panas cewek sendirian minta nggak pake terpal, senyam-senyum lihat jalanan.

Pukul 10.45 saya tiba di Keraton Surakarta. Sebelumnya saya sudah janjian terlebih dulu dengan salah satu abdi dalem kenalan teman saya (yang kemudian dikenalkan ke saya), Pak Toto namanya. Saya menunggu beliau di pelataran Keraton, duduk di sebelah seorang nenek yang menyuapi dua orang cucunya. Saya mulai membuka percakapan. “Putrane nggih, Bu?”, “Ora, putu ku”. “Oalah, sopo jenenge?” Dua bocah laki-laki meraih tangan saya, bersalaman di tengah kesibukkan mulut menelan makanan. Saya berbincang seputar kota Solo yang panas jebret di siang itu. Delman Keraton berlalu lalang ditumpangi penumpang lokal hingga mancanegara, bolak-balik melewati gerobak es cendol khas Solo yang berjajar rapi menunggu penumpang delman turun dan segera kehausan. “Mbak nya sendirian po?” Baiklah, pertanyaan ke seribu hari ini. Kali ini saya punya jawaban lain, “Nunggu abdi dalem kenalan saya, Bu”. Fyuh, aman.. Dan siap menyiapkan jawaban template lagi untuk pertanyaan yang sama kemudian.

Okay, ini sedikit tips untuk teman-teman (terutama perempuan) yang ingin solo backpacker. Ada kalanya kita mesti pintar-pintar bohong saat menjawab pertanyaan seperti “sendirian?”. Lihat kondisi si penanya dan lokasi kita ditanya. Kalo memang terkesan creepy, jawab saja dengan tegas kalo kita bareng teman. Atau orang tua, atau siapapun yang dirasa bisa jadi perlindungan. Pintar-pintar baca kondisi, karna nggak semua lokasi untuk berpergian sendiri itu bisa dikategorikan tidak berbahaya, aman-aman saja.

Akhirnya saya bertemu Pak Toto, beliau sekalian mengajak istrinya. Kami bertiga berjalan-jalan masuk ke dalam Keraton. Mengisi tapak demi tapak dengan obrolan hangat dan ringan. Pak Toto bercerita seputar budaya Solo, sejarah Keraton, tradisi orang sini, hingga rantai silsilah keluarga kecilnya. Tanpa mesti melapor atau apapun, saya boleh langsung masuk saja ke dalam. Oh jelas, sebelah saya abdi dalem Keraton sini.

Masuk ke dalam Keraton, saya berkeliling sebentar, lalu duduk di bangku pelataran berjajar dengan Pak Toto dan Bu Istri. Dua tiga wejangan beliau sampaikan, sepaket dengan berpenggal alinea cerita hidup yang terkorelasi dengan tuntunan Jawa kental. Saya mengiyakan tiap titik ceritanya, kadang menimpali, berpendapat. Tutur katanya cakap, berpengetahuan tinggi, namun terkemas dengan rendah hati. Beliau bercerita tentang buku-buku yang sudah ditulisnya. Pantesan! Jelas saja beliau penulis. Tak beberapa lama beliau memanggil seorang abdi dalem Keraton lainnya, Pak Narso, kakak dari istri Pak Toto. Saya diajak berkeliling Keraton oleh Pak Narso, dijelaskan pelbagai macam sejarah, filosofi tiap bangunan, siapa raja, siapa ratu, Kusno kecil dan bung Karno dewasa, hingga Ibu Megawati, dan masih banyak lagi. Suaranya berat, tatapannya begitu mantap, aksentuasi gerakannya seolah menggambarkan apa yang disebut-sebut ningrat. Di akhir perbincangan, beliau memberi pesan pada saya: Kesuksesanmu akan tercapai, dengan kamu banyak mendoakan kedua orang tua. Saya tertegun, tatapannya seperti menusuk, penuh doa. Saya mengucapkan terimakasih banyak sebelum beliau mesti buru-buru menemani tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan, ingin berkeliling.

Pak Narso dan Bu Istri

Seusai berkeliling, saya diajak mampir ke rumah Pak Toto yang masih berlokasi di komplek Keraton. Rumahnya persis di belakang Keraton, sederhana namun hangat. Saya melepas sepatu, melungguh di ruang tamu. Ibu Istri keluar dengan membawa dua piring Mie Toprak untuk saya dan Pak Toto santap siang, sengaja dimasakki katanya. Wah iki mantap iki. Dengan basa-basi gombal dicampur malu-malu elegant, saya ahirnya melahap juga. Dan langsung habis. Hahaha. Jadi gitu memang, di adat tanah Jawa, ketika disuguhi makan, suatu kehormatan untuk tuan rumah jika makanannya dihabiskan. Ya kebetulan jadi enak kan..

Siang itu kami kembali bercerita, mengerucut pada politisasi Indonesia. Masing-masing dari kita memiliki pandangan, persepsi untuk berpendapat, namun tetap terbatas pada hakikat kebenaran dan ketidakbenaran adalah relatif, kadang subversif. Pernyataan-pernyataan argumentatif Pak Toto diselingi dengan kutipan dari buku-buku tebal lama yang tertata rapi di sebelahnya. Saya mendelik ke arah koleksi-koleksi buku di raknya yang berseling dengan figura foto-foto keluarga. Siang itu membuahkan sangat banyak pengalaman hidup yang ditularkan, positifitas hidup terhadap agama, negara, tanpa lupa untuk selalu melihat ke bawah. Tak lama saya pamit undur diri, bersalaman dengan Pak Toto, Bu Istri, dan anak sulungnya, mengucap banyak terimakasih. “Masih ada destinasi yang lain”. Betapa pengalaman yang sangat berharga menerima jamuan warga Keraton yang begitu menyentuh, pun bermakna.


Mie Toprak

Bersama Bu Istri dan Pak Toto

Lihat langit di atas selepas hujan reda, dan kau lihat pelangi. Seperti kau disini, hadirkan Sriwedari…

Yapp, Taman Sriwedari. Berawal dari rasa penasaran kenapa tempat ini sampai dilagukan (?) Semakin tertarik setelah tau ada pula jejeran toko buku bekas disana. Ya jadi saya memang sangat gemas dan teramat terobsesi untuk mengoleksi berbagai macam buku bekas. Ada sensasi tersendiri ketika baca buku dengan lembar kertas menguning, kadang sudah kecokelatan, atau ditulisi kotretan oleh pemiliknya yang lama. Yea just because most of times, I’m just way too… lawas. Perjalanan dari rumah Pak Toto menuju Taman Sriwedari ditempuh dengan ojek online atas referensi Pak Toto. Mau cari akses Batik Solo Trans (BST) atau Bus Tingkat Werkudara, tapi waktu saya tidak cukup banyak untuk memenuhi itinerary yang direncanakan. Saya berjalan dari gapura besar nan apik Taman Sriwedari, masuk ke dalam halaman gapura, menengok kanan kiri berharap mendapati sebidang rumput yang disebut “Taman”. Hanya ada Gedung Wayang Orang (GWO) di ujung jalanan  aspal. Barangkali sepanjang jalan ini yang dilagukan, Setapak Sriwedari.

Taman Sriwedari

Langkah saya terhenti di suatu angkringan minuman masih di dalam komplek Taman Sriwedari. Penjualnya nenek-nenek dan seorang ibu-ibu, bisa dipastikan putrinya. Seorang Bapak-bapak sudah duduk menyilangkan kaki menikmati es kopi hitam bersanding puntung rokok. Saya mendekat, duduk di sampingnya. Panas yang semakin jebret di siang itu memang terasa pas dikancani es kopi, ditambah sensasi es batu dari air mentah. “Es Good day Vanilla 1 nggih Bu”. “Gud dei.. Gud dei..”. Gumam beliau sembari terus mencari sasetan kopi instan yang saya maksud, seolah akan menyaut. Nenek Rip’ah (kalau saya tidak salah dengar), masih terlihat sehat dan tatak di umurnya. Saya mengajaknya berbincang, paralel dengan sautan Bapak penikmat kopi sebelah. Perbincangan yang tidak terlampu berkonten, namun mampu membuat siang hari saya lebih “adem”. Saya memang selalu memperkenalkan diri kepada beberapa orang yang saya temui, hingga mereka berbalik memperkenalkan diri. Biasanya orang-orang yang berinteraksi cukup larut dengan saya, atau yang baru saja saya minta bantuan, atau sebaliknya. Mungkin ini perbedaan Ibukota dan kota berjiwa desa. Warga dari keduanya pada dasarnya sama, sama-sama rakyat Indonesia yang hakikatnya ramah, sama-sama manusia yang hakikatnya adalah baik. Perbedaan hanya terletak di titik bagaimana kita membawakan diri terhadap warga di daerah tertentu. Kultur budaya, dialek bahasa, tata dan laku. Ibukota keras, lahan-lahan kosong yang semakin terkikis dengan gedung-gedung beringas, harga sandang pangan papan yang tak dirasa ramah untuk sebagian besar penghuninya, dan akhirnya termarginalkan. Jumlah penduduk semakin membludak, warga desa berurban mencari iba Ibukota. Masing-masing dari mereka tak perlu perduli nyinyiran Bu A, sikutan Pak B, sikut balik Pak T, yang penting perut saya kenyang! Tapi mungkin ada yang terlupakan, tertimbun stereotype Jakarta yang begitu kental. Di balik itu semua mereka akan tetap menjadi lakon manusia dan warga Indonesia; santun, ramah, dan berbudaya. Yang saya senangi dari kota di Jawa, tanpa perlu membawakan diri sedemikian rupa, dengan satu kali bertegur sapa mampu meruntuhkan benteng antara si tamu dan si warga.

Kepada Bapak peminum kopi sebelah dan Nenek pemilik angkringan saya undur diri. Langkah saya berlanjut menuju jejeran toko buku bekas Sriwedari. Aaaa how I love toko buku bekas!! Saya berjalan sepanjang trotoar, sesekali mengubek-ngubek buku bekas yang tertata berantakan di rak paling depan. Penjualnya beragam, dari mulai anak muda, ibu-ibu, sampai bapak-bapak tua. Sayangnya buku yang saya cari tidak ada, Catatan Pinggir tulisan Goenawan Mohammad edisi ke empat. Kalau mau lebih lengkap mesti ke Gladak katanya. Tak perlu pikirku. Berjalan di sepanjang trotoar dengan pemandangan beribu buku saja sudah menyegarkan mata.

Kios Buku Mbak Yuli, Jual/Beli Buku Baru dan Bekas

Tak hanya toko buku bekas, ada pula terapit toko komputer bekas, Tik Komputer, toko percetakan, jasa pengetikan skripsi. Menarik sekali. Toko-toko kecil yang terkesan antik dalam aksen kontemporer. Saya berhenti di salah satu toko buku dengan penjual ibu-ibu bersama tiga orang anaknya, yang pula bersebelahan dengan penjual bapak-bapak dengan tiga orang anaknya—ramai! Ke-enam anak itu memandangi saya, barangkali excited lantaran saya mengalungi si Nikon sahabat perjalanan. Saya berbalik badan, menengok ke arah mereka. Tangan saya bergerak meninggikan posisi kamera, lalu mereka serontak berpose dan saling tertawa. Pemandangan seperti ini, selalu menjadi titik saya menikmati dan mensyukuri hidup. Dalam beberapa kali jepretan, anak-anak lugu itu sudah merasa puas. Tak lama, sang ibu ikut berkumpul—menagih diabadikan pula. Haha baiklah! Saya tak mau kalah, momen mahal bersama mereka tak boleh dilewatkan dari koleksi memoar saya. “Semuanya liat kamera ya, selfie!”. Hasil jepretan lensa mata ikan saya pertontonkan ke mereka, membuat satu persatu senyum mengembang begitu sumringah. Kami duduk bersama sebentar, memperbincangkan apapun yang ingin dipertanyakan. Saya bertanya seputar akses ke Kampoeng Batik Laweyan, destinasi saya selanjutnya. Bisa jalan kaki ujarnya, tapi dua kilo… tiga kilo lah. Ah sepertinya bukan pilihan yang tepat. Di akhir perbincangan saya pamit undur diri. Mereka kembali mengembangkan senyum disertai ucapan terimakasih yang begitu hangat. Saya mencium tangan sang ibu, dilanjutkan dengan anak-anak yang balik mencium tangan saya. “Sampai ketemu lagi”. Saya tersenyum, tak kalah sumringah


Karna bahagia itu sederhana :)

Panas jebret hari itu mulai menjinak. Cahaya tipis matahari sore berpendar memantulkan bayangan tubuh perempuan yang menggendong carrier 35L dan tas kamera di pundak kanan. Destinasi selanjutnya yaitu Kampoeng Batik Laweyan. Solo memang sangat terkenal dengan batiknya. Tak heran kalau kampung batik menjadi salah satu wisata yang selalu muncul ketika kamu mengetik keyword di google “Wisata Kota Solo yang Wajib Dikunjungi”.  Kampung ini ditandai dengan palang di depan gang pinggir jalan besar. Jalan kecil sepanjang gang diperbatasi dengan tembok putih usang menuju rumah-rumah warga dan pabrik batik itu sendiri. Di sebelah kanan jalan langsung terlihat salah satu Toko Batik terkenal berikut dengan ruangan produksi yang memang diperutukkan untuk ditonton oleh pengunjung. Saya hanya masuk sebentar, melihat ibu-ibu berkain sedang membatik begitu telaten. Saya pernah belajar membatik semasa SMA, tapi kalau tidak salah cantingnya malah beleber ke baju saya sendiri.

Di sepanjang gang perkampungan berjejer rumah warga berukuran rata-rata hampir sama. Tipikal rumah dengan teras ubin sepetak, tak berpagar, namun aman-aman saja. Sore itu cerah, bocah-bocah penghuni setempat kesana kemari, ceriwis dan petakilan. Beberapa main pistol-pistolan air, lempar-lemparan batu, yang kena batu jadi si pengejar. Haha permainan macam apa! Saya menghampiri tiga orang anak bersandar di sepedanya. Agaknya sedang beristirahat mengontel. Kami berkenalan, mereka kompak menyebutkan nama bergantian. Zahra, Caca, Ardi. “Aku Astrid”. *suara melengking sok imut, pasang muka baik, biar nggak kabur*. Ya jadi teman-teman backpacker, harus pintar-pintar mengondisikan pembawaan diri, dengan siapa dan dimana kalian berbicara. Kami jadi jalan bersama, menelusuri gang pelan-pelan. Mereka menyesuaikan ontelan sepedanya supaya sepadan dengan langkah kaki saya. Bermacam cerita terlontarkan dalam bahasa Indonesia campur aduk Jawa. Bahkan anak kecilpun bertanya, “Kakak pacarnya mana?” Semacam tingkat lanjut dari pertanyaan, “Kakak sendirian?”. Lah dek, ini lagi nanyain pacar. Akhirnya saya bercerita, seputar kehidupan di Jakarta. Saya bercerita, batik buatan ibu kalian laris manis di pasar ibukota. Mereka tertawa, lalu balik menceritakan kisah membatik ibunya masing-masing. Saya bercerita, anak-anak kecil seperti mereka harus terus belajar dan berkembang, pun turut membantu ibu melestarikan budaya kota tercinta. Barangkali anak-anak di kampung ini memiliki keuntungan lebih dibanding anak-anak kota metropolitan, megapolitan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan sentuhan langsung sang ibu, dan sirkumstansi yang begitu hangat, tak terpetakkan pagar tinggi atau lift rumah susun mewah. Zahra, anak paling tua diantara ketiganya masuk ke salah satu rumah. Mengambil kertas dan alat tulis. Sedang saya beralih mengobrol dengan salah satu petugas toko batik, menanyakan kembali akses untuk kesana-kesini. Sore itu pukul 4.00, saya bergegas pergi ke destinasi selanjutnya. Zahra, Caca, dan Ardi sudah berdiri di samping saya, ketiganya saling lihat-lihatan, malu-malu. Caca, anak berusia tengah-tengah diantara ketiganya memberikan sebuah lipatan kertas menyerupai surat. Saya bergegas membuka dan serontak dihadang oleh ketiganya. Rahasia!! Haha baiklah. Khawatir mereka semakin malu-malu, secarik lipatan kertas itu segera saya masukkan ke dalam kantong jeans saya. Kami berpamitan setelah saya meminta foto bersama. Anak-anak kecil yang selalu antusias ketika saya keluarkan kamera dan mengiming-iming foto bersama, lalu biasanya ketagihan. Zahra, Caca, dan Ardi, membuat sore itu begitu berkesan. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan :)

Sepeda Sore

Ardi, Caca, Astrid, dan Zahra

Singkat, namun mengharukan… :”)

:")

Destinasi terakhir perjalanan saya di kota Solo yaitu desa Sukoharjo. Desa, seperti tempat untuk saya merasakan pulang, melepas penat sejenak dari hiruk pikuk metropolitan yang begitu sesak. Saya kembali memanfaatkan kepraktisan ojek online untuk mencapai lokasi. Jaraknya kurang lebih 7 kilo dari kampung Laweyan. Tidak sedikitpun terasa jauh ketika kanan kiri jalan disuguhi pemandangan sawah hijau berhias petani yang sedang mengurus bajakan. Desa Sukoharjo mayoritas dibentangi oleh persawahan, perkebunan, dan rumah-rumah warga melipir di sepanjang jalan kecil bertanah yang membelah sawah-sawah.

Tidak banyak  tempat yang saya kunjungi di desa ini, menimbang ketika itu kaki saya sudah cukup pegal untuk terus berjalan. Sebagian besar waktu saya habiskan duduk-duduk di pembatas pinggir sawah, cukup dekat dengan lahan yang sedang dibajak. Saya menyapa bapak petani dari jauh, lantaran mesti copot sepatu kalau mau mendekat. Bapak petani balik menyapa, melambaikan tangan, supaya manuvernya lebih terlihat. Sore itu cerah, seolah mentransfer tenaga surya ke tiap-tiap sumsum tulang petani yang berpeluh mengendarai kerbau pembajak. Saya meraih buku bacaan sepekan terakhir, kumpulan esai karya Cak Nun. Bacaan bagus yang penuh konsiderasi cerdas. Terbitan lama, namun masih relevan hingga kini. “Indonesia Bagian dari Desa Saya”. Terasa sedemikian pas dengan patio seating alami tempat saya duduk dan membaca.

Senja, alam, buku, berlatar Scott McKenzie. Semoga hari yang baik juga selalu menyertaimu dirimu.

Pukul lima petang saya bergegas pulang. Pulang dalam arti kembali ke tempat saya akan bermalam, kota Yogyakarta. Rencana backpacker kali ini memang mencakup dua kota, dan kebetulan dapat tiket pulang dari Stasiun Lempuyangan, tidak ada lagi. Saya menuju stasiun Purwosari, mengejar kereta Prameks tujuan Solo – Yogya yang sialnya sudah kehabisan. Hanya tersisa kereta Jaka Tingkir untuk tujuan Yogyakarta, lima kali lipat harganya. Apa boleh buat. Daripada saya mesti ngeteng di malam hari. Sore itu begitu cerah, memberikan nuansa lebih menarik pada jalanan depan stasiun Purwosari. Becak-becak terparkir, ditunggui oleh masing-masing pengemudinya yang tertidur di jok terlapis kain merah, kuning, atau bersarung spanduk partai. Sirkumstansi syahdu yang membuat saya meluangkan waktu sejenak untuk bersender di tembok pagar stasiun, sembari menyapa Bapak Tukang Becak yang tidak sedang tidur. Gaung nada dering bel stasiun berbunyi, Kereta Jaka Tingkir yang saya tumpangi telah terparkir di jalur 3, siap dimuati.

Stasiun Purwosari, Solo

Sugeng Rawuh Ing Ngayogyakarta.

Pukul 19.00 saya tiba di stasiun Lempuyangan. Perjalanan Solo – Yogya via kereta ditempuh kurang lebih satu jam. Satu jam yang saya manfaatkan untuk tidur dan selonjoran. Sebetulnya nggak ada destinasi khusus di Yogya, hanya ingin bersantai menikmati malam hari bersama kopi malam di keramaian. Yapp, Kopi Joss! Kali kedua saya nangkring disini dan memesan Kopi Joss panas. Kopi hitam yang dimasukkan arang. Boleh juga ditambah es, jadi Es Kopi Joss. Cita rasa khas kopi angkringan Yogyakarta, tanpa perduli efek samping daripada menelan kandungan arang yang entah apa saja.

Saya duduk di bangku tepat depan sang penjual, menimbang saya hanya sendirian. Asik sekali kalau banyakan, tersedia tempat duduk lesehan dengan tiker-tiker yang membentang. Sebelah saya duduk seorang Ibu dengan anak perempuannya. Gemuk, putih, berambut lurus tebal. Gerakannya hanya seputar menggigit sate, sesekali minta difoto seketika saya sedang membenarkan kuncir rambut dengan kamera depan. Rasanya saya hendak mencari kantong kresek besar, ingin mbungkus bawa pulang

Tak afdol rasanya kalau tidak menyempatkan malam minggu di Malioboro. Ramai sesak dengan pelancong dari berbagai kota, bahkan negara. Saya berjalan menelusuri sepanjang trotoar, kadang terhenti saking penuhnya. Malam itu saya menyeringai, Yogyakarta, mengapa rupamu menyerupai Jakarta? Sangat disayangkan!

Puas sudah seharian berjalan, saya memutuskan segera menuju tempat penginapan. Kalau di internet si pemilik menklaim jaraknya hanya 400 meter dari pusat keramaian Malioboro. Hotel Grand Inna?! Bukan. Sebuah rumah backpacker yang memang diperuntukkan untuk para backpacker yang tidak berbudget besar. Permalam hanya 57ribu. Hahaha bayangkan! Satu kamar berisi empat orang, dengan kasur model susun sehingga tidak membutuhkan lahan besar. Kamar mandi terpisah dari kamar, satu untuk bersama. Kamarnya bersih, banyak stopkontak, cukup semriwing dari silir semilir kipas angin yang diset berputar. Satu orang penginap disediakan satu selimut dan handuk, gratis isi ulang aqua dan cemilan kuping gajah yang sengaja dipajang didepan kamar. Lokasi penginapan berada di pinggir sungai perkampungan samping Malioboro. Jadi ini yang di claim “hanya berjarak 400 m dari pusat keramaian”. Ya memang Malioboro, hanya saja turun sedikit. Pemilik penginapan seorang Bapak-bapak warga setempat, tinggal persis di depan rumah backpacker tersebut. Bapaknya ramah, menyambut kedatangan saya dengan hangat dan segera menjelaskan letak kamar, kamar mandi, hingga “SOP” menginap disini. Saya kebagian di kasur tingkat dua. Hanya ada nama saya yang tercatat di daftar penginap depan pintu. Saya meluruskan kaki, memijat kaki kanan berkali-kali. Sakit banget!! Khawatir ditempeli “sesuatu” sepeninggal dari Keraton, saya langsung buru-buru mandi, berdoa, dan tidur. Suatu benefit besar dalam hidup saya, bisa tidur dimanapun, dengan nyenyak, hanya dalam hitungan detik. Hahahaha the perks of being pelor lebih tepatnya.

Rumah Backpacker Yogyakarta

Pagi hari di Yogyakarta yang selalu dirindukan. 
Bangun di pagi itu dan mendapati kamar saya sudah penuh dengan tiga cewek backpacker lainnya. Bagaimana mereka bisa masuk pikirku. Sedang semalam kamar sudah terkunci dengan posisi kunci tergantung di grendel pintu. Barangkali saking pingsannya semalam, suara berisikpun tidak ada pengaruhnya. Saya segera mandi, menata ulang bawaan dalam carrier, lalu berangkat. Belum sempat berpamitan dengan teman sekamar lainnya, lantaran ketiganya masih terlelap semua. Saya duduk di undakan teras rumah yang berhadapan dengan rumah warga sembari memakai sepatu. Di hadapan saya duduk seorang Ibu paruh baya sedang menanak nasi di atas tungku, berjejer dengan suaminya yang sedari tadi mengipasi arang. Selamat pagi, Bu, Pak. Saya menyapa. Membuka obrolan sedikit perihal sarapan dekat sini, berlanjut pada tujuan destinasi saya selanjutnya. Tidak lama saya segera berpamitan, hendak mencari sarapan, dan mengejar kereta pulang.

Sugeng Enjang, Bu.

Kereta Ekonomi Mataram Premium, Stasiun Lempuyangan – Stasiun Pasar Senen, mengantarkan saya kembali di pagi itu.

Perjalanan dekat dan singkat yang memberi kesan dan makna tersendiri untuk saya. Tak ada tujuan khusus selain ingin berjalan dan bertemu banyak orang. Bukan perihal solo backpacker atau beramai-ramai, namun value dari perjalanan itu sendiri. Impresi yang ditinggalkan di setiap langkah dan momen dengan orang-orang yang dilewati. Sesenang itu ketika eksistensimu mampu memberikan semburat senyum bagi orang lain dengan cara sederhana, tanpa perlu waktu lama. Ketika eksistensimu mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang lain, pun sebaliknya. Melewati garis batas zona nyaman diri yang ternyata mampu menciptakan zona nyaman lainnya, bahkan lebih substansial. Bukankah pengalaman hidup, tak perlu perduli darimana mereka berasal?

Jumpa lagi di perjalanan selanjutnya.



Happiest traveler,
Astrid A. Dirgawijaya.